Lompat ke konten utama

Kata Papua

Bali Siap Jadi Tuan Rumah Konferensi Tingkat Tinggi Pertama AIS Forum - Kata Papua

Bali Siap Jadi Tuan Rumah Konferensi Tingkat Tinggi Pertama AIS Forum

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Bali – Indonesia dipercaya untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi/KTT (High Level Meeting) Archipelagic and Island States (AIS) Forum 2023, untuk pertama kalinya digelar setelah direncanakan selama tujuh tahun sebelumnya.

“Indonesia dilihat memiliki banyak best practices, kita tidak mau menyimpan hanya untuk kebutuhan sendiri, tapi kita ingin membuat gerakan global dimana solusi atas permasalahan negara pulau dan kepulauan bisa kita gerakan dari penjuru dunia. Harapannya, gerakan ini jadi lebih masif dan akhirnya negara pulau dan kepulauan dapat menghadapi tantangan bersama-sama,” jelas Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan Kemenko Marves, Sora Lokita.

Dia juga mengingatkan kembali tujuan pembentukan ASEAN pada 56 tahun silam, yakni mewujudkan kawasan damai dan sejahtera.

Terkait tujuan atas diselenggarakan KTT AIS Forum, dijelaskan bahwa KTT AIS Forum merupakan ide dan inovasi yang digerakan oleh Indonesia.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong menuturkan, pada awalnya ide KTT AIS Forum diinisiasikan pada 2017 dengan dasar tantangan yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan. Tidak hanya permasalahan perubahan iklim, pengembangan potensi ekonomi biru, namun permasalahan konektivitas, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan pencemaran laut.

“Dengan adanya forum itu, diharapkan kepala negara pulau dan kepulauan akan hadir dan sampai saat ini sudah ada 30 pejabat negara yang sudah konfirmasi akan menghadiri KTT AIS Forum,” jelas Usman Kansong.

Sementara itu, Project Coordinator Sekretariat AIS Forum, Riny Modaso mengatakan, pelaksanaan KTT ini nantinya akan menjadi platform yang strategis untuk memperkuat program konkrit AIS Forum di berbagai bidang di seluruh negara pulau dan negara kepulauan.

“AIS Forum terus berdedikasi untuk memfasilitasi kerja sama dan inovasi antar negara pulau dan kepulauan, dengan kegiatan mendatang yaitu KTT Pertama di Bali, yang akan menandai momen bersejarah dalam perjalanannya sebagai sebuah forum global,” ujar Riny.

Pada kesempatan berbeda, Jodi Mahardi selaku Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kemenko Marves juga menekankan tentang perlunya negara-negara AIS menguatkan komitmen dan solidaritas dalam menghadapi tantangan bersama.

(*

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerintah Optimalkan Mitigasi Bencana, Perkuat Peringatan Dini dan Pendidikan Kebencanaan 

Oleh : Salsabila R  Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi seiring peralihan musim kemarau menuju musim hujan pada akhir 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kewaspadaan terhadap perubahan pola cuaca, penguatan mitigasi di daerah rawan bencana, serta edukasi kebencanaan yang melibatkan sekolah dan masyarakat. Sinergi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana. Perubahan musim merupakan periode yang membutuhkan perhatian khusus karena kondisi cuaca dapat berubah dan memengaruhi tingkat risiko di berbagai wilayah. Setelah menghadapi musim kemarau yang relatif panjang dan kering, masyarakat perlu mempersiapkan langkah antisipasi terhadap peningkatan curah hujan yang dapat memicu banjir, tanah longsor, serta bencana hidrometeorologi lainnya. Kesiapsiagaan sejak dini diperlukan agar pemerintah daerah dan masyarakat memiliki waktu yang memadai untuk mengidentifikasi ancaman, menyiapkan sumber daya, serta menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Nino turut berkontribusi terhadap karakteristik musim kemarau 2026. Dalam menghadapi perubahan kondisi tersebut, kesiapsiagaan perlu disusun secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan perkembangan informasi cuaca dan prediksi musim. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi musim hujan perlu mulai diperkuat meskipun sejumlah wilayah masih menangani dampak kekeringan. Saat ini kita semua sedang menangani dampak bencana kekeringan. Namun, dalam waktu dekat kita tentunya juga harus bersiap menghadapi bencana hidrometeorologi saat musim basah tiba. Peringatan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan mitigasi yang adaptif terhadap perubahan ancaman. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan informasi meteorologi untuk meninjau kesiapan infrastruktur pengendali banjir, membersihkan saluran drainase, memetakan kawasan rawan longsor, serta menyiapkan jalur evakuasi. Di tingkat masyarakat, langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, menghindari pembangunan di kawasan berisiko tinggi, dan mengenali tanda-tanda bahaya dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak bencana. BMKG memprediksi sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan kondisi normal. Meskipun awal musim hujan diperkirakan mundur di banyak wilayah, puncak musim hujan di sebagian besar daerah diproyeksikan tetap berlangsung pada Desember hingga Februari. Kondisi ini menegaskan bahwa perencanaan kesiapsiagaan perlu memperhatikan bukan hanya waktu dimulainya musim hujan, melainkan juga potensi peningkatan intensitas hujan ketika puncak musim tiba. Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Radjab, menekankan perlunya kewaspadaan terhadap karakteristik musim tersebut. Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama. Artinya puncak musim hujan akan tetap terjadi di Desember, Januari, Februari, namun perlu waspada ketika musim hujan langsung puncak. Informasi prakiraan musim tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyusun langkah antisipasi yang lebih terarah. Koordinasi antara BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait diperlukan agar informasi cuaca dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Penyebaran peringatan dini melalui berbagai saluran komunikasi juga perlu diperkuat sehingga masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami, tepat waktu, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara cepat. Selain kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini, penguatan pengetahuan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengurangan risiko bencana. BNPB mendorong pendidikan kebencanaan diterapkan secara konsisten, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat berkegiatan bagi anak-anak setiap hari. Edukasi tersebut tidak hanya mencakup ancaman banjir dan tanah longsor, tetapi juga gempa bumi, potensi megathrust, serta letusan gunung api yang membutuhkan pemahaman dan prosedur penanganan berbeda. BNPB menekankan bahwa pembentukan budaya sadar bencana harus dilakukan melalui pembelajaran berkelanjutan. Abdul Muhari menyampaikan bahwa penguatan kapasitas melalui pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari proses pendidikan sepanjang hayat. Dengan pengetahuan yang memadai, peserta didik diharapkan mampu mengenali potensi bahaya, memahami prosedur keselamatan, dan mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat. Salah satu upaya yang didorong adalah penerapan tiga pilar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yaitu fasilitas sekolah yang aman, prosedur keselamatan dan evakuasi yang jelas, serta integrasi pendidikan kebencanaan dalam kegiatan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut dapat dilaksanakan melalui pemeriksaan kondisi bangunan, pemasangan petunjuk jalur evakuasi, penyediaan titik kumpul, dan simulasi bencana secara berkala. Pelibatan guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta unsur kebencanaan daerah akan membantu memastikan prosedur keselamatan dipahami dan dapat diterapkan oleh seluruh warga sekolah. Melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, para siswa diharapkan mampu membentuk memori jangka panjang sehingga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya Pelaksanaan simulasi secara rutin menjadi sarana untuk membangun respons yang terlatih sekaligus mengevaluasi kesiapan sekolah. Hasil latihan dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur evakuasi, memperjelas pembagian tanggung jawab, dan mengidentifikasi kebutuhan fasilitas pendukung. Pendekatan ini juga dapat diperluas ke lingkungan keluarga dan masyarakat melalui sosialisasi, latihan evakuasi, serta pengenalan jalur aman di sekitar tempat tinggal. Penguatan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi membutuhkan kerja sama yang konsisten antara pemerintah, lembaga terkait, satuan pendidikan, dan masyarakat. Dukungan informasi BMKG, koordinasi penanggulangan bencana oleh BNPB dan pemerintah daerah, serta pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan dapat membentuk sistem mitigasi yang lebih tangguh. Dengan persiapan yang dilakukan sejak dini, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan musim, mengurangi risiko korban jiwa, serta menekan kerugian sosial dan ekonomi akibat bencana. )* Pengamat Lingkungan Hidup

Bersama Mengawal Denyut Koperasi Merah Putih

Oleh Husnaini Susanti Percepatan operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat akar rumput.