Lompat ke konten utama

Kata Papua

Danantara Tunjukkan Kinerja Terbaik, Jadi Sovereign Wealth Fund Kelas Dunia - Kata Papua

Danantara Tunjukkan Kinerja Terbaik, Jadi Sovereign Wealth Fund Kelas Dunia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Kinerja Badan Pengelola Investasi Danantara dalam satu tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan dan menempatkan Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta investasi global. Sejak diluncurkan pada Februari 2025, lembaga sovereign wealth fund milik Indonesia ini terus memperkuat fondasi kelembagaan, memperluas jaringan investasi, serta menjalankan berbagai proyek strategis yang berdampak langsung pada perekonomian nasional.

Momentum satu tahun berdirinya Danantara menjadi refleksi atas capaian yang telah diraih. Dalam kurun waktu relatif singkat, Danantara berhasil menunjukkan performa yang tidak hanya kompetitif di tingkat nasional, tetapi juga mulai diakui dalam skala global. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bahkan menyebut bahwa keberadaan Danantara menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara yang memiliki sovereign wealth fund besar di dunia.

“Kita bersyukur, kita sekarang sudah punya suatu badan yang bisa disetarakan dengan sovereign wealth fund di dunia. Kita bersyukur sekarang Indonesia punya sovereign wealth fund mungkin ke-6, ke-7 terbesar di dunia,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, capaian tersebut menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik dan komitmen kuat dari pemerintah, pengelolaan aset negara dapat memberikan hasil nyata bagi pembangunan nasional.

“Kita juga bersyukur bahwa manajemen satu tahun ini sudah membuktikan bahwa dengan manajemen yang baik, dengan pengelolaan yang baik, terutama dengan will yang benar, dengan political will, dengan jiwa yang benar, hasil sudah kelihatan,” kata Presiden.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa tahun pertama berdirinya lembaga tersebut difokuskan pada penguatan fondasi kelembagaan serta tata kelola investasi yang berstandar internasional.

“Selama satu tahun pertama ini, fokus utama kami adalah memperkuat fondasi kelembagaan, tata kelola, serta memastikan bahwa seluruh sistem pengelolaan investasi berjalan secara transparan dan profesional,” jelas Rosan.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut penting agar Danantara mampu menjadi lembaga investasi jangka panjang yang kredibel di mata investor global.

“Kami ingin memastikan bahwa Danantara tidak hanya menjadi pengelola investasi negara, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi berbagai pihak di tingkat global dalam membangun proyek-proyek yang memberikan dampak ekonomi nyata,” pungkasnya.

Sejalan dengan visi tersebut, Danantara telah menyiapkan berbagai proyek investasi strategis pada tahun 2026 dengan nilai mencapai sekitar 202 triliun rupiah atau sekitar 13,1 miliar dolar AS. Investasi ini mencakup sektor-sektor prioritas seperti energi terbarukan, pengolahan industri hilir, pusat data digital, hingga penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. ***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Satgas Bersama Lintas Negara Menutup Celah Hukum Pelaku Karhutla 

Oleh Kailani Athira Pemerintah Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama lintas negara melalui pembentukan satuan tugas bersama atau joint task force untuk menindak perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini menjadi bagian penting dalam mempersempit ruang gerak korporasi yang merusak lingkungan, sekaligus memastikan bahwa pelaku tidak dapat menghindari pertanggungjawaban hukum dengan memanfaatkan perbedaan yurisdiksi antarnegara. Melalui kerja sama tersebut, kedua negara berupaya memperkuat pertukaran informasi, penelusuran aliran dana, pengumpulan bukti, serta koordinasi penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab. Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir menegaskan bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat untuk membawa pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan ke proses peradilan. Menurutnya, pemerintah tidak ingin penanganan karhutla hanya berhenti pada upaya memadamkan api, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan, termasuk perusahaan yang memperoleh keuntungan dari aktivitas pembakaran lahan. Ia menyampaikan bahwa Indonesia siap menjalin kerja sama dengan Singapura maupun pihak lain untuk memastikan para pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Pembentukan satgas bersama tersebut diharapkan mampu memperkuat proses investigasi, terutama dalam mengungkap keterlibatan perusahaan yang aktivitas bisnisnya diduga berkaitan dengan terjadinya kebakaran. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penelusuran intelijen keuangan untuk mengetahui sumber pendanaan, transaksi, serta aliran uang yang berhubungan dengan dugaan tindak pidana lingkungan. Arrmanatha menilai bahwa persoalan karhutla mempunyai dimensi yang lebih luas karena dampaknya dapat melampaui batas wilayah suatu negara. Kabut asap yang dihasilkan bisa menyebar ke negara tetangga, sementara transaksi keuangan perusahaan juga dapat berlangsung melalui jaringan lintas negara. Oleh sebab itu, penelusuran jejak keuangan atau ‘money trail’ menjadi instrumen penting untuk mengungkap tanggung jawab korporasi. Ia menekankan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan pendekatan menyeluruh agar perusahaan tidak berlindung di balik batas geografis maupun kompleksitas aktivitas bisnis internasional. Indonesia juga menyambut positif tawaran Singapura untuk berbagi data mengenai perusahaan yang diduga mempunyai keterkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Informasi tersebut dinilai dapat membantu memperkuat proses penyelidikan, mengidentifikasi pihak yang terlibat, serta melengkapi bukti yang dibutuhkan aparat penegak hukum. Arrmanatha berharap kerja sama ini mampu menciptakan pertanggungjawaban korporasi yang lebih kuat. Dari pihak Singapura, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan menyampaikan bahwa pembentukan satgas bersama merupakan pengakuan atas karakter persoalan kabut asap yang bersifat lintas batas. Ia menjelaskan bahwa masalah tersebut tidak mungkin diselesaikan hanya melalui tindakan sepihak, melainkan membutuhkan koordinasi dan komitmen bersama antara negara yang terdampak. Vivian menilai Indonesia dan Singapura perlu membangun respons kolektif, baik dalam mencegah kebakaran maupun memastikan perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran dapat diproses berdasarkan ketentuan hukum. Vivian juga menjelaskan bahwa satgas tersebut akan menjadi sarana untuk memperlancar koordinasi, pertukaran informasi, serta penguatan kerja sama dalam mengantisipasi aktivitas perusahaan yang berpotensi memicu karhutla. Kedua negara diharapkan dapat mengembangkan mekanisme yang lebih efektif untuk mengidentifikasi risiko, mengumpulkan informasi, dan mendukung proses penindakan. Selain memperkuat koordinasi, Singapura juga tengah mengkaji pengembangan instrumen hukum dan kebijakan yang memungkinkan perusahaan dimintai pertanggungjawaban atas kegiatan yang menimbulkan kerusakan lingkungan hingga berdampak ke negara lain. Upaya tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keselarasan kebijakan, terutama ketika aktivitas perusahaan, transaksi keuangan, dan bukti pelanggaran melibatkan lebih dari satu wilayah hukum. Meski demikian, setiap tindakan penegakan hukum harus tetap mengedepankan prinsip keadilan, kecukupan bukti, serta penghormatan terhadap peraturan yang berlaku di masing-masing negara. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah Indonesia juga terus menunjukkan upaya memperkuat tata kelola lingkungan melalui peningkatan koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan, pengawasan terhadap wilayah rawan kebakaran, serta penguatan langkah pencegahan dan penegakan hukum. Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga kawasan hutan, melindungi masyarakat dari dampak kabut asap, dan mempertahankan keberlanjutan lingkungan. Pembentukan satgas bersama dengan Singapura dapat menjadi pengembangan penting dari upaya tersebut karena penanganan karhutla kini tidak hanya bertumpu pada kemampuan nasional, tetapi juga didukung kerja sama internasional untuk mengatasi persoalan yang semakin kompleks. Ke depan, keberhasilan kerja sama Indonesia dan Singapura tidak hanya diukur dari pembentukan satgas atau kesepakatan pertukaran informasi, melainkan dari hasil nyata berupa terungkapnya pelaku, tersedianya bukti yang kuat, dan terlaksananya proses hukum secara adil. Pemerintah kedua negara perlu menjaga konsistensi koordinasi agar tidak ada perusahaan yang leluasa menghindari tanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Masyarakat juga perlu mendukung upaya perlindungan hutan dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan melaporkan aktivitas pembakaran lahan yang mencurigakan. Dengan penegakan hukum yang tegas, transparan, dan berkelanjutan, kerja sama lintas negara diharapkan mampu menutup celah hukum bagi pelaku karhutla sekaligus mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang lebih sehat dan bebas dari ancaman kabut asap. )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik