Kata Papua

Ojol di Jayapura Bebas dari Aturan Kendaraan Ganjil Genap - Kata Papua

Ojol di Jayapura Bebas dari Aturan Kendaraan Ganjil Genap

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Direktorat Lalu Lintas Polda Papua memastikan setiap hari Sabtu dan Minggu, tak ada aturan kendaraan ganjil genap di kota dan Kabupaten Jayapura.Direktur Ditlantas Polda Papua, Kombes Pol Muhammad Nasihin menjelaskan setelah analisa dan evaluasi uji coba penerapan ganjil genap yang dilakukan beberapa hari yang lalu, maka dapat dicari solusi terkait cara mengendalikan mobilitas masyarakat khususnya yang ada di jalan agar tidak terjadi penumpukan arus lalu lintas. “Penerapan ganjil genap kedua akan dilakukan mulai 23-31 Agustus, kecuali hari Sabtu dan Minggu,” jelasnya, Sabtu (21/8). Penerapan ganjil genap di kota dan Kabupaten Jayapura juga hanya dilakukan pada batas waktu tertentu, mulai pukul 08.00 WIT hingga 10.00 WIT. Lalu, pada siang hari hari, diberlakukan mulai 15.00 WIT hingga 17.00 WIT. Sementara pada malam hari tak ada pemberlakukan ganjil genap. “Hal ini dilakukan karena masih minim sarana prasarana di lapangan, lebih khusus penerangan yang belum memadai, sehingga petugas yang di lapangan pada saat melihat plat kendaraan baik itu yang genap atau yang ganjil kurang jelas,” katanya.  

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.