Lompat ke konten utama

Kata Papua

Masyarakat Mengapresiasi Keketuaan Indonesia di ASEAN - Kata Papua

Masyarakat Mengapresiasi Keketuaan Indonesia di ASEAN

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Dwi Cahya Alfarizi

Indonesia menjadi Ketua ASEAN tahun 2023. Jabatan ini diapresiasi oleh masyarakat yang diharapkan bisa memajukan ekonomi, baik di kawasan Association of South East Asia Nation (ASEAN) maupun di seluruh Indonesia.

ASEAN adalah persatuan ekonomi dan politik dari 10 negara di Asia Tenggara yang didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Thailand. Indonesia termasuk anggota ASEAN yang aktif, selain Malaysia, Philipina, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Laos, Singapura, dan Timor Leste.

Indonesia menjadi Ketua ASEAN tahun 2023. Peresmian ini ditandai dengan acara kick off serta pemukulan alat musik rebana oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu pagi, 29 Januari 2023.

Dari Istana Merdeka, Presiden Jokowi datang dengan mengayuh sepeda bambu ke Jalan Sudirman. Beliau turun dan berjalan kaki ke lokasi acara bersama sejumlah duta besar dan perwakilan tetap negara-negara sahabat.
Presiden Jokowi menyampaikan optimisme bahwa ASEAN akan tetap relevan serta menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang penting di kawasan. Presiden Jokowi menyatakan bahwa ASEAN masih penting dan relevan bagi rakyat, bagi kawasan, dan bagi dunia.
Masyarakat mengapresiasi pemerintahan Presiden Jokowi yang berhasil membuat Indonesia jadi Ketua ASEAN. Diharapkan dengan posisi ini maka akan memajukan ekonomi, yang tidak hanya di kawasan ASEAN tetapi juga di seluruh Indonesia.
Saat ini perekonomian Indonesia dalam situasi pemulihan setelah pandemi selama 3 tahun dan pemerintah juga berjuang untuk tidak terjebak dalam ancaman resesi global. Dengan menjadi Ketua ASEAN maka posisi Indonesia sangat strategis karena dipermudah dalam bekerja sama dengan negara anggota ASEAN lain dalam hal ekonomi.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa tema dari ASEAN 2023 adalah “ASEAN Matters: Epicentrum of Growth”. Tema ini terdiri dari dua elemen besar yaitu ASEAN Matters dan Epicentrum of Growth. ASEAN sebagai pusat pertumbuhan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN selalu bertumbuh lebih tinggi dibandingkan negara lain di luar ASEAN.
Menteri Retno melanjutkan, jika melihat sejarah ASEAN itu selalu terkait dengan masalah ekonomi dan hampir semua waktu itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN selalu lebih tinggi dari dunia. Untuk proyeksi 2023 misalnya proyeksi pertumbuhan ASEAN oleh ADB itu 4,7%, sementara oleh World Bank proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi dunia adalah 1,7%.
Ada berbagai cara dalam memperkuat pertumbuhan negara, salah satunya dengan memperkuat bidang kesehatan. Selain itu Menlu Retno juga mengatakan pengembangan akan dilakukan di bidang energi, pangan, dan penguatan untuk kerja sama keuangan. Indo-Pasifik merupakan kawasan yang sangat strategis. Dengan begitu, pihaknya ingin melakukan pendekatan dari aspek keamanan, ekonomi, dan juga pembangunan.
Menlu Retno melanjutkan, oleh karena itu, selama Keketuaan Indonesia, flagship event akan ada ASEAN Indo-Pacific Forum. Di dalam ASEAN Indo-pacific Forum itu akan ada empat kegiatan utama. Satu terkait creative economy, yang kedua digital economy for SDGs untuk sustainable development goals, yang ketiga adalah business and investment summit, dan yang keempat adalah infrastruktur.
Sebagai Ketua ASEAN posisi Indonesia sangat strategis dan tugas-tugasnya antara lain: memimpin konferensi tingkat tinggi atau KTT, Dewan Koordinasi, tiga Dewan Komunitas, Badan Kementerian Sektoral terkait dan pejabat senior, dan Komite Perwakilan Tetap. Ketua ASEAN yang menjabat wajib secara aktif mempromosikan dan meningkatkan kepentingan dan kesejahteraan anggota.
Masyarakat berharap dengan menjadi Ketua ASEAN maka ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi. Apalagi bagi rakyat yang keadaan finansialnya menurun selama pandemi. Dengan menjadi Ketua ASEAN maka pemerintah Indonesia akan menambah kerja sama dengan negara-negara ASEAN, terutama di bidang ekonomi, dan memakmurkan rakyatnya.
Indonesia bertekad mengarahkan kerja sama ASEAN tahun 2023 untuk melanjutkan dan memperkuat relevansi ASEAN dalam merespon tantangan kawasan dan global, serta memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, untuk kemakmuran rakyat di Asia Tenggara.
Diharapkan dengan kerja sama ini maka keadaan ekonomi Indonesia akan membaik. Selain itu, para pengusaha dari Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain akan lebih perhatian ke Indonesia. Mereka akan menyuntikkan dana investasi karena melihat besarnya peluang penanaman modal di negeri ini.
Dengan investasi maka akan mengurangi pengangguran dan mengatasi masalah ekonomi rakyat Indonesia. Penyebabnya karena dana investasi akan dirupakan pabrik dan usaha-usaha lain, sehingga masyarakat bisa melamar kerja. Mereka akan mendapatkan pendapatan tetap dan perekonomiannya stabil kembali.
Masyarakat mengapresiasi Indonesia jadi Ketua ASEAN, karena akan berdampak positif bagi perekonomian negara. Akan ada lebih banyak kerja sama dan investasi dari negara-negara anggota ASEAN yang lain. Kondisi finansial negara dan rakyatnya akan tumbuh lagi, bahkan lebih baik daripada masa sebelum pandemi.

)* Penulis adalah kontributor Persada Institute

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

Oleh: Bara Winatha Peningkatan kontribusi hilirisasi terhadap investasi dan ekspor membuka peluang strategis bagi penguatan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global. Melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperbesar penerimaan devisa. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari pertumbuhan investasi semata, melainkan juga dari kemampuan membangun industri yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen pada triwulan III 2026, meningkat dari 26 persen pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan pengolahan dalam struktur investasi nasional sekaligus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah. Menurut Rosan, investasi perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Dalam pelaksanaannya, keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan industri lanjutan harus dijaga agar ekspansi produksi disertai peningkatan kualitas manufaktur. Prospek hilirisasi juga tercermin dalam proyeksi ekspor yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar US$34,5 miliar. Pertumbuhan diperkirakan terutama berasal dari pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis hilirisasi Indonesia mulai meluas. Septian memperkirakan ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar pada 2026, lebih dari dua kali lipat nilai 2024 sebesar US$3,5 miliar. Peningkatan kapasitas produksi dan rencana investasi fasilitas peleburan aluminium atau smelter menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor ini. Di sisi lain, industri baterai menawarkan peluang untuk memperkuat penguasaan teknologi. Indonesia mulai mengembangkan produksi komponen kendaraan listrik, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan industri dapat ditempuh melalui kemampuan pengolahan, integrasi rantai pasok, dan kerja sama teknologi, bukan semata kepemilikan bahan mentah. Peluang tersebut didukung sejumlah proyek investasi. Pada 2026, sebanyak 19 proyek hilirisasi yang diinisiasi Danantara telah memasuki tahap peletakan batu pertama. Enam proyek tahap awal, dengan nilai sekitar US$7 miliar, mulai dibangun pada Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek tahap kedua dengan perkiraan investasi Rp116 triliun menyusul pada akhir April 2026. Investasi swasta turut didorong, termasuk pengembangan industri berbasis nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park pada Oktober 2026. Penguatan industri nasional juga membutuhkan pemerataan manfaat ekonomi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menekankan pentingnya keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi daerah dalam kegiatan berbasis sumber daya alam. Pemerintah mendorong kesempatan memperoleh izin pertambangan, legalisasi sumur minyak rakyat, prioritas bagi kontraktor lokal, dan penataan kuota produksi batu bara melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain akses usaha, kepastian regulasi menjadi unsur penting untuk menjaga kepercayaan investor. Pemerintah mengintegrasikan sistem perizinan yang melibatkan 28 kementerian dan badan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Mekanisme fiktif positif memungkinkan persetujuan diterbitkan melalui kewenangan BKPM apabila instansi terkait tidak menyelesaikan proses dalam batas waktu yang ditetapkan. Koordinasi pengurusan izin tinggal terbatas bagi tenaga kerja asing juga diperkuat guna memberikan kepastian proses. Meski demikian, pertumbuhan hilirisasi tetap memerlukan pengawasan terhadap dampak lingkungan, efisiensi energi, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan tenaga kerja terampil. Pengembangan industri pengolahan perlu diiringi peningkatan kapasitas pemasok lokal, pendidikan vokasi, penelitian, serta transfer teknologi agar manfaat investasi tidak terkonsentrasi pada kegiatan produksi tertentu. Keterkaitan antara perusahaan besar dan pelaku usaha daerah juga perlu diperluas untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih tangguh. Dalam rangka persaingan global, diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah penting. Ketergantungan pada sedikit negara tujuan atau komoditas dapat meningkatkan kerentanan ketika harga berubah. Karena itu, strategi hilirisasi perlu memperhatikan permintaan pasar, sertifikasi produk, standar lingkungan, dan kemampuan inovasi. Dengan pendekatan tersebut, industri tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga memperkuat daya tawar serta ketahanan menghadapi perubahan dunia. Dengan demikian, peningkatan kontribusi hilirisasi dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi industri nasional. Proyeksi ekspor yang meningkat, bertambahnya proyek investasi, dan berkembangnya industri baterai memperlihatkan peluang Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok dunia. Agar peluang tersebut menghasilkan manfaat jangka panjang, pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan investasi berjalan seiring dengan penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan kemampuan teknologi, keterlibatan UMKM, serta penerapan standar keberlanjutan. Keberhasilan hilirisasi pada akhirnya ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang dinikmati perekonomian dan masyarakat Indonesia secara luas. *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.