Lompat ke konten utama

Kata Papua

Di Usia RI ke-81, Pangan Menjadi Simbol Kedaulatan dan Kepercayaan Diri Nasional - Kata Papua

Di Usia RI ke-81, Pangan Menjadi Simbol Kedaulatan dan Kepercayaan Diri Nasional

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

*) Oleh : Gavin Asadit

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia menjadi momentum untuk menegaskan bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan pertahanan atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan rakyat secara mandiri. Berbagai kebijakan yang dijalankan menunjukkan komitmen kuat menjadikan sektor pangan sebagai fondasi ketahanan nasional sekaligus simbol kepercayaan diri Indonesia dalam menghadapi tantangan global.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan kedaulatan pangan sebagai salah satu agenda strategis yang menentukan masa depan Indonesia. Komitmen tersebut tercermin melalui berbagai langkah nyata dalam memperkuat sektor pangan, termasuk pelibatan seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan swasembada pangan sebagai fondasi stabilitas nasional sekaligus memperkuat kepercayaan diri Indonesia dalam menghadapi dinamika global.

Memasuki usia ke-81 kemerdekaan Republik Indonesia, pembangunan sektor pangan tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi. Kebijakan yang dijalankan juga diarahkan untuk membangun sistem pangan nasional yang kuat dari hulu hingga hilir. Melalui penguatan produksi, modernisasi pertanian, pemanfaatan teknologi, serta hilirisasi komoditas, Indonesia berupaya menciptakan nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional. Pendekatan tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan pangan telah menjadi bagian dari strategi besar menuju Indonesia yang semakin mandiri.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengatakan perhatian Presiden RI Prabowo Subianto terhadap sektor pangan menunjukkan keseriusan dalam membangun ketahanan nasional secara menyeluruh. Pembangunan pangan dilakukan mulai dari peningkatan produktivitas hingga penguatan hilirisasi sehingga setiap hasil pertanian mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi kemandirian bangsa sehingga seluruh komponen negara bergerak bersama untuk mendukung agenda strategis tersebut.

Kolaborasi nasional menjadi salah satu kekuatan utama dalam mewujudkan target swasembada pangan. Seluruh matra Tentara Nasional Indonesia dilibatkan sesuai kompetensi masing-masing untuk mempercepat peningkatan produksi komoditas strategis. TNI Angkatan Darat memfokuskan pendampingan pada budidaya padi dan jagung, TNI Angkatan Laut mengembangkan komoditas kedelai, sedangkan TNI Angkatan Udara mengoptimalkan pengembangan tebu sebagai bahan baku gula sekaligus bioenergi. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pangan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh potensi bangsa.

Hasil pendampingan yang dilakukan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target nasional. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, TNI Angkatan Darat telah mendampingi sekitar 6,26 juta hektare lahan padi dengan estimasi produksi mencapai 19,2 juta ton beras atau sekitar 55,24 persen dari target produksi beras nasional tahun 2026. Capaian tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kolaborasi antara negara dan para petani mampu memperkuat fondasi kedaulatan pangan Indonesia.

Kontribusi positif juga datang dari TNI Angkatan Laut yang mendampingi pengembangan kedelai di lahan seluas 2.432 hektare dengan potensi produksi mencapai 3.676 ton. Sementara itu, TNI Angkatan Udara mengawal pengembangan 236.048 hektare lahan tebu yang diproyeksikan menghasilkan sekitar 18,386 juta ton tebu atau setara 1,36 juta ton gula. Jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi sekitar 45,05 persen target produksi gula nasional tahun ini. Capaian tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kapasitas nasional dalam memenuhi kebutuhan pangan strategis secara mandiri.

Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, keterlibatan TNI dalam program ketahanan pangan merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki bangsa. Kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, BUMN, akademisi, dunia usaha, serta para petani menjadi modal penting dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan. Sinergi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pangan hanya dapat berhasil apabila seluruh elemen bangsa bergerak dalam satu tujuan yang sama.

Selain menghasilkan gula konsumsi, kawasan tersebut juga mengembangkan industri pengolahan tebu menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan, pupuk organik, serta berbagai produk turunan bernilai tambah. Pengembangan berbasis hilirisasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Hilirisasi komoditas pertanian menjadi langkah penting dalam meningkatkan nilai tambah hasil produksi nasional. Pendekatan ini membuka peluang investasi baru, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri pengolahan, serta meningkatkan pendapatan petani melalui diversifikasi produk. Dengan demikian, sektor pangan tidak hanya menjadi penyangga kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Memasuki usia ke-81 kemerdekaan, keberhasilan memperkuat sektor pangan menjadi simbol kedaulatan sekaligus kepercayaan diri nasional. Kemampuan memenuhi kebutuhan pangan melalui kekuatan sendiri mencerminkan semakin kokohnya fondasi bangsa dalam menghadapi tantangan global. Dengan penguatan produksi, hilirisasi, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa sebagaimana diarahkan Presiden RI Prabowo Subianto, Indonesia optimistis mampu mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan serta menjadikan pangan sebagai simbol kedaulatan dan kepercayaan diri nasional pada usia ke-81 kemerdekaan.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Lapangan Kerja, Upskilling, dan Kepastian Usaha Harus Menjadi Napas RUU Ketenagakerjaan

Oleh : Abdul Razak Pemerintah bersama DPR RI tengah mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai upaya menjawab perubahan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Regulasi baru tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan pekerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, mendorong peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pembahasan RUU tersebut kini berlangsung secara intensif bersama DPR. Pemerintah menargetkan regulasi mengenai perlindungan tenaga kerja itu dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Yassierli menilai tantangan ketenagakerjaan nasional tidak ringan. Dari sekitar 155 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 60 persen berada di sektor informal. Kelompok tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan pekerja formal karena sebagian besar belum memperoleh jaminan sosial maupun perlindungan hari tua yang memadai. Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memastikan perlindungan ketenagakerjaan dapat mencakup seluruh pekerja tanpa membedakan status formal maupun informal. Regulasi baru diharapkan menjadi landasan yang lebih kuat dalam memberikan kepastian hak sekaligus memperluas kepesertaan program perlindungan sosial. Yassierli menyebut penyelesaian regulasi tersebut diharapkan menjadi tonggak baru perlindungan ketenagakerjaan di Indonesia. Selain melalui pembentukan undang-undang, Kementerian Ketenagakerjaan juga akan mendorong peningkatan kepesertaan perlindungan sosial bagi pekerja. Urgensi perlindungan tersebut semakin besar seiring Indonesia menghadapi perubahan struktur demografi. Saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population. Yassierli menekankan pentingnya penguatan program dana pensiun agar masyarakat yang memasuki usia lanjut tetap memiliki sumber pendapatan dan tidak sepenuhnya bergantung kepada generasi yang masih produktif. Menurutnya, menjaga kehidupan masyarakat setelah masa kerja merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Di sisi lain, RUU Perlindungan Ketenagakerjaan juga perlu menjawab kebutuhan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi dan teknologi. Perlindungan tidak cukup hanya diberikan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi juga perlu disertai upaya meningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri. Program upskilling dan reskilling menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta pola hubungan kerja. Pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan dunia usaha. Dengan demikian, perlindungan ketenagakerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Pada saat yang sama, kepastian usaha juga menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi. Dunia usaha membutuhkan aturan yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan agar mampu mengambil keputusan investasi, melakukan ekspansi, serta menciptakan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menjelaskan bahwa DPR mengusulkan perluasan jaminan sosial bagi pekerja, termasuk mekanisme jaminan pesangon. Usulan tersebut tercantum dalam Pasal 129 RUU Perlindungan Ketenagakerjaan dan merupakan inisiatif DPR, bukan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia maupun serikat buruh. Nihayatul menjelaskan, selama ini perusahaan pada dasarnya telah melakukan pencadangan kewajiban imbalan kerja sebagaimana diatur dalam PSAK 24. Namun, dana tersebut masih berada di dalam perusahaan dan belum dipisahkan dari kekayaan perusahaan. Karena itu, DPR mengusulkan agar dana jaminan pesangon dikelola melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus mengurangi potensi beban perusahaan ketika terjadi persoalan keuangan atau pemutusan hubungan kerja. Nihayatul mengatakan usulan tersebut salah satunya berkaca pada kasus perusahaan yang mengalami kepailitan dan kemudian tidak mampu memenuhi kewajiban pesangon. Kasus PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menjadi salah satu contoh yang disebutnya karena berdampak terhadap sekitar 10.000 pekerja. Menurut Nihayatul, mekanisme jaminan pesangon perlu diperkuat agar pekerja tetap memperoleh hak ketika perusahaan menghadapi kondisi sulit. DPR juga mendorong adanya kontribusi pemerintah dalam skema tersebut, sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Penguatan perlindungan pekerja pada akhirnya perlu ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Regulasi harus mampu menjamin hak pekerja, mendorong peningkatan kompetensi, sekaligus memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Keseimbangan tersebut penting agar perlindungan tidak menjadi beban yang menghambat penciptaan lapangan kerja, melainkan menjadi fondasi hubungan industrial yang lebih sehat. Dengan target penyelesaian pada akhir