Lompat ke konten utama

Kata Papua

Drajad Wibowo : Ekonomi RI Tetap Tangguh, Pidato Prabowo Bangun Confidence - Kata Papua

Drajad Wibowo : Ekonomi RI Tetap Tangguh, Pidato Prabowo Bangun Confidence

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Ekonom INDEF Drajad Wibowo mengapresiasi pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Menurut Drajad, pesan pemerintah penting untuk membangun kembali kepercayaan pelaku usaha dan pasar terhadap perekonomian nasional.

Drajad menilai kondisi ekonomi Indonesia perlu dilihat berdasarkan data dan kinerja aktual, bukan semata-mata narasi negatif yang berkembang di media sosial. Ia mencontohkan sejumlah proyeksi pelemahan rupiah yang tidak terbukti.

“Inti dari penyampaian nota ini untuk membangun kembali confidence dan trust supaya nanti pelaku usaha menilai kondisi tidak seperti di sosmed dan mulai berani berinvestasi,” kata Drajad.

Drajad juga mengingatkan pelaku pasar agar tidak terbawa fenomena fear of missing out (FOMO) dalam mengambil keputusan ekonomi. Menurutnya, keputusan berdasarkan narasi yang tidak teruji justru dapat merugikan pelaku pasar dan perekonomian secara keseluruhan.

Ia menilai pemerintah perlu memperkuat keberpihakan kepada kelas menengah dan UMKM melalui kemudahan berusaha, akses permodalan, edukasi, serta penyederhanaan perizinan. Kelas menengah dan anak muda, kata dia, merupakan sumber inovasi dan keberanian usaha yang dapat menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

“Negara harus mengayomi anak muda dan kelas menengah agar jadi backbone pertumbuhan ekonomi. Di situ sumber inovasi, bisnis, dan keberanian usaha,” ujar Drajad.

Selain itu, Drajad menyoroti pentingnya optimalisasi konsumsi domestik dan peningkatan daya saing industri nasional. Menurutnya, kebijakan pemerintah perlu diarahkan agar industri mampu menjadi pemenang, bukan terus bergantung pada subsidi.

Drajad juga menilai sisi penerimaan menjadi salah satu faktor krusial dalam RAPBN. Ia mendorong pemerintah meningkatkan penerimaan dengan kebijakan perpajakan yang cerdas dan ramah agar tidak membuat pelaku usaha takut berinvestasi.

Sementara itu, Presiden Prabowo menegaskan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah tekanan global. Ekonomi kuartal II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan, membawa pertumbuhan semester I 2026 menjadi 5,45%.

“Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN, kita melakukan kedua-duanya, pimpinan dan anggtota dewan, dunia melihat dan memantau sikap kita,” tegasnya.

Menurut Prabowo, capaian tersebut menunjukkan Indonesia mampu menjaga pertumbuhan sekaligus kehati-hatian fiskal di tengah tantangan ekonomi dunia. Capaian itu menjadi modal penting menjaga optimisme ekonomi nasional ke depan.***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda

Oleh: Yusuf Rinaldi Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu peserta pada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun jejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat. Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaran uang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebut dilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiap angkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch kedua menetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketiga dengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November. Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benar memberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkan seluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah. Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikan dukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkan tunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember 2026. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telah bekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebut meningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan. Kemnaker melakukan tracer study setiap tiga bulan untuk memperbarui data tersebut. Penelusuran dilakukan melalui kuesioner kepada alumni dan pencocokan data dengan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, khususnya status sebagai penerima upah. Pemerintah juga masih menelusuri alumni yang sebelumnya ditempatkan di kementerian dan lembaga karena proses rekrutmen pada instansi tersebut memiliki mekanisme tersendiri. Namun, perluasan jumlah peserta juga membuat aspek perlindungan dan kualitas pemagangan menjadi penting. Yassierli menyatakan pemerintah tidak ingin peserta digunakan untuk menggantikan pekerja tetap. Pemagangan harus tetap berada dalam kerangka peningkatan kompetensi, sementara evaluasi dilakukan terhadap peserta, mentor, dan perusahaan. Pemerintah juga melakukan monitoring terhadap beban serta jam kerja peserta untuk memastikan mereka tidak diperlakukan seperti pekerja reguler. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan bahwa peserta perlu memanfaatkan masa pemagangan untuk membangun kompetensi sekaligus sikap kerja. Menurut dia, kedisiplinan, integritas, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari bekal yang harus dibangun selama berada di lingkungan kerja. Dengan demikian, pengalaman pemagangan tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesiapan menghadapi tuntutan profesional. Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi W. Sutjipto menilai program Magang Nasional perlu memiliki kesinambungan setelah peserta menyelesaikan enam bulan pemagangan. Menurut Budi, pengalaman magang perlu diikuti mekanisme yang mempertemukan kompetensi peserta dengan kebutuhan lowongan perusahaan. Tanpa pencocokan tersebut, terdapat risiko peserta telah memperoleh pengalaman kerja tetapi masih menghadapi kesulitan ketika harus masuk ke pekerjaan formal setelah program berakhir. Pandangan tersebut menempatkan penyerapan kerja sebagai bagian penting dari evaluasi kebijakan. Jumlah peserta yang besar memang memperluas akses terhadap pengalaman kerja, tetapi dampak ekonominya akan lebih terlihat apabila kompetensi yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan industri dan berlanjut menjadi peluang karier. Karena itu, Magang Nasional dapat dipandang sebagai investasi tenaga kerja muda dengan catatan bahwa keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah peserta. Kualitas pelatihan, relevansi bidang magang, fungsi mentor, perlindungan peserta, pencocokan dengan kebutuhan perusahaan, serta penyerapan setelah program menjadi rangkaian yang menentukan dampak kebijakan. Dengan target 150 ribu peserta pada 2026, pemerintah memiliki ruang