Lompat ke konten utama

Kata Papua

Keluarga Driver Ojol Hingga Tokoh Bangsa Serukan Perdamaian, Hentikan Demo Anarkis - Kata Papua

Keluarga Driver Ojol Hingga Tokoh Bangsa Serukan Perdamaian, Hentikan Demo Anarkis

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Astrid Widia

Bangsa Indonesia kembali diuji oleh peristiwa yang menyisakan duka sekaligus keresahan. Namun di tengah suasana ini, pesan dari keluarga korban dan tokoh bangsa menegaskan bahwa sudah saatnya aksi demonstrasi yang berujung ricuh disudahi demi menjaga kedamaian bersama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi salah satu pihak yang menyampaikan seruan damai. MUI menegaskan bahwa unjuk rasa memang merupakan bagian dari hak warga negara, tetapi bila demonstrasi itu berubah menjadi tindakan anarkis yang menimbulkan kerusakan, keresahan, serta kesulitan bagi masyarakat luas, maka sepatutnya dihentikan segera. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pimpinan MUI, Masduki Baidlowi, menekankan bahwa pendemo sebaiknya pulang ke rumah masing-masing agar tidak menambah beban masyarakat lain. Pesan ini sederhana, tetapi jelas mencerminkan kepedulian terhadap ketenteraman bersama.

Masduki menambahkan, dampak dari kericuhan tidak bisa dianggap sepele karena langsung berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah yang menggantungkan hidup dari kerja harian. Menurutnya, ketika jalan-jalan ditutup dan situasi tidak kondusif, maka mereka yang harus mencari nafkah akan paling terdampak. Dari sinilah terlihat bahwa menjaga ketertiban bukan sekadar soal aturan negara, tetapi soal kepedulian terhadap sesama warga.

Seruan senada juga datang dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Dalam keterangannya, ia mengimbau semua pihak agar menahan diri, menjaga situasi tetap aman, serta tidak memperluas ketegangan. Ia mengingatkan, bila kondisi ini terus meluas, maka dampaknya akan langsung menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ekonomi bisa tersendat, perdagangan terhenti, dan pada akhirnya rakyat kecil lagi yang harus menanggung beban paling berat.

JK mengingatkan bahwa gejolak di jalanan bukanlah solusi, karena efeknya bisa berlangsung panjang. Ia pun menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam insiden saat demonstrasi. Menurutnya, kehilangan nyawa anak bangsa di tengah keresahan seharusnya menjadi alarm bagi kita semua bahwa aksi anarkis tidak sepatutnya terus dilanjutkan.

Empati juga ditunjukkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Malam setelah peristiwa, beliau mendatangi rumah duka Affan Kurniawan bersama rombongan pejabat negara. Kehadirannya menjadi simbol nyata bahwa negara hadir bersama rakyat dalam duka. Sejak pagi, Presiden Prabowo sudah menyampaikan belasungkawa melalui media sosial, menegaskan bahwa pemerintah turut berduka atas kehilangan ini. Dalam keterangannya, beliau mengakui adanya tindakan aparat yang berlebihan dalam mengamankan aksi dan menegaskan bahwa semua pihak yang terbukti melanggar akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.

Presiden menegaskan, apabila ada aparat yang bertindak di luar kepatutan, tindakan hukum akan diberikan sekeras-kerasnya. Pernyataan ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjunjung keadilan serta memastikan aparat negara tidak kebal hukum. Bagi masyarakat, sikap ini adalah jaminan bahwa negara bekerja secara adil untuk semua.

Namun pesan paling menyentuh justru datang dari keluarga korban sendiri. Zulkifli, ayah Affan Kurniawan, dengan ketabahan luar biasa meminta agar tragedi yang menimpa anaknya tidak menimbulkan korban baru. Ia memohon agar rekan-rekan seprofesi anaknya tidak melakukan aksi balasan dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum. Dengan suara yang bergetar, ia mengatakan cukup anaknya yang menjadi korban. Pernyataan itu mencerminkan kebesaran hati dan sekaligus seruan damai yang harus kita dengar bersama.

Suara keluarga korban, tokoh agama, tokoh bangsa, dan presiden sejatinya berpadu menjadi satu: hentikan kekerasan, sudahi kericuhan, dan kembalilah pada jalan damai. Semua pihak mengingatkan bahwa demo anarkis hanya menimbulkan luka baru, baik bagi korban langsung maupun bagi masyarakat luas.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kerugian akibat demo anarkis sangat besar. Jalanan yang macet total, transportasi umum terganggu, pedagang terpaksa menutup warung lebih cepat, hingga pekerja harian kehilangan pemasukan. Bukan hanya kerusakan fisik yang ditinggalkan, tetapi juga ketidakpastian ekonomi yang menggerogoti rakyat kecil. Apalagi Indonesia masih dalam tahap pemulihan ekonomi, situasi semacam ini hanya akan menambah berat beban yang sudah ditanggung masyarakat.

Karena itu, kita harus melihat lebih jauh: apakah demonstrasi dengan cara anarkis benar-benar membawa solusi? Tuntutan yang disuarakan bisa disampaikan melalui cara-cara damai, dialog, maupun mekanisme hukum yang tersedia. Menyampaikan aspirasi bukan berarti mengorbankan ketenteraman publik. Justru, demokrasi yang sehat ditandai oleh kebebasan berpendapat yang disampaikan dengan cara beradab, tanpa merugikan orang lain.

Sejarah panjang bangsa ini mencatat banyak peristiwa ketika kerusuhan jalanan hanya meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Dari pengalaman itulah kita seharusnya belajar. Menyudahi aksi anarkis bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan untuk mencegah agar korban tidak bertambah.

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan seharusnya menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak akan membawa manfaat. Kita semua berduka, tetapi jangan biarkan duka itu melahirkan duka baru. Kini saatnya masyarakat kembali ke rumah dengan hati yang tenang, menyudahi demonstrasi, serta membiarkan hukum bekerja demi menegakkan keadilan. Indonesia butuh kedamaian, dan kedamaian itu hanya bisa hadir bila kita bersama-sama menutup pintu kericuhan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan