Lompat ke konten utama

Kata Papua

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kerukunan Jadi Modal Besar Jaga Indonesia - Kata Papua

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kerukunan Jadi Modal Besar Jaga Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh Fitra Rahman

Hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berjalan, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Tekanan ekonomi, dinamika politik, perubahan geopolitik, hingga derasnya arus informasi di media sosial menjadi ujian bagi kemampuan negara menjaga stabilitas. Di tengah berbagai persoalan tersebut, satu capaian layak mendapat perhatian, yaitu kerukunan antarumat beragama.

Survei Nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 menunjukkan bahwa 72,5 persen masyarakat menilai pemerintah berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama. Angka ini menjadi penilaian keberhasilan tertinggi dibandingkan sejumlah persoalan lain yang ditanyakan kepada publik.

Temuan itu semakin menarik karena bukan merupakan fenomena sesaat. Sepanjang 2026, Poltracking telah tiga kali melakukan survei nasional, yakni pada Maret, Mei, dan Agustus. Dalam ketiga survei tersebut, kerukunan antarumat beragama konsisten ditempatkan masyarakat sebagai salah satu capaian terbaik pemerintahan.

Konsistensi tersebut penting dibaca lebih jauh. Karena sifatnya yang tidak kasatmata, kerukunan kerap baru terasa penting ketika ia hilang. Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk dengan berbagai keberagaman. Dalam masyarakat seperti ini, stabilitas sosial bukan sekadar keadaan tanpa konflik. Stabilitas adalah kemampuan warga yang berbeda untuk tetap hidup berdampingan, bekerja sama, dan menyelesaikan perbedaan tanpa menjadikannya sebagai permusuhan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai capaian tersebut sebagai hasil kerja bersama pemerintah dan masyarakat. Pemerintah, menurut dia, tidak mungkin sendirian membangun kehidupan keagamaan yang harmonis. Masyarakat, organisasi keagamaan, tokoh agama, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, serta berbagai komunitas memiliki kontribusi dalam menjaga ruang sosial tetap damai.

Negara dapat membuat regulasi, membangun forum dialog, dan melakukan mitigasi konflik. Namun, toleransi sesungguhnya tumbuh dari interaksi sehari-hari, ketika warga dengan keyakinan berbeda saling menghormati, ketika rumah ibadah dapat menjalankan aktivitas dengan tenang, dan ketika perbedaan identitas tidak menjadi penghalang untuk bekerja bersama. Karena itu, kerukunan manjadi fondasi pembangunan yang harus terus diperkuat.

Kerukunan memiliki nilai strategis yang jauh melampaui urusan keagamaan. Ia merupakan modal sosial bagi pembangunan nasional. Demokrasi akan sulit berkembang sehat apabila perbedaan politik dengan mudah berubah menjadi pertentangan identitas. Untuk itulah capaian kerukunan perlu ditempatkan sebagai salah satu aset pemerintahan Prabowo-Gibran.

Hasil survei Media Survei Nasional (Median), juga menunjukkan 56,2 persen masyarakat merasa puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan bahwa data tersebut menunjukkan mayoritas publik masih memberikan penilaian positif terhadap pemerintah. Angka itu merupakan pengingat penting, bahwa kerukunan justru harus menjadi modal untuk menyelesaikan tantangan ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, pelayanan publik, dan penegakan hukum.

Masyarakat yang rukun akan memberi pemerintah ruang lebih luas untuk bekerja. Sebaliknya, pemerintahan yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan akan semakin memperkuat kerukunan. Hubungan keduanya bersifat timbal balik.

Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, dinamika politik tentu tidak akan berhenti. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian normal dari demokrasi. Bahkan, pemerintahan yang kuat membutuhkan kritik agar kebijakan publik tetap terkoreksi.

Sekretaris Jenderal DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), Robi Anugrah Marpaung, mengingatkan bahwa perbedaan pandangan politik merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, menurut dia, persatuan dan keutuhan Indonesia harus tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Pesan tersebut semakin relevan di tengah ruang publik digital yang bergerak sangat cepat. Perdebatan politik hari ini tidak hanya berlangsung di parlemen atau ruang diskusi, tetapi juga pada layar telepon jutaan warga. Sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan menit, membentuk persepsi, bahkan memicu kemarahan sebelum fakta sebenarnya diketahui.

Robi karena itu mendorong masyarakat menyampaikan aspirasi secara bijak, santun, damai, dan sesuai koridor hukum. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus diarahkan menjadi masukan konstruktif, bukan bahan bakar permusuhan. Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi karena disinformasi dan provokasi dapat memperburuk situasi serta menciptakan perpecahan. Inilah tantangan kerukunan Indonesia berikutnya.

Kerukunan tidak boleh dimaknai sebagai ketiadaan kritik. Persatuan bukan pula alasan untuk menyeragamkan pandangan. Demokrasi yang sehat justru memberi ruang seluas-luasnya bagi perbedaan sekaligus menyediakan kedewasaan untuk menerima bahwa orang lain dapat memiliki pilihan berbeda.

Dua tahun perjalanan Prabowo-Gibran menunjukkan bahwa menjaga Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun jalan, meningkatkan investasi, atau mengejar pertumbuhan ekonomi. Indonesia juga membutuhkan kemampuan merawat kerukunan di antara warganya.

Angka 72,5 persen dalam survei Poltracking tentu patut diapresiasi. Namun, pekerjaan sesungguhnya adalah memastikan angka itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Kerukunan harus terus hadir bukan hanya dalam laporan survei, tetapi di sekolah, tempat kerja, rumah ibadah, lingkungan tempat tinggal, ruang politik, hingga media sosial. Sebab, dalam bangsa sebesar dan seberagam Indonesia, kerukunan bukan sekadar sebuah capaian pemerintahan. Ia adalah modal besar untuk memastikan Indonesia tetap berdiri sebagai rumah bersama.

)* penulis merupakan kontributor Komunitas Rukun Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tolak Kekerasan Bersenjata, Tokoh Adat Serukan Papua yang Aman dan Damai

Oleh : Yohanes Wandikbo Penembakan terhadap tiga warga sipil yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan pentingnya perlindungan masyarakat dan penguatan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian di Tanah Papua. Kekerasan terhadap warga sipil tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan. Karena itu, penolakan terhadap kekerasan perlu menjadi sikap bersama demi mewujudkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Ondoafi Kampung Sabron Yaru, Nikodemus Yaboisembut, mengecam tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat. Menurutnya, penembakan terhadap warga sipil bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan adat Papua yang menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, serta keharmonisan. Masyarakat seharusnya dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa dihantui ancaman kekerasan. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi perhatian bersama, sementara setiap persoalan perlu diselesaikan melalui cara-cara yang damai dan sesuai dengan hukum. Nikodemus Yaboisembut juga menilai bahwa tokoh adat mempunyai peran strategis dalam menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan pemerintah. Kedudukan tokoh adat yang dekat dengan kehidupan warga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, mencegah kesalahpahaman, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap upaya menjaga keamanan. Melalui pendekatan persuasif dan penguatan nilai-nilai adat, para pemimpin masyarakat dapat mendorong warga untuk menolak kekerasan serta mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan. Dalam konteks tersebut, kehadiran pemerintah melalui pelayanan publik dan berbagai program pembangunan perlu didukung dengan partisipasi masyarakat. Pembangunan tidak hanya membutuhkan kebijakan dan anggaran, tetapi juga lingkungan yang aman agar pelaksanaannya berjalan efektif. Ketika masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang, akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi akan lebih terbuka. Karena itu, menjaga keamanan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Seruan serupa disampaikan Ondoafi Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, yang menyayangkan penembakan terhadap tiga warga sipil. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan. Menurutnya, koordinasi antara warga, tokoh adat, dan aparat keamanan perlu diperkuat agar potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Ia juga mendorong peningkatan patroli kepolisian di wilayah yang membutuhkan penguatan pengamanan sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang memadai. Nikson Marweri berpandangan bahwa upaya menjaga keamanan harus dilakukan melalui pendekatan yang terukur, humanis, dan mengutamakan keselamatan warga. Kehadiran aparat keamanan perlu diiringi komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat agar langkah pengamanan dapat berjalan secara efektif dan memperoleh dukungan publik. Di sisi lain, warga juga perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persaudaraan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan tersebut penting karena keamanan bukan semata-mata persoalan penindakan terhadap pelaku kekerasan. Pencegahan konflik, penguatan solidaritas sosial, dan penyelesaian persoalan melalui dialog juga menjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas. Dengan demikian, kerja sama masyarakat dan aparat dapat diarahkan untuk membangun rasa aman yang berkelanjutan, tanpa mengabaikan penghormatan terhadap adat, hak warga, dan ketentuan hukum yang berlaku. Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Deiyai, Bernard Pekei, mengajak masyarakat adat di 67 desa atau kampung di wilayahnya untuk berperan aktif menjaga ketertiban. Ia juga mendorong dukungan masyarakat terhadap program pemerintah pusat yang bertujuan memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga berbagai program dapat berjalan dan memberikan manfaat secara optimal. Bernard Pekei menilai bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat persatuan dan mencegah berkembangnya konflik. Nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap kehidupan yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Papua dapat menjadi fondasi untuk membangun perdamaian. Melalui keterlibatan aktif di lingkungan masing-masing, masyarakat dapat memperkuat ketahanan sosial sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman bagi generasi muda untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi. Pada akhirnya, masa depan Papua yang aman dan sejahtera membutuhkan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat perlu terus membangun sinergi dengan mengedepankan perlindungan warga sipil, dialog, serta penghormatan terhadap hukum. Kecaman terhadap kekerasan harus diikuti langkah nyata untuk menjaga kerukunan dan mencegah konflik berulang. Selain itu, penguatan literasi masyarakat dan penyebaran informasi yang akurat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian di Papua. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh provokasi maupun informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan memecah persatuan. Tokoh adat, tokoh agama, serta pemimpin lokal dapat berperan aktif menyampaikan pesan perdamaian dan membangun komunikasi yang konstruktif. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, upaya pemerintah dalam menjaga keamanan, meningkatkan pelayanan publik, dan mempercepat pembangunan di Papua diharapkan dapat berjalan lebih optimal demi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua