Kata Papua

Indonesia Catat Sejarah Baru Ketahanan Pangan melalui Ekspor Pupuk - Kata Papua

Indonesia Catat Sejarah Baru Ketahanan Pangan melalui Ekspor Pupuk

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Indonesia Catat Sejarah Baru Ketahanan Pangan melalui Ekspor Pupuk

Jakarta – Indonesia mencatat babak baru dalam penguatan ketahanan pangan nasional melalui ekspor pupuk urea ke sejumlah negara di tengah ketidakpastian geopolitik global. Di saat banyak negara menghadapi gangguan rantai pasok akibat dinamika kawasan Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, Indonesia justru tampil sebagai pemasok yang mampu membantu memenuhi kebutuhan pupuk dunia.

“Negara kita kaya, harus kita amankan kekayaan tersebut untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Saya bertekad, saya percaya, dan saya yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan bangkit,” kata Presiden Prabowo Subianto.

 

Presiden Prabowo menjelaskan, ketegangan global turut memengaruhi distribusi energi dan bahan baku pupuk. Sekitar 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz sehingga gangguan di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap produksi pupuk berbasis gas dan urea yang menjadi kebutuhan utama sektor pertanian dunia.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia menerima permintaan pasokan pupuk dari berbagai negara. Presiden Prabowo mengungkapkan, laporan yang diterimanya dari Kementerian Pertanian menunjukkan Indonesia kini berada pada posisi strategis sebagai negara yang mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan global melalui ekspor pupuk dan komoditas pertanian lainnya.

 

“Kita tidak euforia, kita tidak sombong, tapi kita berada di pihak yang bisa memberi bantuan. Australia minta tolong kita, Filipina minta, India minta, Bangladesh minta, Brasil minta,” tutur Prabowo.

 

Pemerintah pun mulai merealisasikan langkah tersebut melalui ekspor perdana pupuk urea ke Australia. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan, pengiriman dilakukan melalui skema _government-to-government_ (G2G) dari Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, dengan volume awal mencapai 47.250 ton atau senilai sekitar Rp600 miliar.

 

“Rencana kita akan ekspor 250 ribu ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500 ribu ton,” jelasnya.

 

Ia mengungkapkan, total nilai ekspor pupuk ke Australia diproyeksikan mencapai sekitar Rp7 triliun. Setelah Australia, pemerintah juga mengarahkan perluasan pasar ke negara-negara lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh yang telah menunjukkan minat terhadap pupuk urea Indonesia.

 

“Ini menunjukkan Indonesia semakin dipercaya dan diperhitungkan dalam menjaga stabilitas pangan kawasan,” ujar Amran.

 

Ia menambahkan, pemerintah Australia bahkan menyampaikan apresiasi langsung atas dukungan Indonesia di tengah tekanan geopolitik global. Menurut Amran, kerja sama tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga mulai memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan pupuk di tingkat regional maupun global.

 

“Menteri Pertanian Australia menyampaikan terima kasih karena Indonesia telah membantu menyuplai pupuk ke Australia di tengah tantangan geopolitik global,” ungkap Amran.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.