Lompat ke konten utama

Kata Papua

Persatuan Dan Kesinambungan Program Pembangunan Presiden Jokowi Gerbang Sukses Wujudkan Indonesia Emas 2045 - Kata Papua

Persatuan Dan Kesinambungan Program Pembangunan Presiden Jokowi Gerbang Sukses Wujudkan Indonesia Emas 2045

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemilu 2024 harus mampu melahirkan pemimpin nasional yang dapat mewujudkan program berkesinambungan sebagai salah satu kunci terwujudnya Indonesia Emas 2045. Konsep pemikiran tersebut dibahas dalam webinar nasional Moya Institute bertajuk “Proklamasi: Peluang dan Tantangan Pemimpin Menyongsong Indonesia Emas 2045” pada Jumat, (25/8).

Imron Cotan sebagai pemerhati isu-isu strategis dan global, hadir menjadi narasumber dalam webinar tersebut dan membahas pentingnya persatuan dan kesatuan di tengah tantangan global dan domestik yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pemimpin ideal hasil Kontestasi 2024, sebutnya adalah pemimpin yang mampu mempersatukan.

“Pilpres menjadi momentum krusial dalam menentukan arah Indonesia di dua dekade mendatang. Pemilih harus mempertimbangkan calon yang tidak hanya memiliki visi internasional yang jelas, tetapi juga komitmen kuat untuk memajukan kepentingan domestik,” kata Imron.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk China juga menyampaikan bahwa Pilpres 2024 menjadi kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap persatuan dan kesatuan nasional.

Oleh karena itu, Pemimpin yang terpilih pada Pemilu 2024 harus mampu membangun jembatan komunikasi antara berbagai kelompok masyarakat, memastikan bahwa setiap suara didengar, dan dalam mengambil keputusan mempertimbangkan kepentingan bersama.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Hikmahanto Juwana, berharap siapapun yang memegang tampuk kepemimpinan nasional selanjutnya harus mampu menggelorakan semangat dan cara pandang bahwa Indonesia dapat menjadi negara super power.

“Indonesia Emas 2045” menjadi sasaran besar yang ingin diwujudkan menuju seratus tahun Republik ini. Siapapun yang memegang tampuk kepemimpinan nasional selanjutnya harus mampu menggelorakan semangat dan cara pandang bahwa Indonesia dapat menjadi negara super power. “Guna mencapai keinginan tersebut, maka siapa saja calon presiden yang telah ditetapkan oleh KPU perlu memiliki komitmen untuk menolak intervensi luar negeri yang berupaya mengendalikan kita,” ujarnya.

Sementara itu Politikus reformasi, Fahri Hamzah, menekankan bahwa pemimpin yang akan datang seharusnya meneruskan program pembangunan Presiden Jokowi, sehingga terjadi kesinambungan.Termasuk program pembangunan IKN. Ia juga berpendapat bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam perjalanan menuju cita-cita yang dituliskan oleh para pendiri bangsa dalam Pembukaan UUD 1945. Salah satu dari empat tujuan itu menempatkan Indonesia dalam perspektif internasional.

“Negara ini dirancang untuk menjadi pemain global. Terbukti beberapa saat setelah Proklamasi, Indonesia menjadi pemain global dengan menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika yang menginspirasi bangsa-bangsa di dunia. Jangan lupa, salah satu tujuan bangsa ini bersifat global, yaitu melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” ujar Fahri.

Webinar tersebut ditutup dengan kesimpulan dari Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto yang menyampaikan bahwa Indonesia memang harus mampu untuk melahirkan sosok pemimpin nasional yang berkualitas serta unggul dalam setiap era pemerintahan.

“Modal kuat yang harus dimiliki oleh para pemimpin masa depan adalah kemampuan untuk menciptakan, menjaga, dan memupuk persatuan serta kesatuan bangsa,” kata Hery.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

Oleh: Bara Winatha Peningkatan kontribusi hilirisasi terhadap investasi dan ekspor membuka peluang strategis bagi penguatan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global. Melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperbesar penerimaan devisa. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari pertumbuhan investasi semata, melainkan juga dari kemampuan membangun industri yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen pada triwulan III 2026, meningkat dari 26 persen pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan pengolahan dalam struktur investasi nasional sekaligus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah. Menurut Rosan, investasi perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Dalam pelaksanaannya, keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan industri lanjutan harus dijaga agar ekspansi produksi disertai peningkatan kualitas manufaktur. Prospek hilirisasi juga tercermin dalam proyeksi ekspor yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar US$34,5 miliar. Pertumbuhan diperkirakan terutama berasal dari pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis hilirisasi Indonesia mulai meluas. Septian memperkirakan ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar pada 2026, lebih dari dua kali lipat nilai 2024 sebesar US$3,5 miliar. Peningkatan kapasitas produksi dan rencana investasi fasilitas peleburan aluminium atau smelter menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor ini. Di sisi lain, industri baterai menawarkan peluang untuk memperkuat penguasaan teknologi. Indonesia mulai mengembangkan produksi komponen kendaraan listrik, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan industri dapat ditempuh melalui kemampuan pengolahan, integrasi rantai pasok, dan kerja sama teknologi, bukan semata kepemilikan bahan mentah. Peluang tersebut didukung sejumlah proyek investasi. Pada 2026, sebanyak 19 proyek hilirisasi yang diinisiasi Danantara telah memasuki tahap peletakan batu pertama. Enam proyek tahap awal, dengan nilai sekitar US$7 miliar, mulai dibangun pada Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek tahap kedua dengan perkiraan investasi Rp116 triliun menyusul pada akhir April 2026. Investasi swasta turut didorong, termasuk pengembangan industri berbasis nikel di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park pada Oktober 2026. Penguatan industri nasional juga membutuhkan pemerataan manfaat ekonomi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menekankan pentingnya keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi daerah dalam kegiatan berbasis sumber daya alam. Pemerintah mendorong kesempatan memperoleh izin pertambangan, legalisasi sumur minyak rakyat, prioritas bagi kontraktor lokal, dan penataan kuota produksi batu bara melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Selain akses usaha, kepastian regulasi menjadi unsur penting untuk menjaga kepercayaan investor. Pemerintah mengintegrasikan sistem perizinan yang melibatkan 28 kementerian dan badan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025. Mekanisme fiktif positif memungkinkan persetujuan diterbitkan melalui kewenangan BKPM apabila instansi terkait tidak menyelesaikan proses dalam batas waktu yang ditetapkan. Koordinasi pengurusan izin tinggal terbatas bagi tenaga kerja asing juga diperkuat guna memberikan kepastian proses. Meski demikian, pertumbuhan hilirisasi tetap memerlukan pengawasan terhadap dampak lingkungan, efisiensi energi, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan tenaga kerja terampil. Pengembangan industri pengolahan perlu diiringi peningkatan kapasitas pemasok lokal, pendidikan vokasi, penelitian, serta transfer teknologi agar manfaat investasi tidak terkonsentrasi pada kegiatan produksi tertentu. Keterkaitan antara perusahaan besar dan pelaku usaha daerah juga perlu diperluas untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih tangguh. Dalam rangka persaingan global, diversifikasi pasar ekspor menjadi langkah penting. Ketergantungan pada sedikit negara tujuan atau komoditas dapat meningkatkan kerentanan ketika harga berubah. Karena itu, strategi hilirisasi perlu memperhatikan permintaan pasar, sertifikasi produk, standar lingkungan, dan kemampuan inovasi. Dengan pendekatan tersebut, industri tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga memperkuat daya tawar serta ketahanan menghadapi perubahan dunia. Dengan demikian, peningkatan kontribusi hilirisasi dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi industri nasional. Proyeksi ekspor yang meningkat, bertambahnya proyek investasi, dan berkembangnya industri baterai memperlihatkan peluang Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok dunia. Agar peluang tersebut menghasilkan manfaat jangka panjang, pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan investasi berjalan seiring dengan penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan kemampuan teknologi, keterlibatan UMKM, serta penerapan standar keberlanjutan. Keberhasilan hilirisasi pada akhirnya ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang dinikmati perekonomian dan masyarakat Indonesia secara luas. *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.