Lompat ke konten utama

Kata Papua

Langkah Cepat Pemerintah Berhasil Menjaga Stabilitas Harga Beras - Kata Papua

Langkah Cepat Pemerintah Berhasil Menjaga Stabilitas Harga Beras

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Herman Ade Wijaya

Pemerintah terus mendistribusikan bantuan pangan guna untuk menstabilkan harga beras. Pasokan dan ketersediaan bahan pokok, khususnya beras di seluruh Indonesia menjadi perhatian khusus Pemerintah saat ini. Kenaikan harga beras diakibatkan naiknya harga gabah, karena lonjakan harga pupuk dan bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, dampak dari perubahan iklim juga mempengaruhi karena mengakibatkan kekeringan hingga gagal panen. Sehingga pasokan beras di pasaran menjadi berkurang.
Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan (Zulhas), mengatakan persediaan beras di Gudang Bulog per 21 September 2023 sebanyak 1,4 juta ton dan akan masuk 400 ribu ton dari impor. Sedangkan data neraca Badan Pangan Nasional memperkirakan stok beras mencapai 7,69 juta ton sampai akhir 2023.
Zulhas juga meminta pemerintah daerah untuk terus melakukan operasi pasar guna menjaga stabilitas harga beras dipasaran. Serta seluruh permintaan beras yang diperlukan tetap dilayani, agar harga beras tetap stabil.

Pemerintah secara terus menerus konsisten melakukan operasi pasar dan pasar murah, serta mempercepat penyaluran bantuan beras 10 kilogram untuk menjaga stabilitas harga beras.

Dalam menjaga stabilitas harga beras, pemerintah melalui Perum Bulog menyalurkan beras ke pasar-pasar. Harga jual beras premium disesuaikan dengan pasar. Sedangkan harga beras untuk masyarakat tidak mampu dapat membeli melalui program-program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).

Masyarakat diminta untuk tidak khawatir dengan ketersediaan beras. Stok beras di Gudang Bulog hingga saat ini masih sangat cukup. Selain itu, masyarakat diminta agar tidak khawatir, karena pemerintah melakukan beberapa langkah untuk menstabilkan harga beras.
Setelah melakukan langkah-langkah cepat dalam menangani kenaikan harga beras, beberapa daerah di Indonesia telah menunjukkan hal yang positif. Di Pekanbaru, Riau harga kebutuhan pokok cenderung stabil termasuk beras. Selain itu pasokan bahan pokok juga cukup tidak ada kendala, sehingga masyarakat dapat berbelanja dengan tenang. Sedangkan di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, harga kebutuhan pokok telah stabil dan pasokan tersedia.
Selain itu, harga beras di Jawa Barat mulai kembali stabil berkat upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat dan Provinsi Jawa Barat. Selain berkat Gelar Pangan Murah (GPM), stabilnya harga besar juga tak lepas dari bantuan pangan yang digulirkan. Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin, mengatakan sejak bantuan pangan dilakukan, harga beras berangsur-angsur dapat dikendalikan.
Saat ini, Pemprov Jabar mencatat dampak Bantuan Cadangan Pangan (BCP) di Jabar dari Bapanas yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo di Bogor awal September lalu, sudah terlihat meski penyaluran baru sebesar 54 persen untuk 4,149,374 keluarga penerima manfaat. Penyaluran BCP untuk sejumlah daerah tengah dikebut oleh Pemprov Jabar, Bulog dan PT Pos Indonesia agar tuntas sebelum 30 September mendatang.
Selain itu, Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga terus berupaya untuk menjaga ketahanan pangan melalui Bulog. Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, Bulog mendapat penugasan untuk menjaga pasokan beras agar harga data beli masyarakat tetap stabil. Dalam penugasan pemerintah, untuk menjaga stabilitas harga beras, Bulog dan ID Food bekerjasama dengan Bapanas. Dalam hal ini ada beberapa strategi untuk menjaga stabilitas harga beras tersebut. Saat panen dan terjadi suplai yang berlebih, Bulog akan membeli untuk memenuhi pasokan beras saat harganya cenderung murah. Sehingga, pada saat permintaan tinggi, Bulog tetap menjual beras dengan harga yang stabil. Sehingga masyarakat dapat membeli beras Bulog dengan harga yang normal.
Dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah tersebut, harga komoditas beras di sejumlah pasar tradisional dan toko pengecer di berbagai daerah saat ini berangsur turun, seiring dengan digelarnya operasi pasar beras murah oleh Bulog setempat dalam kurun beberapa pekan terakhir.
Harga beras diberbagai daerah pada September ini terpantau stabil dengan harga Rp10.900 per kilogram, dengan harga eceran tertinggi, yakni sebesar Rp13 ribu per kilogram. Sementara rata-rata harga beras di kisaran Rp11.455 per kilogram.
Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) memastikan ketersediaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di semua market, baik pasar tradisional, pasar modern hingga Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Pasca operasi pasar beras di PIBC harga beras medium mulai turun secara bertahap. Di mana per 22 September 2023 harga beras medium di sana ialah Rp 11.861 per kg.
Upaya intervensi harga beras utamanya medium dilakukan dengan percepatan penyaluran bantuan pangan. Realisasi penyaluran bantuan pangan di Jakarta saat ini sudah 100% untuk periode September 2023. Sedangkan untuk realisasi bantuan pangan beras secara nasional sudah mencapai 59,89%. Sehingga dengan adanya upaya tersebut harga beras akan semakin terjangkau, dan masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pangan dengan layak.

)* Penulis adalah kontributor Jurnal Redak

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan