Kata Papua

Pemerintah Tegaskan Judi Online sebagai Ancaman Terhadap Stabilitas Sosial dan Ekonomi - Kata Papua

Pemerintah Tegaskan Judi Online sebagai Ancaman Terhadap Stabilitas Sosial dan Ekonomi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Pemerintah Tegaskan Judi Online sebagai Ancaman Terhadap Stabilitas Sosial dan Ekonomi

Jakarta – Pemerintah semakin menyoroti ancaman serius yang ditimbulkan oleh maraknya judi online di Indonesia.
Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR RI, Sarmuji, menegaskan bahwa perputaran uang dalam judi online yang mencapai sekitar Rp 600 triliun tidak memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional. Ia menilai bahwa sebagian besar uang tersebut justru mengalir ke luar negeri.
“Judi online menyerap sekitar Rp 600 triliun uang masyarakat, tetapi sebagian besar tidak masuk ke dalam negeri, melainkan ke luar negeri,” ungkapnya.
Sarmuji menambahkan bahwa meski peredaran uang yang terkait dengan judi online sangat besar, hal itu tidak memberikan efek berganda bagi perekonomian Indonesia.
“Judi online tidak berdampak pada perekonomian kita. Sebaliknya, aktivitas tersebut malah merugikan stabilitas ekonomi secara signifikan,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Herwin Mopangga. Menurutnya, judi online tidak menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian karena sifatnya yang spekulatif dan tidak produktif. Justru dana untuk berjudi mengalir ke luar negeri karena sebagian besar platform judi dioperasikan oleh entitas asing.
“Ini menciptakan kebocoran devisa yang melemahkan stabilitas ekonomi nasional. Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pokok, pendidikan, atau investasi keluarga justru terbuang tanpa manfaat,” tegasnya.
Ditambahkannya bahwa judi online memperburuk ketimpangan sosial, dengan masyarakat kelas bawah sebagai target utama. kelompok ini sudah menghadapi berbagai tantangan ekonomi, seperti inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, sehingga keterlibatan mereka dalam judi online hanya memperparah situasi ekonomi mereka.
“Tentu diperlukan upaya komprehensif untuk memitigasi, merehabilitasi, dan mencegah meluasnya judi online ini. Penegakan hukum harus diperkuat, termasuk pelacakan platform ilegal dan kerja sama internasional untuk menutup jaringan lintas negara,” tambah Herwin.
Sementara itu, Pengamat kebijakan publik sekaligus CEO Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, menyoroti bahaya judi online yang tidak hanya mengancam perekonomian tetapi juga stabilitas sosial. Menurutnya, aktivitas ilegal ini hanya menguntungkan segelintir bandar judi, sementara masyarakat luas harus menanggung dampak buruknya.
“Keuntungan besar dari aktivitas ini hanya dinikmati oleh para bandar yang sampai sekarang belum ada yang ditahan aparat penegak hukum. Sementara itu, dampak negatifnya dirasakan oleh masyarakat luas,” ujarnya.
***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.