Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Terus Lakukan Langkah Strategis Cegah Pelemahan Ekonomi - Kata Papua

Pemerintah Terus Lakukan Langkah Strategis Cegah Pelemahan Ekonomi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh :Andika Pratama

Dalam situasi global yang tidak menentu, pemerintah Indonesia terus menunjukkan kewaspadaan tinggi dan kesigapan dalam merespons berbagai tekanan eksternal yang berpotensi melemahkan ekonomi nasional. Ketegangan geopolitik, disrupsi rantai pasok, hingga fluktuasi harga komoditas global menjadi tantangan nyata yang menguji daya tahan ekonomi negara. Namun demikian, langkah-langkah strategis yang ditempuh pemerintah sejauh ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mempertahankan kepercayaan pasar.

Salah satu indikator penting yang mencerminkan ketahanan ekonomi nasional adalah kinerja penerimaan pajak. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa hingga 31 Maret 2025, penerimaan pajak telah mencapai Rp322,6 triliun. Capaian ini merupakan hasil positif dari implementasi reformasi perpajakan yang terus diperkuat melalui sistem Core Tax Administration System (Coretax). Menurut Sri Mulyani, keberhasilan ini tidak hanya mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi pascapandemi, tetapi juga menunjukkan bahwa basis perpajakan semakin sehat dan terkelola dengan baik.

Sri Mulyani juga menegaskan bahwa stabilitas fiskal merupakan fondasi utama dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional. Dengan mengelola APBN secara pruden dan responsif, pemerintah mampu menjaga defisit tetap terkendali serta memastikan belanja negara fokus pada program prioritas seperti bantuan sosial, infrastruktur, dan pengembangan SDM.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga berperan aktif dalam menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar rupiah. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih sangat kuat. Ia menjelaskan bahwa defisit transaksi berjalan (CAD) berada pada kisaran aman, yaitu 0,5 hingga 1,3 persen dari PDB. Sementara itu, neraca transaksi modal dan finansial menunjukkan aliran investasi yang tetap positif, di tengah ketegangan global.

Lebih lanjut, Perry menyampaikan bahwa cadangan devisa Indonesia per Maret 2025 mencapai US$157,1 miliar, angka tertinggi sepanjang sejarah. Cadangan tersebut cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini memberikan ruang gerak yang cukup bagi otoritas moneter untuk menstabilkan nilai tukar, menjaga likuiditas pasar valas, serta meredam dampak gejolak eksternal.

Meskipun sempat terjadi capital outflow sebesar US$2,8 miliar pada April 2025 akibat ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, Perry meyakinkan bahwa kondisi pasar keuangan Indonesia tetap kondusif. Ia menyebut bahwa persepsi investor terhadap perekonomian domestik tetap positif, berkat kebijakan yang konsisten dan kredibel.

Tak kalah penting, sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, dan lembaga keuangan lainnya juga tergambar jelas dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar April 2025. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengantisipasi tekanan eksternal. Ia mengatakan bahwa pemerintah terus memperkuat instrumen mitigasi risiko, termasuk pengendalian inflasi pangan, percepatan belanja produktif, dan penguatan industri substitusi impor.

Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi yang terkendali adalah dua faktor krusial dalam menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah juga terus menjaga kelancaran distribusi barang serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan pokok di daerah-daerah.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar menambahkan bahwa sektor jasa keuangan Indonesia tetap solid dan resilien. Ia mengungkapkan bahwa kredit perbankan tumbuh 9,16 persen secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,75 persen pada kuartal pertama 2025. Menurut Mahendra, pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan yang terus meningkat, seiring dengan digitalisasi sistem keuangan dan penguatan tata kelola.

OJK juga aktif memperkuat pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan agar tidak terpapar risiko sistemik, terutama di tengah ketidakpastian global. Mahendra menekankan pentingnya transparansi, literasi keuangan, dan perlindungan konsumen sebagai bagian dari strategi inklusi keuangan nasional.

Dengan berbagai indikator tersebut, terlihat jelas bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi ketidakpastian global. Langkah-langkah strategis di bidang fiskal, moneter, dan sektor keuangan diambil dengan pendekatan yang menyeluruh dan terukur. Dalam menghadapi tantangan ke depan, pemerintah menyadari pentingnya mempertahankan momentum pemulihan dengan terus mendorong investasi, menjaga daya beli masyarakat, serta memperkuat sektor industri dan UMKM. Berbagai program hilirisasi sumber daya alam, insentif fiskal, serta dukungan pembiayaan menjadi bagian dari strategi jangka menengah dan panjang untuk memperkuat struktur ekonomi nasional.

Kehadiran program strategis seperti Percepatan Digitalisasi Nasional, pembangunan infrastruktur konektivitas, serta transformasi energi hijau juga menjadi pilar penting dalam menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya bertahan dalam menghadapi gejolak, tetapi juga tumbuh dan berkembang lebih kuat.

Di tengah tantangan global yang masih berlangsung, langkah-langkah strategis yang telah ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketangguhan yang dibangun atas dasar kebijakan yang hati-hati, koordinatif, dan berpihak pada kepentingan nasional. Dengan fondasi ekonomi yang solid, kebijakan fiskal dan moneter yang sinergis, serta pengawasan sektor keuangan yang ketat, Indonesia optimis dapat mengarungi gelombang ketidakpastian dengan percaya diri.

)* Penulis adalah Peneliti dari Economy Finance Of Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik

Oleh : Abdul Razak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penguatan tata kelola melalui mekanisme evaluasi yang melibatkan sekolah sebagai penerima layanan secara langsung. Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari kualitas menu hingga ketepatan distribusi. Mekanisme tersebut dapat menjadi instrumen koreksi untuk mengidentifikasi persoalan di lapangan sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, aplikasi tersebut dirancang agar kepala sekolah dapat memberikan rating dan catatan terhadap dapur yang melayani sekolah masing-masing. Masukan dapat mencakup kondisi menu, keterlambatan pengiriman, serta persoalan lain yang ditemukan selama pelaksanaan MBG. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bersumber dari pengalaman penerima layanan di tingkat sekolah. Menurut Sudaryono, sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan dapat diakses kepala sekolah dalam waktu sekitar satu hingga tiga minggu. Bagi BGN, umpan balik dari sekolah diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kepuasan terhadap layanan SPPG sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap penyedia makanan. Dalam perspektif tata kelola, mekanisme penilaian semacam ini memiliki fungsi penting karena memperpendek jarak antara pelaksana program dan pengambil keputusan. Keluhan mengenai menu yang kurang bervariasi, kualitas makanan, keterlambatan distribusi, maupun persoalan pelayanan dapat dicatat secara lebih terstruktur. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menemukan pola persoalan, menentukan tindak lanjut, dan mengevaluasi kinerja SPPG berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Penguatan evaluasi juga berkaitan erat dengan aspek keamanan pangan. BGN telah menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat penerima makanan, tetapi turut berperan sebagai lapisan pengawasan sebelum makanan dikonsumsi peserta didik. Guru didorong makan bersama siswa sekaligus melakukan pemeriksaan fisik terhadap makanan yang diterima, termasuk kondisi wadah, keberadaan label, dan kejelasan batas waktu konsumsi. Sudaryono meminta sekolah menolak makanan yang tidak memenuhi ketentuan, terutama apabila setiap wadah tidak memiliki label waktu konsumsi yang jelas. Langkah tersebut menunjukkan bahwa mekanisme koreksi dalam MBG tidak hanya berlangsung setelah muncul masalah, tetapi juga diarahkan untuk mencegah risiko sebelum makanan dikonsumsi siswa. BGN sebelumnya juga menutup sementara 1.999 dapur SPPG yang belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), yang menunjukkan penekanan terhadap kepatuhan standar sanitasi. Kebutuhan memperkuat pengawasan semakin relevan setelah muncul sejumlah laporan dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di Sumatera Utara. Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, Sutarto menyoroti kejadian yang melibatkan ratusan siswa di Berastagi pada Agustus 2026 dan sejumlah kasus berikutnya di daerah lain. Ia mendorong penguatan peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), termasuk melalui Balai Besar POM di tingkat regional. Sutarto menilai pengawasan perlu mencakup seluruh rantai pelaksanaan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, distribusi hingga penyajian. Ia juga mendorong adanya investigasi insiden, transparansi hasil pengujian laboratorium, penelusuran rantai pasok, tindakan korektif, serta penindakan apabila ditemukan pelanggaran. Menurutnya, penguatan standar operasional prosedur menjadi penting untuk mencegah persoalan yang sama berulang. Perpres Nomor 115 Tahun 2025 memang mengatur tata kelola MBG sekaligus aspek pemantauan, pengawasan, pengendalian, evaluasi, dan pelaporan. Dari sisi penerimaan publik, MBG memiliki basis dukungan yang perlu diimbangi dengan kualitas implementasi. Survei Arus Survei Indonesia (ASI) yang dilakukan pada 23–29 Juli 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi mencatat MBG memperoleh penilaian 40,8 persen sebagai program prioritas yang paling tepat sasaran. Direktur Eksekutif ASI, Ali Rifan menyebut penerimaan tersebut berkaitan dengan manfaat program yang dinilai dapat dirasakan langsung oleh kelompok sasaran. Namun, tingkat penerimaan publik tidak dengan sendirinya menjadi ukuran keberhasilan seluruh aspek pelaksanaan. Pakar Gizi Universitas Tadulako Prof. Nurudin Rahman menempatkan keamanan pangan sebagai salah satu tolok ukur penting. Ia menekankan perlunya menjaga kebersihan bahan makanan, kecukupan gizi, kualitas bahan baku, kebersihan dapur, serta kelayakan peralatan. Ia juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal untuk mendukung variasi menu sekaligus perekonomian masyarakat sekitar SPPG. Dengan demikian, aplikasi penilaian sekolah dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pengawasan yang lebih luas, bukan sebagai satu-satunya ukuran kinerja SPPG. Data penilaian perlu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan keamanan pangan, kepatuhan terhadap SOP, ketepatan distribusi, kualitas gizi, serta tindak lanjut atas pengaduan. Jika dikelola secara konsisten, masukan dari sekolah dapat mengubah keluhan