Lompat ke konten utama

Kata Papua

Danantara Housing Expo Perkuat Akses Hunian bagi MBR dan Non-MBR - Kata Papua

Danantara Housing Expo Perkuat Akses Hunian bagi MBR dan Non-MBR

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak, pemerintah menggelar Danantara Housing Expo 2026. Pameran ini menghadirkan beragam pilihan hunian dan fasilitas pembiayaan kompetitif untuk melayani kebutuhan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) serta masyarakat umum.

Direktur Utama PT PP Properti Tbk, Dyah Rahadyannie, menyatakan bahwa keikutsertaan perusahaan dalam Danantara Housing Expo merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat.

“Kami menghadirkan delapan proyek hunian berkelanjutan yang tersebar di berbagai wilayah strategis untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya,” ujar Dyah.

Menurutnya, proyek tersebut dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, kualitas bangunan, serta aksesibilitas terhadap pusat aktivitas ekonomi dan fasilitas publik.

Selain itu, kolaborasi dalam Danantara Housing Expo diharapkan dapat mempertemukan masyarakat dengan berbagai solusi kepemilikan rumah yang lebih mudah, sehingga semakin banyak keluarga Indonesia dapat memiliki hunian yang aman, nyaman, dan bernilai investasi.

Dyah menilai bahwa sinergi antara pemerintah, pengembang, lembaga pembiayaan, dan sektor perbankan menjadi fondasi penting dalam mempercepat penyediaan rumah bagi masyarakat.

“Melalui kolaborasi yang semakin kuat, kami optimistis target peningkatan kepemilikan rumah dapat tercapai sekaligus mendukung pertumbuhan sektor properti nasional,” katanya.

Sementara itu, Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita menyatakan bahwa IFG Life menghadirkan layanan asuransi jiwa kredit sebagai bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan perumahan.

“Kehadiran kami di Danantara Housing Expo merupakan komitmen untuk memperkuat ekosistem pembiayaan hunian melalui perlindungan asuransi yang memberikan rasa aman bagi debitur maupun lembaga pembiayaan,” ujarnya.

Fabiola menjelaskan bahwa perlindungan asuransi jiwa kredit menjadi elemen penting dalam menciptakan pembiayaan perumahan yang sehat dan berkelanjutan.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan akses terhadap kredit rumah yang mudah, tetapi juga kepastian perlindungan apabila terjadi risiko yang tidak diharapkan selama masa pembiayaan.

Fabiola menilai sinergi antara perusahaan asuransi, perbankan, pengembang, dan pemerintah akan semakin memperkuat kepercayaan masyarakat untuk memiliki rumah melalui skema pembiayaan yang aman dan terpercaya.

Danantara Housing Expo 2026 turut menghadirkan berbagai program menarik, mulai dari pilihan hunian subsidi dan non-subsidi, penawaran suku bunga kompetitif, kemudahan uang muka, hingga konsultasi pembiayaan secara langsung dengan berbagai mitra perbankan dan pengembang.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan