Lompat ke konten utama

Kata Papua

Bersatu Tangkal Ideologi Ekstrem Radikalisme yang Gerus Pondasi Kemanusiaan - Kata Papua

Bersatu Tangkal Ideologi Ekstrem Radikalisme yang Gerus Pondasi Kemanusiaan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Maya Ayu Kuswardi

Bersatu untuk menangkal ideologi ekstrem radikalisme merupakan hal yang sangat penting karena hal tersebut berpotensi untuk terus menggerus pondasi kemanusiaan jika seseorang sudah terlanjur terpapar.

Maka dari itu, jangan sampai ada seorang pun sampai terlanjur terpapar akan ideologi ekstrem radikalisme tersebut karena sekaligus pula nanti akan merusak seluruh sendi-sendi bangsa dan kesatuan serta persatuan di Indonesia akan turut tergerus.

Menangkal ideologi atau pemahaman yang sangat berbahaya tersebut merupakan kewajiban dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menyelamatkan generasi muda penerus bangsa selanjutnya, sehingga tetap tertanam dalam benak mereka akan pondasi kemanusiaan yang kuat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Rycko Amelza Dahniel menyampaikan bahwa pemerintah terus memiliki komitmen yang sangat kuat dalam melakukan penguatan akan kerja sama global maupun dalam negeri dengan semangat berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Semangat kolaborasi tersebut harus terjadi, baik dari pihak pemerintah, masyarakat sipil, sektor privat, akademisi hingga media (pentahelix) dengan terus mengedepankan sisi kemanusiaan antar satu dengan yang lain.

Bagaimana kuatnya komitmen dari pemerintah tersebut, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak henti-hentinya terus melakukan perlawanan kepada terorisme dan radikalisme, yang mana tidak akan berjalan secara optimal jika tidak ada bantuan secara multi sektor.

Lebih lanjut, pihak BNPT sendiri dalam melaksanakan upaya deradikalisasi, yakni menggunakan pendekatan secara halus atau soft approach yang bertujuan untuk memutus akar ideologi radikalisme.

Mereka memberikan saran kepada para orang tua khususnya agar senantiasa mengarahkan anaknya untuk mendapatkan sekolah yang moderat, karena jika pendidikan secara moderat terjadi, maka akan terwujud kehidupan yang penuh kedamaian dan harmoni antar masyarakat terjadi.

Salah satu cara yang efektif serta mengakar untuk memutuskan akar penyebab dari maraknya ideologi terorisme dan radikalisme di Indonesia adalah dengan merangkul masyarakat dari lingkup paling kecil, yakni keluarga.

Bukan hanya itu, namun cara lain untuk memutus mata rantai penyebaran radikalisme tersebut bisa dengan efektif terjadi apabila anak-anak dari mantan pelaku teror mendapatkan perhatian yang baik.

Perlakuan tersebut kepada pihak keluarga mantan pelaku teror, menunjukkan bahwa pemerintah memang terus mengedepankan pendekatan secara humanis atau menjunjung tinggi asas kemanusiaan.

Dengan demikian, masyarakat secara luas juga mengalami perubahan pola pikir atau mindset kepada para mantan pelaku terur serta keluarga mereka, sehingga akan berdampak pada perubahan pandangan dan budaya kekerasan yang mungkin sempat mereka anut.

Beberapa langkah konkret dari upaya pendekatan secara humanis tersebut pemerintah lakukan dengan banyak program kewirausahaan untuk meningkatkan kesejahteraan setelah para mantan pelaku teror menyelesaikan masa hukuman mereka. Justru pada masa tersebut menjadi waktu yang sangat krusial untuk bisa melakukan pendekatan kepada mereka dan melangsungkan deradikalisasi atau upaya memutus mata rantai penyebaran paham radikalisme.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum (Ketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI), K.H. Marsudi Syuhud meminta kepada semua pihak untuk bisa saling dan terus menanamkan berbagai nilai kemanusiaan kepada para generasi muda penerus bangsa demi mencegah mereka semua dari paparan paham radikalisme.

Sangat penting untuk menanamkan kepada para anak muda akan bagaimana sifat-sifat kemanusiaan, karena dengan adanya rasa tersebut yang terpatri di dalam hati mereka, maka seseorang tidak akan mudah terpengaruh akan paham yang ekstrem.

Selain itu ketika masyarakat memahami nilai-nilai kemanusiaan, maka hal tersebut bisa dengan mudah turun kepada para generasi muda, yang menciptakan mereka mampu dengan mudah saling menghargai dan menghormati akan adanya perbedaan dalam kehidupan dalam lingkup berwarga negara.

Paham radikalisme sudah ibarat seperti benalu yang menempel pada tubuh bernama kemanusiaan, benalu tersebut terus berupaya untuk menggerogoti nilai-nilai luhur serta menyeret siapapun yang telah terpapat olehnya ke jurang kehancuran.

Keberadaan ideologi ekstrem itu dengan segala bentuknya, bukan hanya mampu mengancam individu manusia saja, melainkan juga sangat menggerogoti seluruh pondasi akan moral serta sosial di tengah masyarakat.

Apabila melihat bagaimana dari perspektif individu, adanya paham radikalisme bagaikan sebuah racun yang mampu merenggut moralitas dan masa depan seseorang untuk menjadi semakin suram.

Apabila seseorang sudah terpapar oleh radikalisme, maka bukan tidak mungkin dirinya akan mengalami hilang akal sehat dan objektivitasnya, orang tersebut akan semakin terjerumus dalam sebuah propaganda serta upaya manipulasi.

Orang yang telah terpapar akan paham ekstrem tersebut akan dengan sangat mudah termakan oleh kebencian dan juga prasangka, sehingga dirinya mudah melakukan berbagai macam tndakan berbahaya bahkan tanpa adanya pertimbangan yang matang.

Oleh karena itu, hanya dengan bersatu secara bersama-sama dari lintas elemen dan sektor dalam upaya untuk menangkal ideologi ekstrem bernama radikalisme tersebut akan mampu menyelamatkan sisi kemanusiaan, karena keberadaannya terus menggerogoti nilai luhur dari diri manusia.
*) Kontributor Media Cetak

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata