Lompat ke konten utama

Kata Papua

Kepemimpinan Indonesia di Forum Perdamaian Internasional Makin Terlihat di BoP - Kata Papua

Kepemimpinan Indonesia di Forum Perdamaian Internasional Makin Terlihat di BoP

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Rama Pradipta

Indonesia menegaskan kepemimpinannya di forum perdamaian internasional melalui peran aktif dalam Board of Peace (BoP). Presiden Prabowo Subianto mengarahkan diplomasi nasional untuk tampil sebagai penggerak solusi, bukan sekadar pengamat dinamika global.

Di tengah konflik Gaza yang masih menyisakan ketegangan, kehadiran Indonesia dalam forum tersebut memperlihatkan posisi yang semakin diperhitungkan dalam percaturan perdamaian dunia.

Dalam Forum Bisnis bersama US Chamber of Commerce di Washington D.C., Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pertemuan perdana Board of Peace pada 19 Februari 2026 difokuskan pada implementasi dan keberlanjutan gencatan senjata di Gaza.

Ia menjelaskan kehadirannya atas undangan resmi Presiden Amerika Serikat untuk menghadiri forum penting tersebut. Pemerintah, menurutnya, terus merintis jalan menuju solusi yang nyata dan berkelanjutan bagi persoalan Palestina. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa Indonesia membawa misi perdamaian yang terukur, dengan orientasi pada hasil konkret.

Presiden Prabowo juga menegaskan konsistensi politik luar negeri bebas dan aktif. Pemerintah tidak memihak blok kekuatan tertentu, namun tetap mengambil peran aktif dalam mendorong perdamaian global.

Sikap tersebut menempatkan Indonesia sebagai jembatan dialog di tengah polarisasi geopolitik. Dalam konteks Board of Peace, pendekatan itu memberi ruang bagi Indonesia untuk mendorong solusi dua negara secara lebih sistematis dan berlandaskan hukum internasional.

Kepemimpinan tersebut diperkuat melalui diplomasi di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menteri Luar Negeri Sugiono menggelar pertemuan bilateral dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada 16 Februari 2026 di New York.

Dalam pertemuan itu, Sugiono memaparkan langkah konkret yang telah diambil Indonesia sebagai anggota Dewan Perdamaian Gaza. Ia menegaskan keterlibatan Indonesia di Board of Peace sepenuhnya dipandu oleh Piagam PBB, visi solusi dua negara, serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 (2025).

Sugiono menilai kontribusi Indonesia tidak boleh berhenti pada dukungan politik. Pemerintah harus memastikan perdamaian yang diperjuangkan bersifat adil sekaligus berkelanjutan. Dalam pembahasan bersama Sekretaris Jenderal PBB, ia juga mengangkat berbagai perkembangan situasi Palestina serta rencana kehadiran Indonesia dalam Sidang Dewan Keamanan PBB pada 18 Februari 2026 untuk membahas Timur Tengah. Langkah tersebut menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia bergerak simultan di berbagai platform multilateral.

Menurut Sugiono, sistem multilateral tetap menjadi pilar utama dalam menjaga perdamaian dunia dan menegakkan hukum internasional. Indonesia berkomitmen memanfaatkan setiap peluang di PBB dan forum internasional lain untuk memastikan hak-hak rakyat Palestina terlindungi. Keikutsertaan dalam Board of Peace dipandang sebagai bentuk konkret dari komitmen tersebut, sekaligus bagian dari tanggung jawab sebagai anggota komunitas internasional.

Sugiono juga menegaskan kehadiran Presiden Prabowo dalam pertemuan perdana Board of Peace akan memperkuat posisi Indonesia pada tahap awal perumusan arah kerja dewan tersebut.

Partisipasi langsung kepala negara dalam forum itu menunjukkan keseriusan politik tingkat tertinggi dalam mendorong perdamaian Gaza. Momentum tersebut diyakini dapat memperbesar pengaruh Indonesia dalam memastikan rekonstruksi Gaza dan keberlanjutan gencatan senjata berjalan efektif.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menjelaskan partisipasi Presiden Prabowo dalam BoP bertujuan menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Pemerintah, menurutnya, mendorong perlindungan warga sipil di Gaza serta mendukung rekonstruksi wilayah terdampak konflik. Yvonne menekankan bahwa Indonesia bertekad menjadikan Board of Peace sebagai forum efektif yang benar-benar berorientasi pada solusi dua negara, bukan sekadar ruang seremonial.

Keterlibatan aktif tersebut menegaskan konsistensi Indonesia membela kemerdekaan Palestina, sekaligus menunjukkan pendekatan yang lebih struktural melalui Board of Peace dengan keterlibatan langsung dalam pengawasan gencatan senjata dan perumusan pemulihan pascakonflik.

Dukungan terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto juga datang dari kalangan mahasiswa. Mereka menyampaikan apresiasi atas peran aktif Indonesia di kancah internasional dan berharap kepemimpinan nasional membawa dampak positif bagi reputasi negara. Dukungan tersebut mencerminkan harapan publik agar diplomasi Indonesia terus berdiri di garis depan dalam memperjuangkan keadilan global.

Kalangan akademik menilai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace menunjukkan keberanian politik untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam isu kemanusiaan internasional.

Mereka memandang langkah tersebut sebagai cerminan konsistensi sikap bangsa terhadap Palestina sekaligus bukti bahwa Indonesia mampu berbicara lantang dan bertindak nyata dalam forum global.

Melalui kombinasi diplomasi multilateral di PBB dan partisipasi strategis di Board of Peace, kepemimpinan Indonesia semakin terlihat di forum perdamaian internasional. Pemerintah menunjukkan bahwa komitmen terhadap Palestina bukan sekadar retorika, melainkan agenda yang diperjuangkan secara konsisten dan terstruktur. Peran tersebut menempatkan Indonesia sebagai aktor penting dalam merancang masa depan perdamaian Gaza dan memperkuat posisi negara di panggung global.

Langkah itu sekaligus mempertegas bahwa kepemimpinan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto mampu memadukan prinsip moral dengan strategi diplomasi yang realistis. Indonesia hadir bukan hanya untuk menyampaikan sikap politik, tetapi untuk ikut menentukan arah kebijakan, mengawal implementasi kesepakatan, dan memastikan proses perdamaian berjalan sesuai hukum internasional.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia memperluas pengaruhnya sebagai kekuatan penyeimbang yang dipercaya dalam forum global, terutama dalam upaya menghadirkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina. (*)

*) Analis Hubungan Internasional

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

PTN Gratis: Agenda Keadilan Pendidikan

Oleh : Jonathan Janoel Wacana pendidikan tinggi gratis kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa biaya pendidikan pada satuan pendidikan negeri, termasuk perguruan tinggi negeri (PTN), harus dapat digratiskan. Pernyataan tersebut disampaikan dan langsung diikuti arahan untuk menggelar rapat terbatas. Di tengah kebutuhan memperluas akses pendidikan tinggi, agenda ini dapat menjadi momentum untuk menempatkan pendidikan sebagai investasi negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Presiden Prabowo menilai akses pendidikan negeri tidak semestinya menjadi beban berat bagi masyarakat. Karena itu, pemerintah akan membahas desain kebijakan dan pembiayaannya secara lebih mendalam. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan gratis PTN mulai diarahkan dari gagasan menuju pembahasan kebijakan. Pendekatan ini penting agar tujuan memperluas akses pendidikan tetap berjalan seiring dengan kemampuan fiskal dan keberlanjutan pengelolaan perguruan tinggi. Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa kementeriannya akan melakukan kajian mengenai kemungkinan penggratisan biaya kuliah di PTN. Kajian tersebut mencakup berbagai opsi skema pembiayaan yang nantinya dilaporkan kepada Presiden untuk dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait. Brian juga menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memberikan dukungan pembiayaan melalui KIP Kuliah dan berbagai program beasiswa. Data yang disampaikan Brian menunjukkan sekitar 28,2 persen mahasiswa baru yang diterima di PTN memperoleh dukungan melalui berbagai skema pembiayaan, terutama mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah telah memiliki fondasi kebijakan untuk memperluas akses pendidikan tinggi. Agenda PTN gratis dapat menjadi pengembangan berikutnya dengan desain yang lebih terukur sehingga dukungan negara dapat menjangkau lebih banyak calon mahasiswa. Gagasan tersebut mendapat perspektif ekonomi dari Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini. Didik menilai pendidikan gratis hingga PTN bukan sesuatu yang mustahil. Menurutnya, sebagian fondasi pembiayaan pendidikan gratis telah dibangun melalui kebijakan wajib belajar dan dukungan operasional pendidikan pada periode sebelumnya. Pemerintah saat ini dapat melanjutkan fondasi tersebut dengan melakukan penataan kembali prioritas anggaran pendidikan. Didik juga menilai persoalan utama bukan semata-mata mencari anggaran baru, melainkan bagaimana anggaran pendidikan yang tersedia diarahkan secara lebih efektif. Ia menyebut alokasi fungsi pendidikan dalam APBN mencapai sekitar Rp769,09 triliun dan sebagian dapat ditata untuk mendukung pendidikan tinggi. Ia juga mendorong evaluasi pola pembiayaan PTN, termasuk jalur mandiri, agar perguruan tinggi tidak terlalu bergantung pada penerimaan dari mahasiswa. Masukan tersebut memberikan dimensi penting bagi agenda pendidikan gratis. Pembiayaan negara harus dibarengi tata kelola yang sehat agar PTN tetap mampu menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Efisiensi kelembagaan, penyesuaian kebutuhan operasional, serta penerapan prinsip meritokrasi dalam penerimaan mahasiswa dapat menjadi bagian dari desain kebijakan. Dengan demikian, perluasan akses tidak mengurangi kualitas akademik maupun kapasitas riset perguruan tinggi. Di sisi lain, pendidikan gratis perlu dipahami lebih luas daripada sekadar pembebasan uang kuliah. Mahasiswa masih menghadapi biaya hidup, transportasi, buku, perangkat pembelajaran, dan kebutuhan akademik lainnya. Program seperti KIP Kuliah menunjukkan pentingnya dukungan yang lebih komprehensif, khususnya bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Kebijakan baru dapat disusun dengan mempertimbangkan karakteristik kebutuhan mahasiswa di berbagai daerah. Momentum ini juga relevan dengan agenda peningkatan kualitas tenaga kerja nasional. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Akses yang lebih luas terhadap PTN berpotensi memperbesar basis talenta yang dapat masuk ke sektor strategis, termasuk industri, digitalisasi, kesehatan, energi, dan manufaktur. Karena itu, pembiayaan pendidikan tinggi perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi produktivitas nasional. Perluasan akses pendidikan tinggi juga memiliki dimensi pemerataan pembangunan antardaerah. Anak muda dari daerah yang memiliki keterbatasan ekonomi sering menghadapi pilihan pendidikan yang lebih sempit dibandingkan mereka yang tinggal di pusat-pusat ekonomi. Dukungan pembiayaan yang tepat dapat memperbesar kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Dalam jangka panjang, lulusan tersebut dapat kembali berkontribusi terhadap pembangunan daerah melalui keahlian yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Implementasi kebijakan tetap membutuhkan perencanaan yang cermat. Pemerintah perlu menetapkan cakupan biaya yang ditanggung negara, mekanisme penyaluran anggaran, standar layanan, serta pembagian peran antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PTN, dan perguruan tinggi swasta. Kejelasan tersebut akan menentukan apakah kebijakan dapat diterapkan secara adil sekaligus menjaga kesehatan keuangan institusi pendidikan. Selain pembiayaan, pengawasan juga perlu diperkuat untuk memastikan anggaran pendidikan digunakan secara efektif. Transparansi, evaluasi berkala, dan indikator yang jelas diperlukan agar kebijakan PTN gratis tidak hanya memperluas akses, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan arah tersebut, agenda PTN gratis dapat menjadi langkah penting dalam memperluas keadilan pendidikan di Indonesia. Arahan Presiden Prabowo yang segera ditindaklanjuti melalui kajian Kemdiktisaintek menunjukkan bahwa gagasan tersebut mulai bergerak menuju desain implementasi. Jika pembiayaan ditata secara tepat, tata kelola diperkuat, dan kualitas akademik tetap dijaga, pendidikan tinggi dapat semakin terbuka bagi anak-anak Indonesia tanpa mengorbankan keberlanjutan perguruan tinggi. Komitmen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan pada akhirnya dapat menjadi investasi strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul dan memperkuat daya saing Indonesia. )* Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kebijakan Pemerintah