Lompat ke konten utama

Kata Papua

Dana Stabilisasi Topang Rupiah dari Tekanan Pasar - Kata Papua

Dana Stabilisasi Topang Rupiah dari Tekanan Pasar

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global terus diperkuat melalui sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah. Berbagai instrumen moneter yang diterapkan diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sekaligus menopang ketahanan ekonomi nasional dari tekanan eksternal.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan yang ditempuh otoritas moneter bersama pemerintah. Menurutnya, strategi yang diterapkan tidak hanya berfokus pada pengendalian nilai tukar, tetapi juga menjaga likuiditas serta meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.

“Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing,” ujar Destry.

Ia menambahkan bahwa langkah-langkah tersebut semakin efektif karena didukung sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat kepercayaan investor sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet. Ia menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate merupakan kebijakan yang tepat untuk merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih tinggi. Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat stabilitas mata uang nasional sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah di mata investor.

“Kenaikan BI-Rate tetap merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama dalam kondisi tekanan terhadap rupiah yang cukup kuat,” ujar Yusuf.

Menurut Yusuf, kenaikan suku bunga berpotensi memperbaiki keseimbangan antara risiko dan imbal hasil yang menjadi pertimbangan utama investor global dalam menentukan alokasi investasinya. Dengan kondisi tersebut, peluang masuknya arus modal asing ke pasar keuangan domestik menjadi semakin besar sehingga dapat memperkuat stabilitas pasar dan menopang nilai tukar rupiah.

Kombinasi kebijakan moneter yang adaptif, dukungan dana stabilisasi, serta koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan mampu menjaga kepercayaan pasar. Langkah tersebut sekaligus menjadi fondasi penting dalam mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional di tengah tantangan ekonomi global yang masih dinamis. (*)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts