Lompat ke konten utama

Kata Papua

Mengapresiasi Penggerebekan Markas KST Papua Demi Tumpas Separatisme - Kata Papua

Mengapresiasi Penggerebekan Markas KST Papua Demi Tumpas Separatisme

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Alfred Jigibalom

Adanya penggerebekan pada Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua yang terjadi di Ambaidiru merupakan sebuah bukti sangat nyata bahwa memang seluruh aparat keamanan terus dan sudah sangat optimal dalam upayanya untuk menjaga kedamaian di Bumi Cenderawasih sehingga tidak terjadi lagi tindakan teror dan kekerasan serta tidak lagi jatuh korban.

Tim Gabungan dari Satuan Tugas (Satgas) Damai Cartenz dan juga Kepolisian Resort (Polres) Kepulauan Yapen berhasil melakukan penggerebekan ke sarang KST yang berada di Kampung Ambaidiru, Distrik Kosiwo, Kepulauan Yapen, Papua.

Terkait dengan adanya penggerebekan gerombolan separatis di Bumi Cenderawasih itu, Pelaksana harian Wakil Kepala Operasi (Ops) Damai Cartenz, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Joko Sulistio menjelaskan bahwa penggerebekan yang dilakukan pada hari Jumat, tanggal 15 Juni 2023 itu dilakukan sesaat setelah terjadinya pembakaran alat berat (ekscavator) dan juga adanya pengibaran bendera Bintang Kejora.

Tentunya, hal tersebut juga menunjukkan bahwa memang para aparat keamanan di Indonesia langsung bergerak dengan sangat cepat tanggap dalam menangani perihal separatisme dan terorisme di Tanah Air, karena mampu langsung melakukan tindakan dengan sangat tegas untuk menghukum mereka.

Untungnya, kejadian yang terjadi pada tanggal 29 Mei 2023 lalu di Kampung Woda, Distrik Rainbawi, Kabupaten Kepuluan Yapen itu, yakni adanya pembakaran alat berat, tidak memunculkan korban jiwa. Tidak bisa dipungkiri pula, dengan tidak adanya korban jiwa atas kejadian teror yang dilakukan oleh KST Papua juga merupakan salah satu bukti nyata dari keberhasilan para aparat keamanan untuk senantiasa menjaga kondusifitas.
Lebih lanjut, dari adanya penggerebakan yang dilakukan di sarang kelompok separatis dan teroris Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan dari personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan Badan Intelijen Negara (BIN) telah berhasil mengamankan 1 (satu) pucuk senjata api (senpi) rakitan yang berbahan kayu dan menyerupai pistol rompi berwarna loreng.
Bukan hanya itu saja, namun dari adanya penggerebakan tersebut, aparat keamanan juga berhasil untuk mengamankan bendera Bintang Kejora yang berukuran sebesar 25 cm x 15 cm dan juga berbagai macam barang bukti lainnya. Kini, seluruh barang bukti yang berhasil disita dari gerombolan separatis itu telah diserahkan kepada pihak Polres Kepulauan Yapen untuk segera ditindaklanjuti.
Untuk semakin memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh masyarakat di Bumi Cenderawasih, maka dari itu, para aparat keamanan dari personel gabungan Satgas Damai Cartenz terus menggiatkan semua anggota mereka untuk melakukan pelaksanaan patroli dan berkeliling guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Ternyata, diketahui bahwa kelompok separatis dan teroris Papua yang berhasil digerebek tersebut merupakan gerombolan pimpinan dari Sefnat Marani. Kemudian, untuk bisa mencapai lokasi sarang KST itu, perlu ditempuh sekitar hingga 2 (dua) jam perjalanan dengan cara berjalan kaki.
Sementara itu, Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Kombes Pol Faizal Ramadhani mengungkapkan bahwa awal mula penggerebakn itu bisa dilakukan oleh para aparat keamanan dikarenakan sebelumnya sempat ada informasi dari masyarakat setempat mengenai posisi dan juga keberadaan gerombolan separatis itu.
Namun, ketika dilakukan penggerebekan ke dalam sarang KST Papua tersebut, ternyata mereka semua sudah melarikan diri dan berusaha untuk menghindari aparat keamanan Tanah Air serta meninggalkan sejumlah barang bukti di markasnya. Dengan larinya gerombolan separatis itu dari upaya penggerebekan Satgas Damai Cartenz, termasuk juga menunjukkan bahwa sebenarnya memang mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun dan tidak bisa berkutik melawan kekuatan yang dimiliki oleh aparat keamanan Tanah Air.
Salah satu barang bukti yang juga turut berhasil diamankan oleh para aparat keamanan dari sarang gerombolan separatis di provinsi paling Timur di Indonesia tersebut adalah alat komunikasi berupa Handy Talkie (HT).
Pada kesempatan lain, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), K.H. Ma’ruf Amin dengan sangat keras mengutuk seluruh tindak kekerasan yang telah dilakukan oleh KST Papua, bahkan kerap kali juga terus memakan korban jiwa, baik dari warga sipil yang tidak berdoasa hingga dari aparat keamanan juga.
Maka dari itu, beliau kemudian menginstruksikan bahwa memang saat ini para aparat keamanan sudah seharusnya bertindak dengan jauh lebih tegas dalam upaya menghadapi gerombolan separatis di Bumi Cenderawasih itu, termasuk pula dalam melakukan penyisiran dan juga pengejaran kepada semua anggota KST Papua secara tepat dan cepat, sehingga mereka tidak bisa lagi menyebar teror dengan mengganggu keamanan masyarakat.
Upaya untuk senantiasa menjaga kedamaian di Bumi Cenderawasih terus dilakukan dengan sangat optimal oleh seluruh jajaran aparat keamanan. Salah satu bukti nyata dari bagaimana mereka telah melakukan kerja kerasnya adalah keberhasilan dalam melakukan penggerebekan KST Papua di Ambaidiru.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kualitas Hunian Jadi Fokus Percepatan Program 3 Juta Rumah 

Oleh Prasetyo Mulya Percepatan Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto kini tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah hunian, tetapi juga memastikan kualitas rumah yang diterima masyarakat benar-benar layak, aman, nyaman, dan sesuai standar. Fokus terhadap kualitas menjadi penting agar program perumahan rakyat tidak sekadar menghasilkan angka pembangunan yang besar, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah secara nyata. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait terus memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) untuk mempercepat realisasi Program 3 Juta Rumah. Kerja sama pemerintah dan pengembang dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengatasi berbagai persoalan yang masih muncul dalam pembangunan hunian, mulai dari aspek teknis, ketersediaan lahan, perizinan, pembiayaan, hingga penerapan standar kualitas bangunan. Dalam koordinasi bersama jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himperra, Menteri Ara menegaskan bahwa percepatan pembangunan rumah subsidi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap kualitas. Pengembang tidak cukup hanya memenuhi target jumlah unit, tetapi juga harus memastikan rumah yang dibangun sesuai spesifikasi dan dapat memberikan rasa aman serta nyaman bagi masyarakat penerima manfaat. Kontribusi Himperra dalam program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi salah satu gambaran perkembangan positif sektor perumahan. Dari target pembangunan sebanyak 47.000 unit rumah, Himperra telah merealisasikan lebih dari 22.000 unit. Capaian tersebut menunjukkan adanya keterlibatan aktif dunia usaha dalam mendukung agenda pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang terjangkau. Maruarar Sirait mengapresiasi dukungan tersebut karena program rumah subsidi tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha, khususnya pengembang, memiliki posisi strategis dalam memastikan kebutuhan hunian masyarakat dapat dipenuhi. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai kemudahan di sektor perumahan harus diikuti dengan profesionalisme, integritas, dan komitmen pengembang dalam menjaga kualitas pembangunan. Perspektif tersebut menjadi semakin relevan karena keberhasilan Program 3 Juta Rumah seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan berapa banyak rumah yang selesai dibangun. Pemerintah juga perlu melihat apakah rumah tersebut benar-benar memenuhi standar kelayakan dan memberikan kepuasan kepada penerima. Penggunaan anggaran subsidi negara harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Pemerintah selama setahun terakhir menunjukkan upaya memperkuat ekosistem perumahan melalui peningkatan kolaborasi dengan pengembang, dukungan pembiayaan rumah subsidi, serta dorongan untuk menyelesaikan berbagai hambatan administratif dan regulasi. Perkembangan tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempercepat pencapaian target pembangunan hunian sekaligus memperbaiki kualitas pelaksanaan program di lapangan. Maruarar Sirait juga mendorong Himperra agar tidak hanya berkembang sebagai organisasi pengembang, tetapi mampu melahirkan pelaku usaha yang memiliki karakter kuat dan menjunjung profesionalisme. Pertumbuhan bisnis perumahan, menurutnya, harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial karena produk yang dibangun menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Di sisi lain, Himperra menyampaikan sejumlah usulan yang berkaitan dengan hambatan pembangunan perumahan, termasuk persoalan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, penyediaan lahan, dan proses perizinan. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kelancaran pembangunan rumah sangat dipengaruhi oleh kepastian proses administratif serta kesiapan lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan. Penguatan koordinasi juga akan dilakukan melalui jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himperra dengan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), penerapan kebijakan insentif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta fasilitasi pembebasan BPHTB bagi masyarakat sesuai kebijakan daerah dan ketentuan yang berlaku. Saat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengembang berjalan konsisten, berbagai hambatan administratif dapat dikurangi. Dampaknya bukan hanya mempercepat pembangunan rumah, tetapi juga memperluas peluang masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh hunian yang layak. Pemerintah juga perlu menjaga pengawasan agar berbagai kemudahan yang diberikan kepada pengembang tetap menghasilkan pembangunan yang berkualitas. Ketua Umum DPP Himperra, H. Ari Tri Priyono, memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Maruarar Sirait dalam mendorong kemajuan sektor perumahan. Ari Tri Priyono menilai perkembangan sektor perumahan dalam dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penilaian dari pelaku industri tersebut menjadi gambaran bahwa kebijakan pemerintah mulai memberikan ruang lebih besar bagi sektor perumahan untuk berkembang. Himperra juga terus memperkuat organisasi melalui kegiatan Rapat Kerja Nasional, pelatihan, dan Milad Himperra yang menjadi ruang konsolidasi antara pengembang dan pemerintah. Forum semacam itu penting untuk menyamakan persepsi, menyerap persoalan di lapangan, sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan secara efektif. Program 3 Juta Rumah harus dipandang sebagai agenda besar