Kata Papua

Pemerintah Cegah Pemborosan Anggaran Lewat Efisiensi, Fokus pada Program Prioritas - Kata Papua

Pemerintah Cegah Pemborosan Anggaran Lewat Efisiensi, Fokus pada Program Prioritas

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Pemerintah Cegah Pemborosan Anggaran Lewat Efisiensi, Fokus pada Program Prioritas

 

 

*Jakarta* – Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Hasan Nasbi menegaskan Pemerintah mengambil langkah efisiensi anggaran demi meningkatkan produktivitas dan menggerakkan sektor ekonomi. Kebijakan ini bertujuan memastikan dana negara digunakan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, biaya perjalanan dinas pemerintah selama ini mencapai Rp44 triliun per tahun. Jika dilakukan efisiensi sebesar 50 persen, sekitar Rp20 triliun dapat dialihkan untuk kebutuhan lebih produktif, seperti pembangunan sekolah di berbagai wilayah Indonesia.

“Kebijakan ini bukan sekadar penghematan, melainkan pengalihan dana ke sektor yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Jika efisiensi mencapai 50 persen, maka Rp20 triliun dapat dialokasikan untuk pembangunan 10 ribu sekolah,” kata Hasan.

Selain sektor pendidikan, penghematan dari perjalanan dinas juga bisa membawa manfaat besar bagi sektor pertanian. Dana yang disisihkan dapat digunakan untuk membeli gabah petani hingga 3 juta ton dengan harga minimal Rp6.500 per kilogram. Dengan demikian, petani akan mendapatkan kepastian harga yang lebih baik dan sektor pertanian pun dapat lebih berkembang.

“Langkah ini dapat mendukung sektor pertanian atau bahkan meningkatkan kuota subsidi pupuk. Dengan penghematan ini, jumlah pupuk bersubsidi bisa mencapai 9,5 juta ton. Jadi, anggaran ini dialihkan untuk kegiatan produktif, bukan sekadar dihemat lalu ditabung,” jelasnya.

Hasan juga menyoroti pola penggunaan anggaran yang kurang efektif, terutama menjelang akhir tahun. Menurutnya, dalam tiga bulan terakhir sebelum tahun anggaran berakhir, banyak instansi yang terburu-buru menghabiskan anggaran tanpa perencanaan matang. Hal ini sering kali berujung pada pemborosan dan belanja yang kurang bermanfaat.

“Menjelang akhir tahun, sering muncul kecenderungan untuk menghabiskan anggaran. Kita sudah tidak asing dengan praktik pemborosan yang terjadi di bulan Oktober, November, dan Desember,” ujarnya.

Ia mengibaratkan efisiensi anggaran ini sebagai upaya menghilangkan lemak tanpa mengurangi otot, yang berarti memangkas pemborosan tanpa mengganggu kinerja. Hasan juga mengapresiasi BPOM sebagai salah satu institusi yang telah berhasil menyesuaikan diri dengan kebijakan efisiensi anggaran.

“BPOM mungkin menjadi salah satu institusi pertama yang berkomitmen untuk tetap bekerja secara optimal, meskipun ada efisiensi anggaran. Misalnya, laboratorium pengujian tetap beroperasi dengan listrik dan mesin menyala saat dibutuhkan, namun dimatikan saat tidak digunakan,” tutupnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.