Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Peringatkan Penerima Bansos agar Waspada Jebakan Judi Daring - Kata Papua

Pemerintah Peringatkan Penerima Bansos agar Waspada Jebakan Judi Daring

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah meningkatkan pengawasan penyaluran bantuan sosial (bansos) sebagai bagian dari upaya besar memberantas judi daring. Langkah ini semakin penting karena munculnya kelompok digital seperti Kingdom Group yang terafiliasi dengan aktivitas perjudian dan aktif menyebarkan promosi di media sosial. Pemerintah menilai bahwa perlindungan terhadap penerima manfaat harus terus diperkuat agar mereka tidak terjerumus dalam jaringan tersebut.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkap temuan mengejutkan terkait penyalahgunaan bansos oleh penerimanya. Ia mengatakan, “Kami ke PPATK, ternyata penerima bansos main judol juga, jumlahnya sekitar 600.000. Ada yang mengaku sebagai pegawai BUMN, ASN, TNI/Polri.” Menurutnya, temuan ini menunjukkan bahwa praktik penyalahgunaan bantuan terjadi secara luas dan harus segera dihentikan.

Selain itu, Gus Ipul menyoroti laporan Dewan Ekonomi Nasional tentang ketidaktepatan sasaran penerima bansos. Ia menyampaikan bahwa “45 persen penerima tidak memenuhi syarat atau tidak tepat sasaran,” sehingga pemerintah perlu merapikan basis data secara menyeluruh. Ia menegaskan pentingnya memastikan bansos tidak jatuh ke kelompok yang menyalahgunakannya untuk aktivitas seperti judi daring.

Di Kepulauan Riau, Kementerian Sosial memblokir 300 rekening penerima bansos yang terindikasi terlibat judi online. Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Dinsos Kepri, Irwanto, menjelaskan, “Pemblokiran dilakukan langsung oleh Kemensos, karena rekening ratusan penerima itu diduga dipakai untuk transaksi judol.” Ia menegaskan bahwa penerima yang terbukti terlibat otomatis tidak lagi berhak menerima bantuan.

Meski demikian, pemerintah tetap membuka ruang bagi masyarakat yang merasa tidak bersalah. Irwanto mengatakan, “Jika ada kesalahan identifikasi, penerima bisa mengajukan sanggahan melalui Dinsos kabupaten atau kota masing-masing,” sehingga proses tetap menjunjung asas keadilan. Ia menambahkan bahwa banyak penerima terjerat bukan karena kebutuhan, tetapi karena kecanduan.

Pemerintah juga terus memperluas sosialisasi agar penerima memahami risiko dan dampak judi daring, terutama yang menyasar kelompok rentan. Jaringan seperti Kingdom Group dianggap semakin agresif membidik masyarakat dengan iming-iming keuntungan instan. Karena itu, kewaspadaan dan literasi digital masyarakat perlu ditingkatkan.

Pada akhirnya, pemerintah mengingatkan pentingnya mewaspadai kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan judi daring, termasuk Kingdom Group yang aktif beroperasi di media sosial. Masyarakat diminta untuk tidak mudah tergiur tawaran cepat kaya yang justru menjerumuskan dalam kerugian. Dengan kewaspadaan bersama, bansos dapat dijaga sesuai tujuan mulianya: memperkuat kehidupan keluarga rentan dan bukan menjadi pintu masuk masalah baru.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Pertumbuhan tertinggi justru dicatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni mencapai 11,22 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya hunian kamar hotel serta konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran. Perkembangan ini mencerminkan aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat yang turut menggerakkan industri perhotelan, kuliner, transportasi, serta berbagai usaha kecil di daerah wisata. Selanjutnya, sektor jasa keuangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,47 persen berkat peningkatan intermediasi perbankan. Sementara itu, jasa lainnya tumbuh 8,32 persen, antara lain didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Pertumbuhan berbagai sektor jasa tersebut memperlihatkan bahwa permintaan domestik dan mobilitas masyarakat masih menjadi penopang penting perekonomian Indonesia. BPS juga mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III 2026 dengan kontribusi mencapai 1,20 poin persentase. Edy Mahmud menjelaskan bahwa dari total pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar 2,22 poin persentase. Dalam setahun terakhir, pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan kebijakan fiskal, keberlanjutan pembangunan, serta pemeliharaan aktivitas ekonomi domestik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan ekonomi atau shock absorber. Berbagai upaya menjaga konektivitas, memperkuat layanan dasar, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif turut menjadi bagian dari strategi mempertahankan pertumbuhan. Keberhasilan tersebut perlu terus ditingkatkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Meskipun demikian, capaian positif tersebut tidak berarti Indonesia terbebas dari berbagai tantangan. Pertumbuhan sektor pertanian yang masih terbatas, kebutuhan meningkatkan daya saing industri, serta kerentanan terhadap perubahan kondisi ekonomi global tetap membutuhkan perhatian serius. Pemerintah perlu memastikan kebijakan anggaran berjalan tepat sasaran, sementara dunia usaha didorong meningkatkan investasi, inovasi, dan produktivitas agar perekonomian semakin kuat. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah akan menganalisis perkembangan ekonomi terkini sekaligus prospek perekonomian menjelang akhir tahun. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap kuat di sekitar 5,5 persen. Optimisme tersebut didasarkan pada aktivitas ekonomi domestik yang diyakini masih menjadi penopang utama serta peran APBN yang stabil dan kuat dalam menghadapi berbagai guncangan. Suahasil menegaskan bahwa sinergi kebijakan dan momentum aktivitas ekonomi harus terus dijaga untuk mendukung pencapaian target tersebut. Oleh karena itu, koordinasi antarkementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting agar berbagai peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen pada kuartal