Lompat ke konten utama

Kata Papua

Desa Digital Dorong IKN Menjadi Smart City - Kata Papua

Desa Digital Dorong IKN Menjadi Smart City

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Haikal Fathan Akbar

Era digital adalah keniscayaan, transaksi berbasis elektronik telah menjadi bukti bahwa digitalisasi telah menembus beragam sekat. Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara juga tidak ingin ketinggalan dalam mewujudkan smart city dengan menginisiasi desa digital.

Desa Bukit Raya, Penajam Paser Utara Kalimantan Timur menjadi desa percontohan sekaligus pusat studi bagi desa lain untuk menjadi desa digital atau smart village.

Sejak diresmikan sebagai desa digital pada Agustus 2022, sudah ada empat desa yang datang untuk melakukan studi banding ke Bukit Raya, tiga desa dari wilayah Kalimantan Timur, yakni Desa Sidorejo, Gunung Intan Babulu dan Sesulu sedangkan satu desa dari Kalimantan Tengah.

Perlu diketahui bahwa Bukit Raya merupakan desa digital yang didukung oleh Telkom dan IKN melalui Program Desa Digital Nusantara (Smart Village Nusantara). Program ini untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan Nusantara, khususnya dalam aspek teknologi dan informasi.

Kepala Otorita IKN Bambang Susantono menuturkan, digitalisasi yang masuk ke desa ini dapat menjadi percepatan untuk melakukan literasi digital ke masyarakat. Bambang juga mengapresiasi inisiasi tersebut telah sesuai dengan harapannya sebagaimana desa di wilayah Nusantara memiliki literasi digital yang baik dan menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Bambang selain teknologi bisa membantu kehidupan masyarakat sehari-hari, nantinya berbagai proses administrasi desa dengan Nusantara juga akan digital sehingga semua efisien sesuai dengan visi dan misi Nusantara sebagai kota cerdas.
Dengan adanya percepatan perkembangan digitalisasi di desa-desa di wilayah Nusantara, artinya Nusantara akan semakin siap menjadi smart city, menjadi kota dunia untuk semua.
Program desa digital ini ditujukan untuk mendorong percepatan serta pengembangan kawasan Nusantara khususnya dalam aspek teknologi dan informasi. Dengan program ini maka desa-desa di sekitar Nusantara sudah mengadopsi teknologi digital sejak dini dan nantinya akan mendukung ekosistem smart city yang akan diterapkan di Nusantara.
Penerapan teknologi digital tentu saja akan membuka banyak peluang, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun ekonomi. Nantinya para petani bisa menjual hasil panennya tanpa harus melalui tengkulak. Anak muda yang belum bekerja juga bisa memiliki keterampilan dengan mengikuti kelas daring untuk mendapatkan keterampilan yang dapat menunjang karirnya di masa depan.
Sekretaris Desa Bukit Raya, Adi Suriyadi menuturkan, Desa Bukit Raya sudah menggunakan teknologi informasi sebagai sarana pemilihan Kepala Desa Bukit Raya pada 2021. Misalnya dengan menggunakan akun YouTube untuk memberikan informasi kepada masyarakat.
Akun YouTube milik Desa Bukit Raya aktif memberikan informasi berbagai kegiatan desa. Mulai dari penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kunjungan desa lain, seminar KKN Mahasiswa, realisasi anggaran desa hingga wawancara khusus dengan Kepala IKN Bambang Susantono. Selain YouTube, Desa Bukit Raya juga aktif di berbagai platform media sosial lain, seperti instagram dan facebook.
Selain aktif di sosial media, status desa digital semakin diperkuat dengan adanya aplikasi yang dimiliki oleh Desa Bukit Raya, yakni aplikasi SimpelDesa untuk memudahkan pelayanan masyarakat. Seperti fitur Lapor Pemdes dan Japri BPD sebagai sarana komunikasi digital masyarakat dengan pemerintah. Ada juga fitur Pasar Desa dan Grosir Desa untuk melakukan transaksi jual-beli. Serta ada fitur sosial seperti SimpelDonor, SimpleDonasi dan Panic Button.
Dengan hadirnya aplikasi tersebut rupanya membuat Desa Bukit Raya menjadi bagian dari Smart Village Nusantara sekaligus sebagai desa digital pertama se-kabupaten Penajam Paser Utara.
Adi menuturkan, masyarakat juga bisa dengan mudah mengurus berbagai surat dan dokumen lewat aplikasi, pihaknya juga berharap untuk turut andil dalam mempermudah pelayanan bagi masyarakat, sehingga semua kegiatan menjadi efisien sesuai dengan visi dan misi Nusantara sebagai kota cerdas.
Sebelumnya, Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa meyatakan bahwa pembangunan kawasan IKN akan mengusung konsep kota hutan dan kota cerdas.
Konsep cerdas yang diusung tersebut telah dipertimbangkan sebagai elemen menyeluruh dalam menegaskan pembangunan IKN sebagai Ibu Kota Baru Indonesia yang dinamis, inklusif, didukung masyarakat, serta siap menghadapi masa depan.
Pengembangan kota yang cerdas tentu saja mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di IKN. Ketika kualitas hidupnya meningat, diharapkan bisa melahirkan SDM unggul ke depannya. Oleh karena itu dengan dibangunnya desa digital tentunya akan mendukung program dari OIKN untuk mewujudkan IKN sebagai smart city.
Pembangunan desa digital merupakan langkah konkrit pemerintah dalam mengimplementasikan rencana pembangunan IKN di Kalimantan Timur yang mengusung smart city, tentu saja diharapkan akan muncul desa-desa digital lainnya yang akan membuat peradaban di IKN semakin maju.

)* Penulis adalah kontributor Vimedia Pratama Institute

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata