Lompat ke konten utama

Kata Papua

Gubernur Papua: Saya Bangga Perkembangan Media Massa Di Papua - Kata Papua

Gubernur Papua: Saya Bangga Perkembangan Media Massa Di Papua

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe,SIP,MH mengaku bangga dengan perkembangan media massa dibumi cenderawasih yang terus bertumbuh sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi sehingga dapat berimplikasi langsung terhadap proses pembangunan yang terjadi di daerah ini. Menurut Gubernur, perkembangan media di Papua ketika sebelum era reformasi hanya ada sebanyak 2 media elektronik, yaitu RRI dan TVRI, serta 1 surat kabar harian dan mingguan. Namun kini perkembangan media masa baik cetak maupun elektronik sangat pesat menjadi 6 surat kabar harian, 6 tabloid, 3 TV serta beberapa radio swasta. “Karena itu saya katakan saya bangga dengan perkembangan ini karena media massa adalah mitra kerja pemerintah dalam rangka menyebarluaskan informasi pembangunan kepada masyarakat. Sebab pers adalah sebuah alat komunikasi massal yang mempunyai fungsi mengumpulkan dan mempublikasikan informasi serta merupakan pilar keempat bagi demokrasi yang mempunyai peranan penting membangun kepercayaan, kreadibilitas bahkan legitimasi pemerintah,” tutur Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Hukum, JKH. Roembiak pada pembukaan workshop strategi management dan marketing bagi media massa, Rabu (3/7) di Hotel Aston Jayapura.

       Lebih lanjut ditegaskan Gubernur, perkembangan media yang semakin maju saat ini, juga membuat dunia cetak perlahan-lahan mulai beralih ke dunia digital dan elektronik. Semakin banyaknya perusahaan – perusahaan media memperlihatkan kemajuan yang sangat pesat di dunia media massa. Sayangnya perkembangan media saat ini tidak terlalu signifikan bila dibandingkan dengan pendidikan manusianya. Oleh karena itu, sebagai Pemerintah Daerah yang memiliki fungsi pembinaan, maka pemerintah merasa perlu untuk menambah pengetahuan dalam bidang pemasaran dan pengelolaan manajemen media. Sehingga melalui kegiatan workshop ini, diharapkan bisa meningkatkan daya saing agar semua media dapat berkompetisi dengan baik dan benar serta profesional dalam kerja-kerja jurnalistik. “Tidak boleh bersembunyi atau menggunakan berbagai stiqma dalam berkompetisi satu sama lain. Sebab kalau manajemennya baik dan strategi pemasarannya pun baik maka media tersebut apa pun namanya pasti akan eksis, bertumbuh dan bertahan dalam bisnis media dan mampu memberikan yang terbaik bagi pembangunan di Papua,” jelasnya.

     Sementara itu, kegiatan Workshop dengan topik strategi perencanaan management dan marketing bagi media massa yang disselenggarakan oleh Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Papua ini dihadiri sebanyak 60 peserta yang terdiri dari para Pemimpin Redaksi dan wartawan Media Cetak maupun Media Elektronik di Jayapura, mahasisa serta instansi terkait. Panitia Pelaksana, Fery Uduas dalam laporannya menambahkan workshop sehari yang dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Hukum, JKH. Roembiak tersebut, bertujuan memberi pengetahuan menyangkut management dan marketing terhadap media serta awak media kedepan guna memiliki inovasi bisnis yang lebih meningkat dalam hal sumber daya manusia untuk mempertahankan kunci sukses serta mendorong kemampuan mendukung pembangunan Papua. “Sementara sasaran kegiatan agar media dapat terbantu memperoleh berbagai strategi dan pengetahuan menyangkut management dan marketing guna menetapkan ide-ide positif dan berkualitas. Sehingga dapat membangkitkan, memperluas dan mempercepat persepsi yang menguntungkan bagi media serta awak media” cetusnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Pertumbuhan tertinggi justru dicatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni mencapai 11,22 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh bertambahnya hunian kamar hotel serta konsumsi masyarakat di rumah makan dan restoran. Perkembangan ini mencerminkan aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat yang turut menggerakkan industri perhotelan, kuliner, transportasi, serta berbagai usaha kecil di daerah wisata. Selanjutnya, sektor jasa keuangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,47 persen berkat peningkatan intermediasi perbankan. Sementara itu, jasa lainnya tumbuh 8,32 persen, antara lain didorong oleh meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dan perjalanan wisatawan nusantara. Pertumbuhan berbagai sektor jasa tersebut memperlihatkan bahwa permintaan domestik dan mobilitas masyarakat masih menjadi penopang penting perekonomian Indonesia. BPS juga mengungkapkan bahwa industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada kuartal III 2026 dengan kontribusi mencapai 1,20 poin persentase. Edy Mahmud menjelaskan bahwa dari total pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen, sebanyak 1,20 poin persentase berasal dari industri pengolahan. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya memberikan kontribusi sebesar 2,22 poin persentase. Dalam setahun terakhir, pemerintah juga terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan kebijakan fiskal, keberlanjutan pembangunan, serta pemeliharaan aktivitas ekonomi domestik. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan ekonomi atau shock absorber. Berbagai upaya menjaga konektivitas, memperkuat layanan dasar, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif turut menjadi bagian dari strategi mempertahankan pertumbuhan. Keberhasilan tersebut perlu terus ditingkatkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Meskipun demikian, capaian positif tersebut tidak berarti Indonesia terbebas dari berbagai tantangan. Pertumbuhan sektor pertanian yang masih terbatas, kebutuhan meningkatkan daya saing industri, serta kerentanan terhadap perubahan kondisi ekonomi global tetap membutuhkan perhatian serius. Pemerintah perlu memastikan kebijakan anggaran berjalan tepat sasaran, sementara dunia usaha didorong meningkatkan investasi, inovasi, dan produktivitas agar perekonomian semakin kuat. Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah akan menganalisis perkembangan ekonomi terkini sekaligus prospek perekonomian menjelang akhir tahun. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap kuat di sekitar 5,5 persen. Optimisme tersebut didasarkan pada aktivitas ekonomi domestik yang diyakini masih menjadi penopang utama serta peran APBN yang stabil dan kuat dalam menghadapi berbagai guncangan. Suahasil menegaskan bahwa sinergi kebijakan dan momentum aktivitas ekonomi harus terus dijaga untuk mendukung pencapaian target tersebut. Oleh karena itu, koordinasi antarkementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi penting agar berbagai peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen pada kuartal