Lompat ke konten utama

Kata Papua

Edukasi Kesadaran Gizi Tingkatkan Apresiasi Masyarakat terhadap Program MBG - Kata Papua

Edukasi Kesadaran Gizi Tingkatkan Apresiasi Masyarakat terhadap Program MBG

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Septa Mariyani *)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah porsi yang dibagikan, melainkan juga oleh tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci utama agar masyarakat tidak sekadar menerima bantuan pangan, tetapi memahami nilai kesehatan dan keberlanjutan di baliknya.

Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), Budi Setiawan, menilai edukasi gizi harus menjadi bagian integral dari pelaksanaan MBG. Budi mencontohkan gerakan Genius yang dijalankan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelum MBG diluncurkan. Program itu tidak hanya memberikan kudapan bergizi kepada siswa, tetapi juga mengedukasi tentang pola makan sehat dengan melibatkan pemerintah daerah dan lembaga pengawas pangan. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa intervensi gizi yang efektif memerlukan kesadaran dan keterlibatan lintas pihak, bukan sekadar distribusi makanan.

Konsep seperti Genius menjadi model ideal bagi pelaksanaan MBG. Melalui pemetaan wilayah rawan gizi yang dilakukan Bapanas hingga tingkat kecamatan, pemerintah dapat menentukan daerah prioritas dan menyesuaikan menu dengan kebutuhan lokal. Pendekatan ini menjamin bahwa setiap anak mendapat asupan yang sesuai kondisi fisiologisnya, termasuk yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi tertentu. Di sisi lain, tenaga pelaksana seperti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga perlu dibekali pemahaman tentang keamanan pangan dan prinsip gizi seimbang agar tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi agen perubahan perilaku gizi di lapangan.

Upaya membangun kesadaran ini semakin diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Komisi IX DPR RI bersama Badan Gizi Nasional (BGN) gencar melakukan sosialisasi MBG ke berbagai daerah untuk menanamkan pentingnya pola makan sehat sejak dini. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menekankan bahwa MBG harus menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, bukan program sesaat. Dukungan legislatif melalui fungsi pengawasan dan regulasi diharapkan menjaga transparansi, mutu makanan, serta kesinambungan pendanaan lintas pemerintahan.

Pendekatan lintas sektor yang ditekankan Netty sejalan dengan prinsip kemandirian pangan lokal yang diusung BGN. Tenaga Ahli Direktorat Promosi dan Edukasi Gizi BGN, Teguh Suparngadi, menjelaskan bahwa penyusunan menu MBG selalu mengacu pada potensi bahan baku daerah dan standar higienitas tinggi. Strategi ini tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pelibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Dengan demikian, program MBG berperan ganda—meningkatkan gizi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di akar rumput.

Namun, keberhasilan jangka panjang MBG juga bergantung pada kesiapan ekosistem sosialnya. Peneliti Article 33 Indonesia, Salsabila Kusumawardani, menilai bahwa sekolah harus menjadi pusat pendidikan gizi yang hidup. Seperti halnya konsep Shokuiku di Jepang, di mana pendidikan tentang makanan diatur secara nasional dan bahkan diajarkan oleh guru khusus gizi. Menurutnya, Indonesia dapat mengadopsi semangat tersebut dengan menjadikan sekolah ruang belajar tentang pangan sehat, sementara rumah tangga berperan memperkuat kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Salsabila menekankan pentingnya pendekatan ecosystem-first dalam memperluas cakupan MBG. Sebelum menambah jumlah penerima manfaat, pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan dapur sekolah. Langkah ini menjamin keamanan pangan sekaligus mengurangi risiko kasus seperti keracunan makanan yang sempat mencuat di beberapa daerah.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa edukasi gizi tidak bisa dilepaskan dari tata kelola dan keadilan sosial. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi akan tumbuh jika program ini dikelola secara partisipatif dan transparan. Melalui kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha, MBG dapat menjadi gerakan sosial yang mendorong perubahan perilaku makan sehat dan pengelolaan pangan yang berkelanjutan.

Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat MBG sebagai investasi jangka panjang bagi generasi muda. Dalam Sidang Kabinet Paripurna Oktober 2025, Presiden menyampaikan bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana sebesar Rp330 triliun pada tahun 2026 untuk memperluas jangkauan program tersebut. Dana itu diharapkan tidak hanya berputar di pusat, tetapi juga mengalir hingga ke desa dan kecamatan untuk mendorong pemerataan ekonomi nasional.

Kebijakan ini memperlihatkan keberpihakan nyata pemerintah terhadap pembangunan sumber daya manusia. Dengan kombinasi antara edukasi, kemandirian pangan lokal, dan dukungan fiskal besar, MBG bukan sekadar program sosial, tetapi transformasi sistemik menuju Indonesia yang lebih sehat dan berdaya. Ketika masyarakat memahami makna gizi dan menghargai proses di balik setiap porsi makanan, apresiasi terhadap program MBG akan tumbuh dengan sendirinya—mewujudkan cita-cita bangsa untuk mencapai generasi emas yang sehat, cerdas, dan produktif pada 2045.

*) Pemerhati Gizi Masyarakat dan Pembangunan Sosial

[ed]

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kualitas Hunian Jadi Fokus Percepatan Program 3 Juta Rumah 

Oleh Prasetyo Mulya Percepatan Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto kini tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah hunian, tetapi juga memastikan kualitas rumah yang diterima masyarakat benar-benar layak, aman, nyaman, dan sesuai standar. Fokus terhadap kualitas menjadi penting agar program perumahan rakyat tidak sekadar menghasilkan angka pembangunan yang besar, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah secara nyata. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait terus memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) untuk mempercepat realisasi Program 3 Juta Rumah. Kerja sama pemerintah dan pengembang dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengatasi berbagai persoalan yang masih muncul dalam pembangunan hunian, mulai dari aspek teknis, ketersediaan lahan, perizinan, pembiayaan, hingga penerapan standar kualitas bangunan. Dalam koordinasi bersama jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himperra, Menteri Ara menegaskan bahwa percepatan pembangunan rumah subsidi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap kualitas. Pengembang tidak cukup hanya memenuhi target jumlah unit, tetapi juga harus memastikan rumah yang dibangun sesuai spesifikasi dan dapat memberikan rasa aman serta nyaman bagi masyarakat penerima manfaat. Kontribusi Himperra dalam program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi salah satu gambaran perkembangan positif sektor perumahan. Dari target pembangunan sebanyak 47.000 unit rumah, Himperra telah merealisasikan lebih dari 22.000 unit. Capaian tersebut menunjukkan adanya keterlibatan aktif dunia usaha dalam mendukung agenda pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang terjangkau. Maruarar Sirait mengapresiasi dukungan tersebut karena program rumah subsidi tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha, khususnya pengembang, memiliki posisi strategis dalam memastikan kebutuhan hunian masyarakat dapat dipenuhi. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai kemudahan di sektor perumahan harus diikuti dengan profesionalisme, integritas, dan komitmen pengembang dalam menjaga kualitas pembangunan. Perspektif tersebut menjadi semakin relevan karena keberhasilan Program 3 Juta Rumah seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan berapa banyak rumah yang selesai dibangun. Pemerintah juga perlu melihat apakah rumah tersebut benar-benar memenuhi standar kelayakan dan memberikan kepuasan kepada penerima. Penggunaan anggaran subsidi negara harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Pemerintah selama setahun terakhir menunjukkan upaya memperkuat ekosistem perumahan melalui peningkatan kolaborasi dengan pengembang, dukungan pembiayaan rumah subsidi, serta dorongan untuk menyelesaikan berbagai hambatan administratif dan regulasi. Perkembangan tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempercepat pencapaian target pembangunan hunian sekaligus memperbaiki kualitas pelaksanaan program di lapangan. Maruarar Sirait juga mendorong Himperra agar tidak hanya berkembang sebagai organisasi pengembang, tetapi mampu melahirkan pelaku usaha yang memiliki karakter kuat dan menjunjung profesionalisme. Pertumbuhan bisnis perumahan, menurutnya, harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial karena produk yang dibangun menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Di sisi lain, Himperra menyampaikan sejumlah usulan yang berkaitan dengan hambatan pembangunan perumahan, termasuk persoalan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, penyediaan lahan, dan proses perizinan. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kelancaran pembangunan rumah sangat dipengaruhi oleh kepastian proses administratif serta kesiapan lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan. Penguatan koordinasi juga akan dilakukan melalui jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himperra dengan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), penerapan kebijakan insentif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta fasilitasi pembebasan BPHTB bagi masyarakat sesuai kebijakan daerah dan ketentuan yang berlaku. Saat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengembang berjalan konsisten, berbagai hambatan administratif dapat dikurangi. Dampaknya bukan hanya mempercepat pembangunan rumah, tetapi juga memperluas peluang masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh hunian yang layak. Pemerintah juga perlu menjaga pengawasan agar berbagai kemudahan yang diberikan kepada pengembang tetap menghasilkan pembangunan yang berkualitas. Ketua Umum DPP Himperra, H. Ari Tri Priyono, memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Maruarar Sirait dalam mendorong kemajuan sektor perumahan. Ari Tri Priyono menilai perkembangan sektor perumahan dalam dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penilaian dari pelaku industri tersebut menjadi gambaran bahwa kebijakan pemerintah mulai memberikan ruang lebih besar bagi sektor perumahan untuk berkembang. Himperra juga terus memperkuat organisasi melalui kegiatan Rapat Kerja Nasional, pelatihan, dan Milad Himperra yang menjadi ruang konsolidasi antara pengembang dan pemerintah. Forum semacam itu penting untuk menyamakan persepsi, menyerap persoalan di lapangan, sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan secara efektif. Program 3 Juta Rumah harus dipandang sebagai agenda besar