Lompat ke konten utama

Kata Papua

Kerukunan Lintas Agama Penting Pasca Pemilu dan Sukseskan Pilkada Damai - Kata Papua

Kerukunan Lintas Agama Penting Pasca Pemilu dan Sukseskan Pilkada Damai

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Maesywara Wulandari

Pasca pemilu, pentingnya kerukunan lintas agama tidak dapat diremehkan, terutama saat memasuki fase Pilkada. Kerukunan ini menjadi landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Mari kita perkuat komitmen kita untuk menjaga kedamaian dan stabilitas sosial, demi mewujudkan Pilkada yang aman dan sukses di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Mimika.

Dalam rangka menciptakan suasana damai dan harmonis menjelang Pilkada, Polres Mimika telah menggelar acara syukur dan doa bersama lintas agama di Aula Mapolres Mimika pada Jumat, 17 Mei 2024. Acara ini merupakan langkah nyata untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat guna memastikan keberlangsungan proses demokrasi yang damai dan tertib.

Dalam sambutannya, Kapolres Mimika, AKBP I Gede Putra, menekankan bahwa doa bersama ini merupakan ungkapan syukur atas terselenggaranya Pemilu di Kabupaten Mimika yang berjalan dengan aman dan damai. Ia berharap, dengan doa ini, Pilkada yang akan datang juga dapat berlangsung dengan lancar dan damai.
Menurutnya, kerukunan lintas agama menjadi fondasi yang kuat dalam mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan sukses. Ajakan untuk bersama-sama menjaga kedamaian dan keamanan disampaikan kepada seluruh elemen masyarakat.
Ketua FKUB Kabupaten Mimika, Ignatius Adii, dalam sambutannya juga menegaskan komitmen FKUB untuk selalu bekerja sama dengan aparat keamanan dalam menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat (kamtibmas) di Mimika, demi suksesnya Pilkada damai di Kabupaten Mimika.
Ia menyampaikan apresiasinya kepada aparat keamanan, khususnya anggota Polri, yang telah bekerja keras dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Kabupaten Mimika. FKUB berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya yang dilakukan demi menjaga keamanan dan kedamaian selama berlangsungnya Pilkada.
Acara doa bersama lintas agama ini diadakan secara bergiliran oleh perwakilan dari berbagai agama, seperti Islam, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kristen Protestan. Masing-masing perwakilan menyampaikan doa dengan harapan agar Pemilu dan Pilkada di Kabupaten Mimika dapat berlangsung dalam suasana yang damai dan harmonis.
Ini menunjukkan komitmen kuat dari berbagai elemen masyarakat dan aparat keamanan di Mimika untuk menjaga kedamaian dan stabilitas selama proses demokrasi berlangsung. Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, kerukunan antarumat beragama semakin kuat dan dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Kabupaten Mimika.
Pentingnya peran tokoh agama dalam menciptakan kerukunan pasca pemilu tidak dapat dipungkiri. Menurut Dr. H. Kasno Sudaryanto, M.Ag., seorang dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya, pemilu 2024 ini berjalan dengan lancar dan damai, salah satunya berkat peran aktif umat beragama dalam meningkatkan toleransi dan saling pengertian.
Kasno juga menyoroti peran anak muda yang semakin aktif dan memahami dunia politik, sehingga mampu memberikan edukasi kepada yang lebih tua.
Prof. Dr. Philip K. Widjaja, Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), dalam dialog yang sama, menambahkan bahwa gotong royong menjadi salah satu cara efektif untuk mempererat kerukunan antarumat beragama.
Gotong royong mencerminkan sikap saling membantu tanpa memandang agama, yang sangat diperlukan untuk memperkuat ikatan sosial.
Bhabinkamtibmas Polsek Caringin Polres Sukabumi, Aipda Udin, dalam kegiatan silaturahmi door to door system (DDS), mengajak umat beragama untuk terus menjaga kondusifitas dan saling menghormati, terutama pasca Pemilu. Ia juga mendorong agar ronda malam diaktifkan kembali untuk menjaga keamanan lingkungan. Langkah ini penting untuk memastikan kerukunan dan stabilitas sosial.
Di Jayapura, Wakapolda Papua Brigjen Pol. Patrige Rudolf Renwarin menghadiri Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang bertujuan untuk mensukseskan Pilkada Damai di Tanah Papua. Ia menekankan bahwa kerukunan antar umat beragama adalah prinsip penting dalam masyarakat yang beragam. Melalui dialog dan sikap saling menghormati, kesalahpahaman dapat dikurangi dan kerukunan dapat diperkuat.
Selain itu, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, juga dijadikan momentum untuk mempererat kerukunan antarumat beragama. Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama, Jeans Marie Tulung, menyatakan bahwa Pesparawi harus menjadi ajang untuk memperkuat kerukunan dan toleransi, bukan hanya mencari juara.
Panitia diharapkan menyediakan akomodasi bagi peserta di rumah-rumah warga dari berbagai agama, untuk membangun kebersamaan dan moderasi beragama.
Pesparawi di Manokwari terpilih sebagai tuan rumah karena tingkat kerukunan dan toleransi beragama yang tinggi. Melalui acara ini, diharapkan masyarakat dapat menampilkan moderasi beragama dan membangun kebersamaan.
Pemprov Papua Barat, Pemkab Manokwari, dan forkopimda diharapkan dapat melibatkan seluruh pimpinan gereja dalam pelaksanaan Pesparawi, sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan sukses pada 2025.
Menjaga kerukunan lintas agama pasca Pemilu dan dalam rangka menyukseskan Pilkada damai adalah tugas bersama yang memerlukan komitmen dan kerja sama dari semua pihak. Dengan memperkuat toleransi dan saling pengertian, kita dapat menciptakan suasana yang harmonis dan damai, yang akan mendukung proses demokrasi berjalan dengan lancar.
Mari kita semua berperan aktif dalam menjaga kerukunan ini, demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

*) Kontributor Lapak Baca Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tolak Kekerasan Bersenjata, Tokoh Adat Serukan Papua yang Aman dan Damai

Oleh : Yohanes Wandikbo Penembakan terhadap tiga warga sipil yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan pentingnya perlindungan masyarakat dan penguatan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian di Tanah Papua. Kekerasan terhadap warga sipil tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan. Karena itu, penolakan terhadap kekerasan perlu menjadi sikap bersama demi mewujudkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Ondoafi Kampung Sabron Yaru, Nikodemus Yaboisembut, mengecam tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat. Menurutnya, penembakan terhadap warga sipil bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan adat Papua yang menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, serta keharmonisan. Masyarakat seharusnya dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa dihantui ancaman kekerasan. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi perhatian bersama, sementara setiap persoalan perlu diselesaikan melalui cara-cara yang damai dan sesuai dengan hukum. Nikodemus Yaboisembut juga menilai bahwa tokoh adat mempunyai peran strategis dalam menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan pemerintah. Kedudukan tokoh adat yang dekat dengan kehidupan warga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, mencegah kesalahpahaman, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap upaya menjaga keamanan. Melalui pendekatan persuasif dan penguatan nilai-nilai adat, para pemimpin masyarakat dapat mendorong warga untuk menolak kekerasan serta mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan. Dalam konteks tersebut, kehadiran pemerintah melalui pelayanan publik dan berbagai program pembangunan perlu didukung dengan partisipasi masyarakat. Pembangunan tidak hanya membutuhkan kebijakan dan anggaran, tetapi juga lingkungan yang aman agar pelaksanaannya berjalan efektif. Ketika masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang, akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi akan lebih terbuka. Karena itu, menjaga keamanan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Seruan serupa disampaikan Ondoafi Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, yang menyayangkan penembakan terhadap tiga warga sipil. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan. Menurutnya, koordinasi antara warga, tokoh adat, dan aparat keamanan perlu diperkuat agar potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Ia juga mendorong peningkatan patroli kepolisian di wilayah yang membutuhkan penguatan pengamanan sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang memadai. Nikson Marweri berpandangan bahwa upaya menjaga keamanan harus dilakukan melalui pendekatan yang terukur, humanis, dan mengutamakan keselamatan warga. Kehadiran aparat keamanan perlu diiringi komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat agar langkah pengamanan dapat berjalan secara efektif dan memperoleh dukungan publik. Di sisi lain, warga juga perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persaudaraan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan tersebut penting karena keamanan bukan semata-mata persoalan penindakan terhadap pelaku kekerasan. Pencegahan konflik, penguatan solidaritas sosial, dan penyelesaian persoalan melalui dialog juga menjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas. Dengan demikian, kerja sama masyarakat dan aparat dapat diarahkan untuk membangun rasa aman yang berkelanjutan, tanpa mengabaikan penghormatan terhadap adat, hak warga, dan ketentuan hukum yang berlaku. Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Deiyai, Bernard Pekei, mengajak masyarakat adat di 67 desa atau kampung di wilayahnya untuk berperan aktif menjaga ketertiban. Ia juga mendorong dukungan masyarakat terhadap program pemerintah pusat yang bertujuan memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga berbagai program dapat berjalan dan memberikan manfaat secara optimal. Bernard Pekei menilai bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat persatuan dan mencegah berkembangnya konflik. Nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap kehidupan yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Papua dapat menjadi fondasi untuk membangun perdamaian. Melalui keterlibatan aktif di lingkungan masing-masing, masyarakat dapat memperkuat ketahanan sosial sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman bagi generasi muda untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi. Pada akhirnya, masa depan Papua yang aman dan sejahtera membutuhkan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat perlu terus membangun sinergi dengan mengedepankan perlindungan warga sipil, dialog, serta penghormatan terhadap hukum. Kecaman terhadap kekerasan harus diikuti langkah nyata untuk menjaga kerukunan dan mencegah konflik berulang. Selain itu, penguatan literasi masyarakat dan penyebaran informasi yang akurat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian di Papua. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh provokasi maupun informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan memecah persatuan. Tokoh adat, tokoh agama, serta pemimpin lokal dapat berperan aktif menyampaikan pesan perdamaian dan membangun komunikasi yang konstruktif. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, upaya pemerintah dalam menjaga keamanan, meningkatkan pelayanan publik, dan mempercepat pembangunan di Papua diharapkan dapat berjalan lebih optimal demi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua