Lompat ke konten utama

Kata Papua

Penyelenggaraan Pemilu 2024 Tetap Sesuai dengan Jadwal - Kata Papua

Penyelenggaraan Pemilu 2024 Tetap Sesuai dengan Jadwal

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Tyas Permata Wiyana

Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 tetap akan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Hal tersebut lantaran sejauh ini masih belum ada komunikasi yang terjadi diantara partai politik di parlemen mengenai wacana penundaan pemilu. Terlebih, proses Pemilu sendiri merupakan puncak pesta demokrasi dimana masyarakat mampu menggunakan hak mereka dalam menentukan pemimpin.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Pemerintah dan juga pihak penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) telah sepakat bahwa penyelenggaraan pemungutan suara Pemilu dalam rangka pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI, Anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota hingga Anggota DPD Ri akan dilaksanakan pada haru Rabu, tanggal 14 Februari 2024 mendatang.

Kesepakatan tersebut telah diambil dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengan Pendapat terkait Penetapan Jadwal Pemilu Serentak 2024 yang digelar langsung di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta pada Senin, 24 Januari 2022 lalu.

Terkait hal tersebut, Ketua Komisi II DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Tandjung menambahkan bahwa pemungutan suara serentak nasional dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota akan dilaksanakan pada 27 November 2024 mendatang.

Dirinya juga menyatakan bahwa tentang tahapan, program dan juga jadwal penyelenggaraan pemilihan umum pada tahun 2024 akan ditetapkan setelah dilaksanakannya pendalaman lebih lanjut oleh DPR RI, pemerintah dan penyelenggara Pemilu.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri RI), Tito Karnavian mengungkapkan bahwa kesepakatan Pemilu 2024 pada 14 Februari itu memberikan ruang terkait penyelenggaraan pemungutan suara Pemilu dengan Pilkada serentak 2024 yang dilakukan pada November.
Dengan adanya ketentuan tersebut, Pemerintah berharap bahwa penetapan jadwal Pemilu diambil berdasarkan prinsip efisiensi di tengah situasi dan upaya untuk melakukan pemulihan ekonomi dan kondisi keuangan negara, baik itu pada level pusat maupun pada pemerintah daerah.
Berkaca dari bagaimana kesuksesan pengalaman Pilkada Serentak yang dilakukan pada tahun 2020 lalu, Mendagri kemudian mengimbau kepada seluruh pihak untuk bisa mengambil pelajaran positif yang memang bisa diterapkan kembali pada ajang Pemilu dan Pilkada di 2024 mendatang. Kemudian sebaliknya, untuk pengalaman yang kurang bagus seperti panjangnya masa kampanye yang mengakibatkan keterbelahan masyarakat memang harus dikelola.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya Pemilihan Umum (Pemilu) ini menjadi puncak dari hallmark of democracy, yang mana menurut Tito Karnavian adalah puncak terpenting dari demokrasi terjadi tatkala adanya momentum setiap warga negara menggunakan hak demokrasi yang mereka miliki untuk bisa memilih siapa pemimpin Indonesia selanjutnya.
Maka memang menjadi suatu komitmen kuat pula bagi pemerintah saat ini untuk bisa benar-benar mempersiapkan penyelenggaraan Pemilu 2024 dengan baik, dengan melakukan pengelolaan dan mengantisipasi apabila terjadi perbedaan yang bisa memunculkan potensi konflik agar tertanggulangi.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani mengungkapkan bahwa saat ini masih saja ada beberapa kelompok masyarakat yang seolah terus berusaha menunda pemilihan umum (Pemilu) 2024. Dirinya menyoroti bahwa masih ada sekelompok masyarakat yang menurutnya masih belum antusias atas pelaksanaan Pemilu.
Namun, justru menurutnya, apabila memang terjadi usul akan penundaan Pemilu, maka secara otomatis berkaitan pula dengan perpanjangan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden, termasuk juga perpanjangan masa jabatan akan dialami oleh anggota DPR, DPD dan DPRD.
Meski mengaku bahwa terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki wacana untuk menunda Pemilu 2024, namun Arsul Sani menjelaskan bahwa dalam konteks partai politik sendiri, menurutnya sama sekali tidak ada komunikasi antar partai mengenai penundaan Pemilu tersebut.
Dengan tidak adanya komunikasi yang terjadi antar partai politik, aka sebenarnya partai-partai politik sendiri sejauh ini masih bekerja pada sumsi bahwa Pemilu tetap akan terlaksana sesuai dengan jadwal awal yang telah disepakati, yakni pencoblosan akan dilakukan pada tanggal 14 Februari 2024.
Komunikasi yang terjadi antar partai politik ini sendiri merupakan hal yang penting untuk dilakukan sebelumnya, jika memang terjadi wacana penundaan Pemilu. Pasalnya, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI), Bambang Soesatyo menyebutkan bahwa memang usul akan adanya penundaan Pemilu 2024 sepenuhnya menjadi kewenangan partai. Sehingga seluruhnya memang tergantung pada bagaimana keputusan partai politik di parlemen.
Ketika masih belum ada komunikasi yang terjadi antara partai politik dalam membahas mengenai wacana penundaan Pemilu 2024, maka meski sejumlah kelompok masyarakat ada yang menghendaki wacana tersebut, maka hal itu tidak mungkin akan terjadi. Sehingga penyelenggaraan pesta demokrasi di Indonesia pada tahun 2024 akan tetap sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.

)* Penulis adalah Persada Institute

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts