Lompat ke konten utama

Kata Papua

KST Papua Semakin Terpojok - Kata Papua

KST Papua Semakin Terpojok

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Beredar kabar bahwa Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua kini semakin lemah, baik dari segi posisi dan jumlah kekuatannya, apalagi ada beberapa anggota KST yang mengaku menyerahkan diri dan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi karena merasa dirinya ditipu oleh kelompok separatis tersebut.

Pengejaran terhadap KST di Papua terus dioptimalkan. Aparat keamanan gabungan TNI-Polri mengklaim bahwa pihaknya telah menguasai camp-camp yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok teroris KST Papua. Camp tersebut kini telah diduduki dan dijaga oleh personel TNI-Polri.

            Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes Pol Iqbal Alqudusy, menyampaikan bahwa sebagian daerah yang telah dikuasai aparat antara lain di Kabupaten Puncak, Papua.

            Dirinya menyampaikan bahwa pihaknya juga masih tengah fokus untuk menyisir kelompok-kelompok teroris KST Papua. Pencarian juga akan difokuskan di wilayah zona mini (Mimika, Intan Jaya, Nduga dan Ilaga). Pihaknya juga memberikan bantuan sosial di beberapa titik di zona mini dan tidak lupa memberikan trauma healing bagi masyarakat terutama anak-anak pasca kontak tembak.

            Sebelumnya, setidaknya terdapat 9 kelompok teroris KST Papua yang masih menjadi target operasi. Total, anggotanya diperkirakan mencapai 150 orang.

            Ia menyampaikan kelompok teroris KST tersebut tidak terpusat di suatu titik persembunyian. Lokasi persembunyian KST Papua tersebut tersebar di sejumlah daerah di Papua.

            Mereka dibagi menjadi 7 sampai 9 kelompok yang terpencar di berbagai daerah. Dipetakan oleh aparat keamanan baik TNI maupun Polri bahwa mereka sudah dapat diidentifikasi kelompok-kelompoknya. Termasuk pimpinan-pimpinannya.

            Selain itu, Ahmad juga menyampaikan bahwa pihaknya juga telah memetakan kekuatan persenjataan di setiap masing-masing kelompok tersebut.

            Namun, dirinya tidak menampik bahwa ada sejumlah kendala yang dialami oleh aparat, seperti medan lokasi persembunyian pelaku yang berada di pegunungan hingga hutan.

            Kelompok ini bersembunyi di medan yang luas untuk dapat menyembunyikan jejaknya. Termasuk hutan yang lebat dan berbukit-bukit.

            Teroris kelompok kriminal bersenjata (KST) Papua pimpinan Lekagak Telenggen disebut kian terdesak dengan pasukan TNI-Polri dari Satgas Nemangkawi di Ilaga. Mereka kemudian berupaya melarikan diri dari Ilaga.Mereka kemudian berupaya melarikan diri dari Ilaga untuk menghindar dari kejaran personel TNI-Polri.

            Menurut Fakhiri, wilayah terdekat yang dapat digunakan Lekagak dan anak buahnya untuk melarikan diri dari Ilaga ialah wilayah Kuyawage atau Balingga, Kabupaten Lanny Jaya atau bisa juga bisa ke kabupaten Puncak Jaya yang jaraknya relatif lebih dekat. Wilayah tersebut dinilai paling gampang digunakan mereka untuk melarikan diri.

            Dijelaskan pula bahwa kelompok Lekagak Telenggen hanya menjadi tamu di Ilaga, sementara pemilik wilayah tersebut oleh ialah kelompok Militer Murib. Sedangkan wilayah Kabupaten Lanny Jaya adalah kelompok Puron Wenda.

            Ada kemungkinan kecil Lekagak beserta anak buahnya kabur menuju Intan Jaya, karena mereka paham bahwa keberadaan aparat keamanan cukup banyak. Fakhiri lalu meminta jajaran Polri di berbagai wilayah di kawasan pegunungan senantiasa siaga dan waspada.

            KST yang sudah memahami kondisi alam tentu dapat lari kemana saja, sehingga aparat keamanan TNI-Polri harus tetap siaga dan waspada.           

            KST diperkirakan memiliki sekitar 70 senjata api yang diduga hasil dari merampas dari TNI/Polri. Oleh karena itu pihaknya senantiasa mengingatkan personelnya untuk selalu waspada dan bertindak sesuai dengan SOP, terarah dan terukur, guna menghindari jatuhnya korban yang berujung pada perampasan senpi dan amunisi.

            Sementara itu, TNI Polri terus melakukan upaya memberantas teroris KST yang menginginkan tanah Papua lepas dari kedaulatan Indonesia. Aksi terbaru, Satgas Nemangkawi telah berhasil menembak mati anggota KST.

            Dua orang anggota kelompok Lekagak tewas dalam kontak tembak. Kemudian ada satu orang yang melarikan diri dengan kondisi tertembak.

            Setelah kontak tembak berakhir, Satgas Nemangkawi melakukan penyisiran. Mereka menemukan sejumlah barang bukti, berupa 1 pucuk senjata organik, 1 buah HT, 17 butor amunisi, 4 selongsong peluru, 1 bendera bintang kejora, hingga uang sebesar Rp 14,4 juta.

            Semakin terpojoknya KST tentu menjadi bukti bahwa TNI-Polri tidak main-main dalam menjaga kedaulatan NKRI, khususnya di Papua.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata