Kata Papua

Ganjar Pranowo Miliki Strategi Jitu Atasi Pengangguran Terdidik di Indonesia - Kata Papua

Ganjar Pranowo Miliki Strategi Jitu Atasi Pengangguran Terdidik di Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Ganjar Pranowo Miliki Strategi Jitu Atasi Pengangguran Terdidik di Indonesia

JAKARTA — Ganjar Pranowo memiliki strategi yang jitu untuk bisa mengatasi salah satu masalah di Tanah Air selama ini, yakni adanya pengangguran terdidik di Indonesia.

Capres dari PDI Perjuangan tersebut mengungkapkan adanya konsep link and match kurikulum dengan perusahaan yang mampu mengatasi perihal itu.

Baginya, memang adanya pengangguran terdidik wajib untuk bisa diselesaikan secara komprehensif, maka perbaikan akan kualitas pendidikan sangat penting.

“Problem pengangguran terdidik harus diselesaikan secara komprehensif. Hal yang paling utama dengan memperbaiki kualitas pendidikan,” kata Ganjar Pranowo.

Lebih lanjut, pemimpin berambut putih itu menegaskan bahwa memang sistem pendidikan di Indonesia harus diubah.

Dengan adanya konsep link and match dengan perusahaan, maka diharapkan nantinya para siswa yang sudah lulus akan bisa mendapatkan pekerjaan.

“Yang butuh mereka adalah perusahaan maka kurikulumnya harus fleksibel. Link and match kurikulum dengan perusahaan mutlak dilakukan agar lulusan sekolah baik SMK sampai perguruan tinggi tidak menganggur,” jelas Ganjar.

Pemimpin kelahiran Kabupaten Karanganyar itu memberikan contoh bagaimana kurikulum pendidikan di Australia yang mampu terus mengikuti tren akan pekerjaan di bidang apa yang sedang dibutuhkan.

“Jadi, kurikulumnya mengikuti kebutuhan pekerjaan yang ada. Tidak saklek seperti saat ini,” kata Ganjar.

Sebagai informasi, pria yang pernah menjabat sebagai Gubernur di Jawa Tengah selama dua periode itu memang telah berhasil menekan angka pengangguran di wilayah yang dia pimpin berkat adanya aplikasi inisiasinya, yakni E-Makaryo.

Ganjar menjelaskan bahwa dengan adanya aplikasi itu merupakan wadah bagi para pencari kerja dan juga mereka bisa mengikuti pelatihan.

“E-Makaryo juga menjadi wadah bagi pencari kerja yang ingin daftar untuk mengikuti pelatihan kerja di Balai Latihan Kerja (BLK) yang tersebar di seluruh Jawa Tengah,” ungkapnya.

Terbukti, seorang pemuda asal Kabupaten Pati, Jateng, Andriyono Miftahul Huda menceritakan kisahnya bahwa dirinya berhasil meraih impiannya menjadi guru berkat aplikasi E-Makaryo yang digagas oleh Ganjar.

Terlebih, menurutnya penggunaan dari aplikasi itu juga ternyata sangat mudah dipraktekkan.

“Saat bermain media sosial (medsos) saya ketemu sama postingan Pak Ganjar soal E-Makaryo terus saya coba akses, ternyata sangat mudah,” kata Andriyono.

Senada, warga asli Kebumen Jateng, Syahid Sidiq juga mengaku bahwa dirinya mendapatkan kemudahaan pekerjaan dari aplikasi itu.

Syahid bahkan mengaku bahwa Ganjar Pranowo telah sukses dalam upayanya mengurangi angka pengangguran selama kepemimpinannya.

“Menurut saya mampu mengurangi angka pengangguran. Enggak perlu fotokopi, kemana-mana bawa amplop. Karena full online,” katanya.

“Di sini, saya merasa Pak Ganjar sosok pemimpin yang memperhatikan wong cilik. Saya juga kaget di Jateng ada aplikasi ini. Pak Ganjar memikirkan warganya untuk akses cari pekerjaan,” ucap warga Kebumen itu

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts