Kata Papua

Bupati Lanny Jaya: Unjuk Rasa Tolak Otsus, Bukan Atas Nama Rakyat - Kata Papua

Bupati Lanny Jaya: Unjuk Rasa Tolak Otsus, Bukan Atas Nama Rakyat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Bupati Lanny Jaya, Befa Jigibalom memastikan unjuk rasa tolak otonomi khusus di Lanny Jaya, tidak boleh mengatasnamakan masyarakat Lanny Jaya. 

Befa memastikan unjuk rasa dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Lanny Jaya dan oknum ketua dan anggota DPRD Lanny Jaya.

“Demo tolak otsus di Lanny Jaya dilakukan oleh mahasiswa yang selama ini melakukan unjuk rasa di Kota Jayapura. Lalu, kembali melakukan unjuk rasa di Tiom, ibu kota Kabupaten Lanny Jaya dan diterima oleh oknum anggota DPRD yang sedang berpolitik. Mahasiswa ini difasilitasi oleh oknum ketua dan anggota DPRD Lanny Jaya yang direkayasa,” katanya.

Befa menambahkan unjuk rasa itu tidak boleh mengatasnamakan rakyat Lanny Jaya. Sebab, saat ini masyarakat Lanny Jaya belum berbicara menolak dan menerima Otsus Papua. 

“Masyarakat Lanny Jaya sedang bekerja di kebun dan dusun masing-masing. Kami (pemerintah) berencana menghadirkan langsung ribuan masyarakat di Tiom dan akan secara langsung menanyakan apakah menolak atau menerima Otsus Papua,” jelas Befa. 

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.