Oleh: Fajar Ramadhan
Ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global menunjukkan bahwa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas sekaligus memastikan roda perekonomian tetap bergerak. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, inflasi sebesar 3,19 persen, serta mulai menguatnya kembali arus modal ke pasar keuangan domestik.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa kondisi perekonomian nasional masih cukup baik dan memiliki daya tahan menghadapi tekanan global. Suahasil Nazara menilai capaian pertumbuhan dan inflasi menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menentukan arah pengelolaan ekonomi selanjutnya. Menurutnya, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan karena pertumbuhan tetap berada pada level 5,45 persen, sementara inflasi tercatat 3,19 persen dan pemerintah masih menunggu perkembangan pertumbuhan pada kuartal III 2026.
Dari sisi pasar keuangan, ketahanan tersebut juga terlihat dari akumulasi arus modal yang masuk sebesar Rp141,6 triliun. Aliran modal asing secara neto ke Surat Berharga Negara mencapai Rp40,8 triliun, yang antara lain mencerminkan kepercayaan terhadap kredibilitas fiskal. Sementara itu, arus masuk pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia tercatat Rp171,6 triliun seiring dengan penyesuaian penerbitan instrumen tersebut oleh Bank Indonesia.
Kinerja fiskal juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Hingga akhir Agustus, pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65 persen dari target, sedangkan belanja negara terealisasi Rp2.295 triliun. Dengan posisi tersebut, defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki ruang untuk menjalankan fungsi fiskal sekaligus menjaga defisit dalam batas yang terukur.
Dalam satu tahun terakhir, pemerintah juga terus mengarahkan kebijakan fiskal agar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan negara, tetapi menjadi pengungkit kegiatan ekonomi. Berbagai stimulus, percepatan belanja, dukungan terhadap konsumsi, serta penguatan investasi menjadi bagian dari respons terhadap perubahan kondisi global. Upaya menjaga kesinambungan aktivitas ekonomi tersebut menjadi penting karena tekanan eksternal dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, perdagangan, dan keputusan investasi.
Oleh sebab itu, capaian makroekonomi perlu diikuti dengan penguatan fundamental, peningkatan produktivitas, dan pemerataan manfaat pertumbuhan agar ketahanan ekonomi dapat dirasakan hingga tingkat masyarakat dan dunia usaha. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan fiskal tetap prudent sehingga dukungan terhadap perekonomian tidak mengurangi kredibilitas pengelolaan keuangan negara.
Dalam konteks yang lebih luas, kinerja tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah selama setahun terakhir dalam mempertahankan aktivitas ekonomi, memperkuat daya beli melalui berbagai stimulus, menjaga keberlanjutan belanja negara, serta menciptakan kondisi yang mendukung investasi dan konsumsi masyarakat. Stabilitas tersebut perlu dipandang sebagai proses yang membutuhkan kesinambungan kebijakan, bukan sekadar capaian angka dalam satu periode.
Dari sisi kebijakan moneter, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia, terutama ketika ketidakpastian global masih tinggi. Destry Damayanti juga menekankan perlunya memperkuat neraca pembayaran untuk mendukung ketahanan eksternal.
Neraca perdagangan mencatat surplus sebesar 0,12 miliar dolar AS setelah pada periode sebelumnya mengalami defisit 0,45 miliar dolar AS. Sementara itu, investasi portofolio asing pada kuartal III hingga periode pengamatan mencatat net inflow 0,4 miliar dolar AS, antara lain ditopang penerbitan global bond pemerintah dan arus masuk ke Surat Berharga Negara.
Selain itu, Destry Damayanti melihat konsumsi rumah tangga masih terjaga karena dukungan berbagai stimulus pemerintah serta membaiknya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen. Investasi juga tetap tumbuh, terutama melalui investasi pemerintah, meskipun ruang peningkatan investasi swasta masih terbuka. Dari sektor eksternal, ekspor nonmigas menunjukkan perkembangan positif sejalan dengan meningkatnya permintaan dari sejumlah negara.
Rangkaian indikator tersebut memperlihatkan bahwa menjaga ketahanan ekonomi membutuhkan koordinasi lintas lembaga yang konsisten. Kebijakan fiskal tidak dapat berjalan sendiri karena stabilitas nilai tukar, likuiditas, investasi, sistem pembayaran, serta kondisi sektor riil saling berkaitan. Karena itu, sinergi pemerintah dan Bank Indonesia menjadi salah satu fondasi penting untuk menghadapi perubahan ekonomi global.
Bank Indonesia juga terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan.
Pada akhirnya, capaian pertumbuhan 5,45 persen, inflasi 3,19 persen, arus modal yang kembali masuk, serta pengelolaan APBN yang tetap terukur menjadi modal penting untuk melanjutkan penguatan ekonomi nasional. Pemerintah bersama Bank Indonesia perlu mempertahankan koordinasi, meningkatkan kualitas belanja, memperluas sumber pertumbuhan, memperkuat investasi swasta, dan menjaga daya beli masyarakat agar ketahanan ekonomi tidak hanya mampu menghadapi gejolak global, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan terkoordinasi, stabilitas keuangan dapat terus dijaga sekaligus menjadi pijakan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
*) Pengamat Kebijakan Fiskal dan Moneter


