Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Dorong Kopdes Merah Putih Tembus Pasar Global - Kata Papua

Pemerintah Dorong Kopdes Merah Putih Tembus Pasar Global

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat peran koperasi desa sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan mendorong Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih agar mampu menembus pasar global. Upaya ini dinilai strategis untuk memperluas basis pelaku ekspor Indonesia sekaligus memastikan manfaat perdagangan internasional dirasakan hingga ke tingkat desa.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi Kopdes Merah Putih agar mampu masuk ke pasar ekspor secara berkelanjutan. Menurutnya, koperasi desa memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok global, khususnya melalui pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal.

Sebagai langkah awal, pemerintah telah melepas ekspor perdana produk kakao olahan yang dihasilkan Kopdes Merah Putih di Jembrana, Bali. Ekspor perdana ini menjadi penanda komitmen pemerintah dalam membuka jalan bagi koperasi desa agar tidak hanya berorientasi pada pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional.

“Kami ingin yang ekspor itu tidak hanya dari kota, tetapi sampai desa bisa ekspor. Sehingga yang bisa ekspor tidak hanya perusahaan besar, tetapi UMKM dan Koperasi Desa Merah Putih juga harus bisa ekspor,” ujar Budi Santoso.

Ia menjelaskan, ke depan pemerintah akan memberikan berbagai pelatihan kewirausahaan bagi pegawai dan anggota koperasi. Pelatihan tersebut mencakup peningkatan kapasitas manajerial, pengelolaan usaha, hingga pelatihan khusus untuk memenuhi standar dan persyaratan ekspor yang berlaku di pasar global. Dengan dukungan tersebut, koperasi desa diharapkan mampu menjaga kualitas produk, konsistensi pasokan, serta kepatuhan terhadap regulasi internasional.

Menurut Budi, Kopdes Merah Putih tidak hanya berfungsi sebagai minimarket desa dan penyedia kebutuhan pertanian, tetapi juga berpotensi menjadi pusat pengembangan produk unggulan desa. Produk-produk tersebut, seperti hasil pertanian olahan, perkebunan, dan kerajinan, dinilai memiliki daya saing tinggi jika dikemas dan dipasarkan dengan baik ke pasar global.

Selain pelatihan, Kemendag juga memastikan dukungan melalui perwakilan dagang Indonesia di luar negeri. Fasilitasi tersebut meliputi promosi dagang dan program business matching agar jaringan pemasaran ekspor koperasi desa semakin luas. “Kami akan memfasilitasi Kopdes Merah Putih melalui dukungan perwakilan dagang Indonesia di luar negeri, termasuk program business matching,” jelasnya.

Lebih lanjut, Budi menambahkan bahwa strategi peningkatan ekspor nasional tidak hanya dilakukan melalui penguatan koperasi desa, tetapi juga lewat perluasan perjanjian dagang internasional. “Kita ingin ekspor kita naik. Caranya bagaimana? Salah satunya adalah dengan banyak perjanjian dagang yang bisa membuka akses pasar kita di luar negeri,” katanya.

Melalui sinergi antara penguatan koperasi desa, fasilitasi ekspor, dan pembukaan akses pasar global, pemerintah optimistis Kopdes Merah Putih dapat menjadi pilar baru ekspor nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri. Rosan memaparkan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi terus memacu masuknya investasi di sektor hilirisasi pertambangan, perkebunan, dan energi terbarukan yang memiliki nilai tambah tinggi serta mampu menghasilkan devisa ekspor baru bagi negara. Peningkatan fasilitas perizinan berusaha yang terintegrasi secara digital (Online Single Submission) dan jaminan kepastian hukum memberikan kenyamanan bagi para investor untuk merealisasikan komitmen investasinya, sehingga arus modal masuk tidak hanya bertumpu pada pasar keuangan yang sensitif, melainkan pada sektor riil yang menciptakan lapangan kerja. Selain itu, percepatan fasilitasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa terus diperluas guna mendorong pemerataan struktur pertumbuhan ekonomi antardaerah. Penguatan rantai pasok lokal yang menghubungkan industri skala besar dengan usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah menjamin bahwa dampak ekonomi dari masuknya modal asing dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan daerah. Langkah pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan Rupiah merupakan manifestasi nyata dari