Lompat ke konten utama

Kata Papua

Produksi Surplus, Indonesia Siap Ekspor Beras - Kata Papua

Produksi Surplus, Indonesia Siap Ekspor Beras

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta, – Indonesia menegaskan babak baru kedaulatan pangan nasional. Setelah bertahun-tahun bergantung pada impor, kini produksi beras dalam negeri melonjak signifikan hingga menciptakan surplus besar. Pemerintah pun menyatakan kesiapan untuk mengekspor beras ke sejumlah negara sahabat sebagai bukti nyata keberhasilan swasembada yang berkelanjutan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan stok beras nasional dalam beberapa bulan terakhir menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan swasembada sekaligus kesiapan ekspor.

“Penguatan stok beras nasional dalam beberapa bulan terakhir menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan swasembada pangan dan kesiapan ekspor,” ujar Mentan.

Menurutnya, apabila tren produksi terus konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus beras nasional dapat mencapai sekitar 9 juta ton. Capaian ini disebut sebagai puncak prestasi seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian, mulai dari petani, penyuluh, hingga pemerintah daerah.

“Ini puncak prestasi Bapak Ibu semua. Tetapi jangan lengah. Swasembada ini harus kita pertahankan dan tingkatkan,” tegasnya.

Dengan proyeksi stok yang kuat, pemerintah mulai menjajaki peluang ekspor ke sejumlah negara, antara lain Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini. Bahkan, untuk memperkuat konektivitas kawasan timur Indonesia, ekspor direncanakan langsung dilakukan dari wilayah timur menuju Papua Nugini.

“Kalau tiga bulan ke depan tidak ada aral melintang, kita siap ekspor. Bahkan kita dorong dari wilayah timur langsung ke Papua Nugini,” ungkap Amran.

Kabar menggembirakan juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Ia mengungkapkan bahwa setelah Indonesia mengimpor 4,5 juta ton beras pada 2024, pada 2025 angka impor berhasil ditekan hingga nol persen. Produksi nasional bahkan meroket menjadi 34,77 juta ton.

Alih-alih mendatangkan beras dari luar negeri, Indonesia kini bersiap mengirimkan beras premium ke pasar internasional.

“Ekspor perdana 2.280 ton beras premium ke Arab Saudi akan berangkat dari Tanjung Priok pada 28 Februari besok,” ungkap Zulhas.

Ekspor beras premium untuk kebutuhan jemaah haji tersebut diproyeksikan menyumbang devisa hingga Rp150 miliar. Dengan surplus stok yang melimpah, Kementerian Koordinator Bidang Pangan bahkan menolak usulan impor beras industri sebesar 380 ribu ton untuk tahun 2026.

Keberhasilan ini menjadi tonggak penting transformasi sektor pangan nasional. Dari negara pengimpor besar, Indonesia kini berdiri sebagai produsen tangguh yang siap memasok kebutuhan dalam negeri sekaligus berkontribusi pada pasar global. Produksi surplus bukan sekadar angka, melainkan simbol kebangkitan pertanian nasional dan komitmen kuat menuju kedaulatan pangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri. Rosan memaparkan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi terus memacu masuknya investasi di sektor hilirisasi pertambangan, perkebunan, dan energi terbarukan yang memiliki nilai tambah tinggi serta mampu menghasilkan devisa ekspor baru bagi negara. Peningkatan fasilitas perizinan berusaha yang terintegrasi secara digital (Online Single Submission) dan jaminan kepastian hukum memberikan kenyamanan bagi para investor untuk merealisasikan komitmen investasinya, sehingga arus modal masuk tidak hanya bertumpu pada pasar keuangan yang sensitif, melainkan pada sektor riil yang menciptakan lapangan kerja. Selain itu, percepatan fasilitasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa terus diperluas guna mendorong pemerataan struktur pertumbuhan ekonomi antardaerah. Penguatan rantai pasok lokal yang menghubungkan industri skala besar dengan usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah menjamin bahwa dampak ekonomi dari masuknya modal asing dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan daerah. Langkah pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan Rupiah merupakan manifestasi nyata dari