Lompat ke konten utama

Kata Papua

Masyarakat Bersama TNI Polri Bangun Demokrasi Damai dan Tertib - Kata Papua

Masyarakat Bersama TNI Polri Bangun Demokrasi Damai dan Tertib

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Kalimantan Selatan – Semangat kebersamaan antara masyarakat dan aparat keamanan, khususnya TNI dan Polri, menjadi kunci penting dalam mewujudkan demokrasi yang damai, tertib, dan berkeadaban. Demokrasi Indonesia tidak hanya ditopang oleh sistem politik, tetapi juga oleh kesadaran kolektif bahwa perbedaan pendapat harus disalurkan melalui cara-cara yang konstitusional, bukan melalui aksi anarkis yang merugikan semua pihak.

Kabid Propam Polda Kalimantaran Selatan (Kalsel), Kombes Pol. Hery Purnomo, mengatakan soliditas TNI-Polri di Kalsel sangat kuat. Mereka berkomitmen menjaga kondusivitas daerah demi keamanan seluruh masyarakat.

Berbeda dengan wilayah lain, unjuk rasa besar di Kalsel berlangsung sangat damai. Ribuan mahasiswa dan pengemudi ojek online berdemonstrasi pada 1 September 2025 lalu. Aksi tersebut tidak berakhir ricuh berkat kerja sama semua pihak yang terlibat.

Kabid Propam Polda Kalsel, Kombes Pol. Hery Purnomo, menegaskan pentingnya soliditas. Soliditas TNI-Polri Kalsel menjadi benteng utama menjaga keamanan. Mereka berkomitmen penuh untuk stabilitas wilayah. Ini demi kenyamanan seluruh lapisan masyarakat.

“Banyak unjuk rasa di berbagai wilayah berakhir ricuh. Namun, hal tersebut tidak terjadi di Kalimantan Selatan. Kondisi ini patut diapresiasi. Contoh konkretnya adalah aksi ribuan orang pada 1 September 2025 lalu. Organisasi mahasiswa dan pengemudi ojek online berunjuk rasa di depan DPRD Kalsel. Aksi tersebut berlangsung dengan tertib dan damai. Tidak ada insiden berarti yang terjadi”, ujar Hery.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama semua pihak. Komitmen bersama untuk aksi damai demi Kalsel yang aman sangat dijunjung tinggi. Masyarakat juga turut serta menjaga suasana kondusif. Ini menunjukkan kesadaran kolektif yang baik.

Hery menyoroti dinamika situasi nasional yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, perlunya menjaga hubungan harmonis antar semua elemen masyarakat sangat krusial. Ini untuk mencegah potensi kesalahpahaman. Kesalahpahaman dapat memicu konflik.

“Potensi kesalahpahaman bisa menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sinergi TNI-Polri Kalsel terus diperkuat. Tujuannya adalah menangkal segala bentuk provokasi. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan”, kata Hery.

Indikasi atau potensi provokasi dapat memicu gangguan Kamtibmas. Sinergi yang kuat menjadi garda terdepan dalam menjaga situasi. TNI-Polri bahu membahu dengan semua unsur masyarakat. Mereka bekerja sama demi keamanan bersama.

“Tentu hubungan yang harmonis dan sinergi TNI-Polri perlu diperkuat menyikapi adanya indikasi atau potensi yang dapat menimbulkan unsur provokasi memicu gangguan Kamtibmas”, tambah Hery.

Dengan terjaganya suasana damai dan tertib, demokrasi Indonesia diyakini akan semakin matang dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional. Masyarakat, TNI, dan Polri bersama-sama memegang peran penting dalam menjaga harmoni, sehingga Indonesia tetap kokoh sebagai negara demokrasi yang berdaul

at, adil, dan beradab.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Isu September Hitam Jangan Sampai Mengikis Solidaritas Sesama Anak Bangsa 

Oleh: Gavin Asadit Munculnya isu September Hitam 2026 perlu disikapi secara bijak agar tidak berkembang menjadi narasi yang mengikis solidaritas dan persatuan sesama anak bangsa. Refleksi terhadap berbagai catatan sejarah hak asasi manusia (HAM) tetap penting, tetapi penyikapannya perlu dilakukan dengan mengedepankan informasi yang benar, dialog, serta semangat menjaga keutuhan bangsa. Momentum September Hitam dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai sejarah, demokrasi, dan HAM. Refleksi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada penyebaran informasi di media sosial, tetapi disertai upaya memahami konteks dan fakta secara utuh. Kepala Bakom Pemerintah Republik Indonesia Muhammad Qodari menekankan pentingnya komunikasi publik yang mampu menghadirkan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dalam konteks ruang digital, kualitas informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan dan mencegah berkembangnya narasi yang dapat memecah belah. Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Setiap isu dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu mampu membedakan informasi faktual, opini, maupun narasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda. Kemampuan memeriksa informasi sebelum membagikannya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab warga negara di era digital. Informasi palsu, provokasi, ujaran kebencian, dan narasi yang mempertajam perbedaan dapat merusak hubungan sosial apabila tidak disikapi dengan bijak. Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan Muhamad Mardiono mengajak masyarakat memperkuat persatuan dengan membangun komunikasi dan silaturahim. Menurutnya, interaksi yang baik antarelemen masyarakat penting agar warga tidak mudah terpengaruh maupun terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang. Muhamad Mardiono juga mengingatkan pentingnya memperkuat silaturahim agar masyarakat dapat menghadapi perbedaan secara lebih tenang dan dewasa. Semangat tersebut menjadi relevan dalam menyikapi berbagai informasi yang berkembang selama momentum September Hitam 2026. Isu September Hitam tidak semestinya menjadi alasan masyarakat untuk saling berhadapan. Sebaliknya, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah harus dipelajari secara objektif agar generasi berikutnya mampu mengambil pelajaran dan mencegah terulangnya berbagai persoalan kemanusiaan. Aktivis pemuda dan mahasiswa M. Fad mengajak kalangan mahasiswa dan masyarakat luas lebih bijak menyikapi informasi yang beredar dalam momentum September Hitam 2026. Ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas, persatuan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Menurut M. Fad, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas diskursus publik. Sebagai kelompok yang dekat dengan tradisi intelektual dan gerakan sosial, mahasiswa diharapkan menyampaikan aspirasi berdasarkan pengetahuan dan data, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang sedang ramai. Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi perlu disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab agar tidak berubah menjadi konflik yang merugikan masyarakat. Ruang diskusi, edukasi, kajian sejarah, serta kegiatan sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas sekaligus mencegah konflik akibat kesalahpahaman informasi. Peran generasi muda semakin penting karena sebagian besar percakapan mengenai September Hitam berlangsung di ruang digital. Media sosial menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi, berdiskusi, sekaligus membentuk pandangan terhadap berbagai persoalan. Penggunaan media sosial tanpa kemampuan memilah informasi dapat menimbulkan persoalan baru. Konten yang dipotong dari konteks, judul provokatif, hingga informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat. Dalam edukasi HAM, media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mengenali berbagai isu, tetapi informasi yang ditemukan tetap perlu diperdalam melalui sumber kredibel dan pembelajaran komprehensif. Generasi muda perlu memahami sejarah pelanggaran HAM secara utuh, bukan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai pembelajaran agar nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama semakin kuat. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah maupun berbagai persoalan sosial. Kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi sarana mendorong perbaikan. Namun, kritik sebaiknya tidak berubah menjadi permusuhan antarsesama warga negara. Persatuan bukan berarti masyarakat harus memiliki pandangan yang seragam. Persatuan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola melalui dialog dan penghormatan terhadap satu sama lain. Perbedaan pilihan, pendapat, maupun cara melihat sejarah seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa seluruh masyarakat merupakan bagian dari bangsa yang sama. Dalam konteks September Hitam 2026, generasi muda memiliki kesempatan menunjukkan bahwa refleksi sejarah dapat dilakukan secara dewasa. Mahasiswa dan pemuda dapat menjadi penggerak diskusi yang sehat, menyebarkan informasi yang benar, serta membangun ruang publik yang edukatif. Masyarakat juga dapat berkontribusi dengan tidak langsung mempercayai setiap informasi di media sosial. Memeriksa sumber, membaca informasi secara utuh, membandingkan dengan sumber lain, dan tidak terburu-buru menyebarkan konten merupakan langkah sederhana untuk menjaga ruang digital tetap sehat. Sinergi antara mahasiswa, pemuda, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar penyampaian aspirasi tetap berjalan sekaligus menjaga keamanan bersama. Dengan komunikasi yang baik dan literasi informasi yang kuat, perbedaan pandangan dapat dikelola tanpa mengganggu persatuan. *) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan