Lompat ke konten utama

Kata Papua

PON XXI Aceh-Sumut Salah Satu Puncak Pencapaian Kebangkitan Olahraga Indonesia di Era Presiden Jokowi - Kata Papua

PON XXI Aceh-Sumut Salah Satu Puncak Pencapaian Kebangkitan Olahraga Indonesia di Era Presiden Jokowi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Muzakir Hasbi

Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara pada 2024 menjadi salah satu tonggak penting dalam kebangkitan olahraga Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI ketujuh, Joko Widodo.

Ajang tersebut tidak hanya menjadi arena kompetisi, melainkan juga sebuah momentum besar yang menegaskan pencapaian olahraga nasional dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai ajang multi-olahraga utama yang diikuti 46 cabang olahraga, PON XXI telah berhasil menciptakan ruang bagi lahirnya atlet-atlet muda berbakat yang siap membawa nama Indonesia ke panggung internasional.

Presiden Jokowi menekankan bahwa PON XXI tidak hanya bertujuan untuk meraih prestasi semata, tetapi juga untuk melahirkan generasi baru atlet Indonesia yang mampu mencetak rekor dunia.

Menurut pemimpin bangsa kelahiran Kota Surakarta tersebut, PON XXI harus menjadi tempat berkembangnya atlet-atlet unggul yang nantinya akan berkiprah di ajang internasional, termasuk SEA Games, Asian Games, dan bahkan Olimpiade.

Dengan demikian, PON Aceh-Sumut telah menciptakan fondasi yang kuat bagi pengembangan prestasi olahraga Indonesia, yang tidak hanya terbatas pada level nasional, tetapi juga menuju panggung global.

Sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 2014, Joko Widodo terus menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan olahraga nasional. Ia melihat bahwa ajang seperti PON XXI adalah alat penting untuk merajut persatuan bangsa, sekaligus meningkatkan kualitas atlet Indonesia di kancah internasional. Hal ini sangat relevan mengingat peningkatan prestasi olahraga tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang memadai, tetapi juga ajang kompetisi yang berkelanjutan dan berkualitas.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI turut memberikan pandangan serupa. Menpora menilai bahwa PON Aceh-Sumut bukan sekadar pesta olahraga, melainkan simbol kuat persatuan Indonesia.

Di tengah beragam perbedaan yang ada di negara ini, olahraga mampu menjadi pemersatu. Selain itu, PON juga dianggap sebagai sarana penting untuk meningkatkan prestasi olahraga nasional.

Dengan adanya kompetisi di berbagai cabang olahraga, para atlet memiliki kesempatan untuk menunjukkan bakat dan kemampuan mereka, yang pada akhirnya akan memperkuat posisi Indonesia di kancah olahraga dunia.

Keberhasilan PON XXI juga tak lepas dari dukungan daerah yang menjadi tuan rumah, yakni Aceh dan Sumatera Utara. Bupati Serdang Bedagai, H. Darma Wijaya, menyatakan bahwa PON ini menjadi momen bersejarah bagi kebangkitan olahraga, terutama di wilayah Sumatera Utara.

Ia menyoroti pentingnya perhelatan PON dalam membangkitkan semangat olahraga, tidak hanya di kalangan atlet, tetapi juga masyarakat luas. Momen ini diharapkan menjadi dorongan bagi daerah untuk lebih aktif dalam membina olahraga, sekaligus mencetak atlet-atlet lokal yang mampu bersaing di level nasional dan internasional.

Selama dua periode kepemimpinannya, Presiden Jokowi telah memberikan perhatian besar pada pengembangan infrastruktur olahraga. Pembangunan venue-venue kelas dunia di berbagai daerah, termasuk di Aceh dan Sumatera Utara, membuktikan komitmennya dalam memajukan dunia olahraga.

Infrastruktur yang berkualitas tentu menjadi faktor penting dalam mendukung para atlet untuk berprestasi, dan hal ini terlihat jelas dalam pelaksanaan PON XXI. Berbagai venue modern yang digunakan dalam PON kali ini mencerminkan kesiapan Indonesia dalam menyelenggarakan ajang olahraga berstandar internasional.

Selain pembangunan fisik, ajang seperti PON XXI juga berperan penting dalam membentuk karakter dan mental para atlet. Menurut Kepala Negara, ajang olahraga harus menjadi tempat di mana nilai-nilai seperti sportivitas, kebersamaan, dan semangat kompetisi yang sehat terus dikembangkan.

Nilai-nilai inilah yang nantinya akan menjadi bekal penting bagi para atlet saat mereka berkiprah di kompetisi internasional. Dengan demikian, PON XXI bukan hanya mencetak juara, tetapi juga membentuk karakter unggul yang siap menghadapi tantangan lebih besar di kancah dunia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan PON XXI Aceh-Sumut ini juga merupakan cerminan dari kesuksesan kebijakan-kebijakan pemerintah di bawah pimpinan Presiden Jokowi.

Sebagai Presiden Indonesia pertama yang sebelumnya merupakan kepala daerah dan bukan berasal dari elite politik atau militer, Presiden Jokowi telah menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam memimpin negara, termasuk dalam bidang olahraga. Pendekatan yang lebih dekat dengan rakyat, termasuk para atlet, telah memberikan dampak positif dalam menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan kondusif di dunia olahraga.

PON XXI bukanlah satu-satunya ajang olahraga besar yang diselenggarakan di era Presiden Jokowi, namun keberhasilannya menjadi simbol dari kebangkitan olahraga Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, olahraga tetap menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kebanggaan dan persatuan nasional.

Dengan terus berlangsungnya berbagai inisiatif untuk meningkatkan prestasi olahraga, Indonesia semakin siap untuk berkompetisi di tingkat dunia, membawa nama bangsa ke puncak kejayaan.

Ke depan, keberhasilan PON Aceh-Sumut diharapkan akan terus berlanjut dengan penyelenggaraan berbagai ajang olahraga besar lainnya. Melalui momentum tersebut, Indonesia berpeluang menciptakan lebih banyak prestasi, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan olahraga di Asia dan dunia. Ajang multi-olahraga ini telah menegaskan bahwa kebangkitan olahraga Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah realitas yang terus berkembang.
*) Peneliti Ekonomi Syariah Aceh – Forum Ekonomi Syariah Aceh Berkelanjutan

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kesetaraan Pendidikan Lewat Sekolah Rakyat, Negara Tak Membiarkan Anak Tertinggal 

Oleh: Bara Winatha Kesetaraan pendidikan menjadi salah satu kunci untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam membangun masa depan. Keterbatasan ekonomi, kondisi keluarga, maupun hambatan sosial tidak semestinya menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Melalui pengembangan Sekolah Rakyat dan Sanggar Kegiatan Belajar, pemerintah menunjukkan upaya menghadirkan jalur pendidikan yang lebih inklusif sekaligus menjadikan pendidikan sebagai instrumen untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa kehadiran Sanggar Kegiatan Belajar menjadi bagian dari upaya pemerintah memfasilitasi anak-anak yang belum dapat mengikuti Sekolah Rakyat karena sejumlah kondisi, seperti usia maupun kemampuan akademik. SKB menjadi alternatif agar anak yang belum memperoleh kesempatan bersekolah tetap dapat melanjutkan pendidikan melalui jalur yang sesuai dengan kebutuhannya. Agus menjelaskan bahwa SKB dirancang sebagai pintu gerbang bagi anak yang sebelumnya tidak bersekolah, putus sekolah, atau belum mendapatkan kesempatan pendidikan. Melalui pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, anak-anak dapat memperoleh pendidikan yang setara dengan jenjang SD, SMP, hingga SMA. Sistem tersebut juga memberikan fleksibilitas sehingga akses pendidikan dapat menjangkau masyarakat dengan kondisi yang beragam. Di Sentra Terpadu Inten Soeweno Cibinong, Bogor, sebanyak 92 siswa mengikuti kegiatan pembelajaran melalui SKB. Mereka terdiri atas 36 siswa jenjang SD, 41 siswa jenjang SMP, dan 15 siswa jenjang SMA. Komposisi tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan terhadap jalur pendidikan alternatif masih nyata dan harus dijawab melalui kebijakan yang mampu menjangkau anak-anak dari berbagai kelompok masyarakat. Agus menilai pendidikan memiliki peran strategis dalam memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Anak dari keluarga kurang mampu perlu mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas dirinya agar tidak terus mewarisi keterbatasan ekonomi orang tua. Karena itu, pemerintah berupaya menjemput kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan dan memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk belajar, berkembang, serta meningkatkan kemandirian. Konsep tersebut juga menjadi salah satu dasar pengembangan Sekolah Rakyat. Program ini tidak sekadar menyediakan ruang kelas, tetapi dirancang sebagai ekosistem pendidikan yang menggabungkan pembelajaran, pembentukan karakter, pengasuhan, dan kehidupan berasrama. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik mendapatkan lingkungan yang mendukung perkembangan akademik sekaligus membangun kemandirian dalam kehidupan sehari-hari. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian mengatakan bahwa Sekolah Rakyat potensi besar untuk menjadi wadah pembentukan karakter peserta didik. Sistem pendidikan berasrama memberikan pengalaman tambahan bagi siswa karena mereka tidak hanya mengikuti kegiatan belajar mengajar, tetapi juga belajar mengurus diri, menjaga kebersihan lingkungan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menjalankan aktivitas keagamaan bersama. Hetifah melihat proses adaptasi tersebut sebagai bagian penting dari pendidikan karakter. Pada tahap awal, peserta didik memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola kehidupan sekolah dan asrama. Namun, pengalaman tersebut dapat membentuk kebiasaan positif seperti disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta kemampuan hidup bersama dengan orang lain. Pengalaman Sekolah Rakyat dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan program di berbagai daerah. Program yang masih relatif baru membutuhkan evaluasi berkelanjutan agar pengelolaan sekolah, kegiatan belajar, pengasuhan, dan kebutuhan peserta didik semakin baik. Keberlanjutan program juga membutuhkan kolaborasi sekolah, keluarga, masyarakat, serta dunia usaha dan dunia industri agar lulusan memiliki pilihan melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Apresiasi terhadap Sekolah Rakyat juga disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid yang menilai kelengkapan fasilitas di Sekolah Rakyat mampu mendukung proses pembelajaran secara lebih optimal. Wachid menilai fasilitas teknologi seperti perangkat komputer, laptop, iPad, laboratorium komputer, dan perpustakaan memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran. Keberadaan lapangan sepak bola, bola basket, dan bola voli juga memberikan ruang bagi peserta didik mengembangkan potensi nonakademik. Sekolah Rakyat memiliki fungsi yang lebih luas daripada pendidikan formal karena diarahkan untuk membantu memutus mata rantai kemiskinan. Jika dilihat secara utuh, Sekolah Rakyat dan SKB memperlihatkan bahwa kesetaraan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar penambahan jumlah sekolah. Kesetaraan membutuhkan keberpihakan kepada anak yang menghadapi hambatan ekonomi, sosial, geografis, maupun akademik. Pendidikan juga menjadi sarana penting untuk mengubah masa depan keluarga. Ketika anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan akses pembelajaran yang layak, peluang mereka untuk meningkatkan kompetensi dan memperoleh kehidupan yang lebih baik semakin terbuka. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan sosialnya. Melalui Sekolah Rakyat dan SKB, pesan kebijakan yang dibangun pemerintah menjadi semakin jelas, yaitu tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menentukan masa depan seorang anak. Kesetaraan pendidikan menjadi investasi untuk menciptakan generasi yang lebih berpengetahuan, mandiri, berkarakter, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah sekolah atau peserta didik yang ditampung, tetapi dari kemampuan program tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan anak dan keluarganya. *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.