Kata Papua

Dukung Investasi PT GNI, Kepala Daerah dan Masyarakat Berharap Kerusuhan Tidak Terulang - Kata Papua

Dukung Investasi PT GNI, Kepala Daerah dan Masyarakat Berharap Kerusuhan Tidak Terulang

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Dukung Investasi PT GNI, Kepala Daerah dan Masyarakat Berharap Kerusuhan Tidak Terulang

para Kepala daerah dan masyarakat Morowali Utara sangat berharap supaya kejadian kerusuhan yang sempat terjadi di perusahaan tersebut tidak terulang kembali.

Lurah Kolonodale Kecamatan Petasia Kabupaten Morowali Utara Sulawesi Tengah, M. Yamin Bagenda menyatakan bahwa pihaknya bersama dengan seluruh masyarakat sangat mendukung adanya perusahaan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di wilayah tersebut.

“Kami dari Pemerintah Kelurahan Kolonodale bersama seluruh masyarakat di Kelurahan Kolonodale sangat menerima dan mendukung dengan adanya investasi tambang perusahaan PT GNI di wilayah kami,” katanya.

Dirinya menambahkan, sebab dengan adanya PT GNI di wilayah tersebut sangat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Karena dengan adanya perusahaan tambah GNI ini sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat seperti pasar, UMKM serta usaha-usaha lainnya,” lanjut M. Yamin.

Lebih lanjut, menanggapi adanya kejadian bentrok pada Sabtu (14/1) lalu di PT GNI, dia mengaku sangat menyayangkan dan menyesalkan mengapa hal itu bisa terjadi.

M. Yamin Bagenda juga berharap supaya kejadian-kejadian demikian tidak terulang kembali lantaran juga berpengaruh pada kelancaran perekonomian masyarakat.

“Dengan adanya kejadian tanggal 14 Januari 2023 kemarin, kami sangat sayangkan dan sangat sesalkan kenapa sampai terjadi seperti itu. Kami berharap agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang lagi, karena dengan adanya kejadian tersebut juga sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat yang ada di Kelurahan Kolonodale,” ungkapnya.

Kepala Daerah Kelurahan Kolonodale ini kemudian juga mengharapkan agar seluruh komunikasi antara pihak perusahaan dan para pekerja ke depannya bisa berjalan dengan lebih baik dan lancar agar tidak terjadi lagi peristiwa bentrokan seperti beberapa waktu lalu.

“Harapan kami semoga ke depan tidak terjadi lagi hal-hal seperti itu, semua dapat dikomunikasikan dengan baik, sehingga berjalan dengan lancar. Dan kami juga sebagai pemerintah dan masyarakat di Kolonodale merasakan dampak dengan hadirnya PT GNI di wilayah kami,” pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Bahontula, Budi Tangko juga mengemukakan bahwa dirinya bersama dengan seluruh masyarakat sangat mendukung adanya perusahaan dan iklim investasi di PT GNI.

“Dengan hadirnya perusahaan PT GNI di Morowali Utara, kami selaku Pemerintah Kelurahan Bahontula bersama masyarakat kelurahan Bahontula sangat mendukung dengan hadirnya investasi PT GNI di Kabupaten Morowali Utara,” ujarnya.

Budi Tangko juga turut menyayangkan adanya tragedi bentrokan di PT GNI serta mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi atas adanya isu-isu yang belum jelas kebenarannya dan berpotensi merusak persaudaraan.

“Kami sangat menyayangkan tragedi yang terjadi di PT GNI kemarin, kami memohon kepada seluruh masyarakat Bahontula supaya tidak terprovokasi dengan adanya isu-isu yang berkembang yang bisa merusak persaudaraan di negeri yang kita cintai ini, dan kami memohon semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi,” tuturnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts