Lompat ke konten utama

Kata Papua

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka - Kata Papua

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan peluang penguatan di tengah tekanan pasar global dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan, tetapi sejumlah faktor domestik memberikan ruang bagi pemulihan.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah berkaitan dengan aksi jual bersih saham oleh investor asing serta kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia.

Meski demikian, inflasi dan kinerja perdagangan domestik yang lebih baik dari perkiraan dinilai dapat menahan tekanan tersebut.

Fundamental ekonomi Indonesia juga memperlihatkan sejumlah indikator positif. Neraca perdagangan pada September 2026 mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS, dengan ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS dan impor sebesar 24,23 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi Oktober tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan.

Aktivitas manufaktur turut memberikan sentimen positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026 dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

Namun, tekanan eksternal tetap perlu diperhatikan. Analis mata uang Ibrahim Assuabi menyebut ketidakpastian hubungan Iran dan AS serta risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi global.

“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” ujar Ibrahim Assuabi, analis mata uang.

Selain geopolitik, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga memengaruhi pergerakan dolar. Sikap sejumlah pejabat Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi membuat investor tetap mencermati perkembangan inflasi dan ketenagakerjaan AS.

Dari dalam negeri, Tim Ekonom BCA menilai pelemahan rupiah, arus modal asing yang keluar, serta risiko inflasi impor dapat mendorong Bank Indonesia mengambil kebijakan moneter lebih ketat.

“Oleh karena itu, kami mempertahankan pandangan bahwa Bank Indonesia mungkin akan menyampaikan kenaikan suku bunga acuan _(policy rate hike)_ lagi untuk menjaga stabilitas eksternal dan menenangkan pasar domestik,” menurut Tim Ekonom BCA dilansir dari CNBC Indonesia.

Tim Ekonom Permata Bank juga memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November 2026 sehingga BI-Rate mencapai 6,00 persen.

Dengan demikian, peluang penguatan rupiah masih terbuka, terutama apabila fundamental ekonomi domestik tetap terjaga dan tekanan eksternal mulai mereda.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Pertumbuhan tertinggi justru dicatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni mencapai 11,22 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya hunian kamar hotel serta konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran. Perkembangan ini mencerminkan aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat yang turut menggerakkan industri perhotelan, kuliner, transportasi, serta berbagai usaha kecil di daerah wisata. Selanjutnya, sektor jasa keuangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,47 persen berkat peningkatan intermediasi perbankan. Sementara itu, jasa lainnya tumbuh 8,32 persen, antara lain didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Pertumbuhan berbagai sektor jasa tersebut memperlihatkan bahwa permintaan domestik dan mobilitas masyarakat masih menjadi penopang penting perekonomian Indonesia. BPS juga mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III 2026 dengan kontribusi mencapai 1,20 poin persentase. Edy Mahmud menjelaskan bahwa dari total pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar 2,22 poin persentase. Dalam setahun terakhir, pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan kebijakan fiskal, keberlanjutan pembangunan, serta pemeliharaan aktivitas ekonomi domestik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan ekonomi atau shock absorber. Berbagai upaya menjaga konektivitas, memperkuat layanan dasar, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif turut menjadi bagian dari strategi mempertahankan pertumbuhan. Keberhasilan tersebut perlu terus ditingkatkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Meskipun demikian, capaian positif tersebut tidak berarti Indonesia terbebas dari berbagai tantangan. Pertumbuhan sektor pertanian yang masih terbatas, kebutuhan meningkatkan daya saing industri, serta kerentanan terhadap perubahan kondisi ekonomi global tetap membutuhkan perhatian serius. Pemerintah perlu memastikan kebijakan anggaran berjalan tepat sasaran, sementara dunia usaha didorong meningkatkan investasi, inovasi, dan produktivitas agar perekonomian semakin kuat. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah akan menganalisis perkembangan ekonomi terkini sekaligus prospek perekonomian menjelang akhir tahun. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap kuat di sekitar 5,5 persen. Optimisme tersebut didasarkan pada aktivitas ekonomi domestik yang diyakini masih menjadi penopang utama serta peran APBN yang stabil dan kuat dalam menghadapi berbagai guncangan. Suahasil menegaskan bahwa sinergi kebijakan dan momentum aktivitas ekonomi harus terus dijaga untuk mendukung pencapaian target tersebut. Oleh karena itu, koordinasi antarkementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting agar berbagai peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen pada kuartal