Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Perhitungkan Resesi dan Persiapkan Pemilu dengan Matang - Kata Papua

Pemerintah Perhitungkan Resesi dan Persiapkan Pemilu dengan Matang

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Farrel Haroon Jabar

Pemerintah RI telah melakukan perhitungan yang mendetail dalam rangka upaya melakukan antisipasi akan adanya ancaman risiko resesi perekonomian global. Hal tersebut juga dilakukan dengan terus melakukan persiapan gelaran pesta demokrasi Pemilu 2024 mendatang dengan sangat matang dan sejak jauh hari.

Perekonomian dunia memasuki tahun 2023 ini banyak pihak yang memprediksi akan segera menghadapi ancaman resesi, yakni pada saat pertumbuhan ekonomi bernilai negatif selama dua kuartal atau bahkan lebih dalam satu tahunnya.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Bloomberg, terdapat setidaknya 6 (enam) negara yang cukup dekat dengan jurang resesi tersebut.

Bagaimana tidak, pasalnya keenam negara ini dalam survey Bloomber itu bahkan diprediksi memiliki kemungkinan atau probabilitas mengalami resesi di atas angka 20 persen, yakni Sri Lanka yang prediksi resesinya hingga 85 persen, Uni Eropa akan mengalami resesi dengan prediksi di angka 50 persen, Amerika Serikat dengan angka 40 persen, Selandia Baru di angka 33 persen, serta Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing memiliki probabilitas resesi hingga 25 persen.

Sementara itu, probabilitas atau kemungkinan ancaman risiko resesi yang dimiliki Indonesia pada tahun 2023 ini ternyata bisa dikatakan sangat kecil, yakni pada angka 3 (tiga) persen saja. Hal tersebut tentunya berkat perhitungan yang baik dan juga segala persiapan serta upaya antisipasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI).

Kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi global tersebut tidak bisa dipungkiri berasal dari bagaimana tangguhnya perekonomian dalam negeri, yang mana memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih terus bertumbuh bahkan di atas 5 (lima) persen meski banyak isu terkait dengan ketidakpastian global. Termasuk juga, di Indonesia memiliki pengendalian inflasi yang baik dan juga mampu terus menjaga nilai tukar rupiah.
Jika dilihat dari sisi eksternalnya, neraca perdagangan dan juga transaksi di Indonesia terus berjalan secara konsisten mencatatkan surplus dengan ditambah adanya cadangan devisa RI yang juga tetap tinggi angkanya. Meski kemungkinan resesi bisa dikatakan sangat kecil untuk Indonesia, namun kondisi negara lainnya di dunia yang berpotensi masuk ke dalam jurang resesi tentunya tidak bisa dipungkiri akan sedikit banyak turut berpengaruh pada ekonomi domestik.
Dengan seluruh kemungkinan yang bisa saja terjadi tersebut, Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI), Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia tetap mampu menghadapi tantangan perekonomian pada tahun 2023 ini dengan optimis namun tetap menjaga kewaspadaan. Pemerintah sendiri terus optimis bahwa perekonomian di Tanah Air akan mampu bergerak semakin cepat di tahun 2023 ini, sebagaimana kemampuan perekonomian Indonesia untuk menghadapi pandemi dan turbulensi pada tahun 2022 kemarin.
Dalam keterangan persnya terkait Sidang Kabinet Paripurna, Menkeu RI tersebut menjelaskan bahwa Indonesia terus optimis karena berkaca pada pencapaian yang luar biasa tatkala mennghadapi segala tantangan pada tahun 2022 lalu. Namun meski memiliki optimisme, bukan berarti Pemerintah tidak waspada.
Menurutnya, kewaspadaan memang harus terus dilakukan karena pada tahun 20233, sepertiga dari dunia memang akan mengalami resesi atau sekitar 43 persen negara akan mengalami resesi sebagaimana proyeksi dari International Monetary Fund (IMF). Oleh karena itu, seluruh pihak harus tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Optimisme mengenai pemulihan ekonomi tersebut juga terus didukung dengan adanya arsitektur APBN 2022 yang memang telah disiapkan sebagai motor penggerak pemulihan, yang mana diantaranya adalah dengan merancang belanja negara yang diharapkan mampu menjaga Indonesia dari guncangan perekonomian global.
APBN pada tahun 2023 juga direncanakan untuk dibelanjakan guna keperlukan pentahapan penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun 2024 mendatang, yang mana dianggarkan dengan sebesar Rp 21,86 triliun. Sri Mulyani kemudian menambahkan bahwa anggaran belanja tersebut termasuk penting di tahun 2023 ini karena mampu menjaga ekonomi Indonesia dari ancaman berbagai guncangan yang terjadi di dunia, baik itu karena kenaikan harga, inflasi maupun pelemahan ekonomi dari negara-negara lain.
Sementara itu, Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Trisakti, Radian Syam menuturkan bahwa memang seberat apapun kondisi di tahun 2023 ini, Indonesia harus tetap melaksanakan Pemilu. Menurutnya, Pemilu merupakan hal konstitusional rakyat Indonesia yang sudah jelas diatur dalam Pasal 1 ayat 2 dan Pasal 22E UUD RI 1945. Sehingga kondisi resesi ini sudah sangat diperhitungkan oleh pemerintah dan Pemilu 2024 pun dipersiapkan dengan sangat matang sejak jauh hari.
Kematangan persiapan menjelang Pemilu 2024 memang menjadi hal yang sangat penting dilakukan oleh Pemerintah, lantaran apabila persiapan yang dilakukan belum cukup matang, maka justru akan menjadi bumerang lantaran pada tahun 2023 ini penuh akan kondisi ketidakpastian. Maka dari itu, Pemerintah RI sendiri juga sudah sangat memperhitungkan bagaimana upaya antisipasi melawan resesi pada tahun ini.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata