Kata Papua

Geram Oknum ASN dan 2 Nakes Jual Surat PCR Palsu, Kapolda Papua: Tidak Bermoral - Kata Papua

Geram Oknum ASN dan 2 Nakes Jual Surat PCR Palsu, Kapolda Papua: Tidak Bermoral

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Kapolda Papua Irjen Mathius D Fakhiri geram mendengar oknum Aparatur Sipil Negara  (ASN) dan 2 tenaga kesehatan terjerat kasus jual beli surat swab polymerase chain reaction (PCR) palsu di Jayapura.

Jenderal Bintang Dua ini menyebut tindakan oknum ASN dan dua tenaga kesehatan di Kota Jayapura ini tidak bermoral, karena dapat membahayakan orang lain. Mereka yakni MA (36) ASN Pemerintah Kota Jayapura, sedangkan WK (30) dan DG (23) dua tenaga kesehatan salah satu rumah sakit swasta di Kota Jayapura.

“Orang-orang itu moralnya tidak patut jadi ASN dan tenaga medis (kesehatan). Saya akan tindak tegas mereka. Orang-orang seperti ini tidak patut dikasihani, harus ditindak secara hukum,” kata Irjen Mathius Fakhiri kepada wartawan di Kota Jayapura, Senin 23 Agustus 2021.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.