Lompat ke konten utama

Kata Papua

Dunia Bergejolak, Rupiah Indonesia Tetap Stabil - Kata Papua

Dunia Bergejolak, Rupiah Indonesia Tetap Stabil

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Reska R

Situasi ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir bergerak dengan ritme yang sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, perubahan arah kebijakan suku bunga di negara maju, serta fluktuasi harga energi dan pangan dunia menciptakan tekanan yang terasa hingga ke pasar negara berkembang. Banyak mata uang mengalami pelemahan karena derasnya arus modal yang mencari aset aman. Namun di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian tersebut, rupiah Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dan konsisten, mencerminkan fondasi ekonomi yang semakin solid.

Bank Indonesia menyebutkan bahwa meskipun rupiah sempat tertekan oleh kondisi global, pergerakannya tetap berada dalam kisaran yang sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Pada awal 2026, rupiah bergerak di level belasan ribu per dolar AS dengan fluktuasi yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global. BI juga menilai rupiah masih cenderung undervalued, sehingga berbagai langkah stabilisasi terus dilakukan.

Stabilitas ini didukung oleh kebijakan moneter yang konsisten, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta koordinasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan yang semakin solid. Inflasi sempat naik secara musiman, tetapi inflasi inti tetap rendah sehingga daya beli masyarakat relatif terjaga. Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Sujantoro mengatakan meski kondisi global sedang tidak stabil, pemerintah berupaya mengelola APBN dengan baik. pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal, antara lain melalui optimalisasi penerimaan, penguatan kualitas belanja, optimalisasi penerimaan, serta pengelolaan pembiayaan dengan hati-hati. Sehingga APBN tetap sehat dan dapat berfungsi efektif sebagai penyerap guncangan atau shock absorber.

Menariknya, meskipun tekanan global meningkat, Indonesia masih mampu mempertahankan fundamental ekonomi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran sekitar lima persen, ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, dan ekspor yang stabil. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa sektor perbankan juga tetap resilien dengan tingkat permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.

Tidak dapat dipungkiri bahwa gejolak global tetap memberikan dampak terhadap rupiah. Ketegangan geopolitik, seperti konflik di beberapa kawasan dunia, sempat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam beberapa momen, rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis tertentu akibat tekanan tersebut. Namun yang menarik, pelemahan tersebut cenderung bersifat sementara dan tidak menunjukkan tren penurunan yang tidak terkendali. Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas, baik melalui pasar spot maupun instrumen derivatif, sehingga fluktuasi dapat diredam.

Dari perspektif global, kondisi ini sebenarnya cukup positif. Banyak negara berkembang lain mengalami depresiasi mata uang yang lebih dalam, terutama yang sangat bergantung pada arus modal asing jangka pendek. Indonesia, dengan struktur ekonomi yang lebih seimbang dan cadangan devisa yang cukup besar, mampu menjaga daya tahannya lebih baik. Selain itu, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan juga memberikan bantalan tambahan terhadap tekanan eksternal.

Peran kebijakan fiskal juga tidak kalah penting. Pemerintah terus menjaga disiplin anggaran dengan defisit yang masih berada dalam batas aman, sambil tetap mengalokasikan belanja untuk program-program strategis yang mendukung daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter ini menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih stabil dan adaptif terhadap perubahan global.

Di tengah situasi global yang sarat ketidakpastian, dipengaruhi dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter dunia, stabilitas rupiah menjadi salah satu indikator penting bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga. Nilai tukar tidak hanya merefleksikan kondisi pasar keuangan, tetapi juga mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional. Dalam konteks ini, rupiah menunjukkan ketahanan yang semakin solid, seiring dengan membaiknya koordinasi kebijakan dan penguatan instrumen stabilisasi.

Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa penguatan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, terutama munculnya optimisme terkait peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif, Mata uang Garuda tercatat menguat 42 poin atau sekitar 0,24 persen, bertengger di posisi Rp17.126 per dolar AS.

Penguatan fundamental ekonomi domestik menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Peningkatan produktivitas, diversifikasi ekspor, serta penguatan industri dalam negeri akan menjadi faktor penentu ketahanan rupiah di masa mendatang. Stabilitas rupiah di tengah dunia yang bergejolak bukan hanya soal angka di pasar valuta asing, tetapi juga cerminan dari kepercayaan terhadap ekonomi nasional. Kepercayaan ini terbentuk dari konsistensi kebijakan, ketahanan sektor keuangan, serta kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan di tengah tekanan eksternal. Selama fondasi ini terus diperkuat, rupiah akan tetap menjadi salah satu simbol stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus bergerak.

)* Pengamat Kebijakan Ekonomi

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Mitigasi Erupsi Harus Berbasis Data, Bukan Ketakutan dan Informasi Liar

Oleh : Radjiman Arif Aktivitas vulkanik kembali mengingatkan Indonesia bahwa hidup di kawasan cincin api menuntut kesiapsiagaan yang tinggi. Namun, kesiapsiagaan tidak sama dengan kepanikan. Ketika erupsi terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan agar setiap langkah perlindungan diri dilakukan berdasarkan kondisi nyata, bukan ketakutan yang dipicu oleh kabar yang belum terverifikasi. Situasi terkini terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan pentingnya prinsip tersebut. Erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan dampak berupa sebaran abu vulkanik dan gangguan terhadap sejumlah aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan. Pemerintah bersama lembaga kebencanaan dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan serta langkah mitigasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Dalam kondisi seperti ini, arus informasi di media sosial menjadi tantangan tersendiri. Video lama dapat kembali beredar seolah-olah merupakan kejadian terbaru, sementara spekulasi mengenai potensi bencana lanjutan dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi resmi. Padahal, informasi yang keliru dapat memicu kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan mendorong munculnya tindakan yang justru membahayakan keselamatan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan bahwa masyarakat perlu tetap tenang dan mengikuti perkembangan berdasarkan data resmi. Kekhawatiran terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau memang menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Namun, setiap penilaian risiko harus didasarkan pada hasil pemantauan dan analisis lembaga yang memiliki kewenangan. Berton menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau aktivitas gunung api melalui koordinasi BNPB, PVMBG, BPBD, dan unsur terkait. Berdasarkan evaluasi kondisi terkini, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai isu ancaman tsunami. Pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan jalur evakuasi, sarana komunikasi, titik kumpul, serta langkah perlindungan masyarakat dapat digunakan apabila terjadi perubahan kondisi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi bencana yang baik harus berjalan dalam dua arah: pemerintah wajib memberikan informasi secara cepat dan terbuka, sementara masyarakat perlu memiliki disiplin untuk mengakses sumber resmi. Kewaspadaan harus tetap tinggi, tetapi tidak boleh berubah menjadi ketakutan tanpa dasar. Data menjadi pembeda antara kesiapsiagaan yang rasional dan kepanikan yang tidak produktif. Pelajaran serupa terlihat dalam penanganan informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video erupsi yang beredar di media sosial. Setelah dilakukan penelusuran, video tersebut dipastikan tidak sesuai dengan kondisi terkini berdasarkan data pemantauan resmi aktivitas Gunung Semeru. Menurut Isnugroho, penyebaran informasi kebencanaan yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Karena itu, publik perlu membiasakan diri melakukan pengecekan sebelum membagikan konten. Dalam situasi bencana, satu video yang salah konteks dapat menciptakan persepsi bahwa ancaman sedang berlangsung, padahal kondisi sebenarnya mungkin telah berubah atau tidak sesuai dengan narasi yang beredar. Kasus tersebut menjadi bukti bahwa mitigasi modern tidak hanya berkaitan dengan pemantauan gunung api dan kesiapan evakuasi. Mitigasi juga menyangkut pengelolaan informasi. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam melakukan klarifikasi secara cepat agar informasi keliru tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas. Tantangan komunikasi kebencanaan juga terlihat di Jakarta setelah adanya informasi mengenai kemungkinan paparan abu vulkanik. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya mengikuti informasi dari lembaga resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum melalui proses verifikasi. Menurut Chico, masyarakat perlu menjadikan informasi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah sebagai rujukan utama. Sikap tersebut penting agar warga dapat mengambil langkah yang sesuai dengan kondisi sebenarnya, termasuk menggunakan perlindungan diri apabila diperlukan, tanpa terpengaruh oleh narasi berlebihan yang beredar di media sosial. Kehadiran pemerintah dalam menghadapi erupsi tidak hanya terlihat melalui penanganan dampak fisik, tetapi juga melalui penguatan komunikasi publik. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, BMKG, dan PVMBG menjadi fondasi penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang sama dan tidak tersesat oleh kabar liar. Indonesia membutuhkan budaya mitigasi yang berbasis data. Masyarakat harus memahami bahwa informasi resmi dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas gunung api. Karena itu, mengikuti pembaruan secara berkala jauh lebih penting daripada mempercayai satu unggahan viral yang belum jelas sumbernya. Pada akhirnya, bencana alam memang tidak selalu dapat