Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemuda Berperan Penting Lawan Radikalisme dan Terorisme pada Dunia Digital - Kata Papua

Pemuda Berperan Penting Lawan Radikalisme dan Terorisme pada Dunia Digital

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh: Linda Permata

Para pemuda memiliki peranan yang sangat penting untuk melawan penyebaran paham atau ideologi radikalisme dan terorisme, khususnya pada dunia digital serta media sosial, yang mana menjadi wilayah paling akrab mereka kunjungi.

Belakangan ini, perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi membuat masyarakat sangat mudah untuk mengakses atau berkunjung di dunia digital serta media sosial.

Padahal, di dalam sana bisa menjadi salah satu tempat yang sangat rawan karena antara kebenaran ataupun kepalsuan bisa sangat sulit membedakannya. Bahkan tidak jarang orang termanipulasi dan terprovokasi hanya karena berasal dari dirinya melihat suatu unggahan dalam media sosial.

Karena sifat dunia digital yang memungkinkan siapapun, kapanpun dan di manapun mampu menyebarluaskan apapun, hal tersebut seringkali menjadi sasaran empuk oleh para agen propagandis paham radikalisme untuk terus menyebarkan ajaran mereka demi mencari simpatisan.

Terlebih, ketika mengetahui bahwa dunia digital atau media sosial merupakan tempat yang sangat sering anak muda kunjungi, yang mana biasanya memang para pemuda memiliki sifat cenderung masih labil dan berupaya mencari jati diri mereka, maka momentum itu juga seringkali menjadi sasaran oleh para propagandis radikalisme dan terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Prof. Dr. Rycko Amelza Dahniel mengingatkan kepada semua pihak akan perlunya terus meningkatkan kewaspadaan secara bersama-sama karena menanggapi adanya fenomena akan radikalisme online yang terus membuka jalan untuk aksi secara ‘lone wolf’. Pola tersebut kerap kali menyasar para remaja, anak dan juga perempuan sehingga mendorong semakin masifnya dunia digital, yang memungkinkan tercipta sebuah radikalisasi.

Adanya fenomena tersebut bisa tertanggulangi dengan cara terus membangun kesadaran publik secara bersama melalui upaya melawan radikalisme dan terorisme di dunia digital. Tujuan utama dari upaya tersebut adalah agar masyarakat memiliki ketahanan diri sehingga dapat terhindar dari berbagai ajaran yang bertentangan dengan ideologi bangsa.

Sementara itu, Direktur Pencegahan BNPT RI, Irfan Idris mengaku bahwa pihaknya terus berupaya untuk mencerdaskan masyarakat agar mampu menyaring dan menyikapi bagaimana kemunculan berbagai macam konten yang bermuatan akan radikalisme dan banyak tersaji di dunia maya.

Menurutnya, seluruh komponen bangsa dari segenap lapisan elemen masyarakat memang harus cerdas digital agar mereka dapat menyaring seluruh narasi di media sosial. Sejalan dengan hal itu, pemerintah juga terus berupaya mencerdaskan masyarakat agar lebih melek pada perkembangan teknologi serta kemajuan informasi.

Oleh karena itu, segala bentuk jenis konten radikal di dunia digital harus mendapatkan perhatian yang sangat serius dari banyak pihak. Sebab, jika terus mengalami pembiaran, maka konten tersebut akan berdampak pada merusak kelompok rentan seperti perempuan, anak dan remaja.

Dalam upaya untuk membendung adanya penyebaran konten radikalisme terus berpenetrasi di media sosial yang membawa pesan akan kekerasan dan memecah belah bangsa, maka sinergita semua pihak menjadi hal penting dalam menyuarakan nilai-nilai kebangsaan.

Sampai saat ini, paham atau ideologi radikalisme masih terus menjadi sebuah ancaman yang sangat nyata bagi keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia. Terlebih, dengan pemanfaatan kecanggihan teknologi informasi, maka target penyebaran paham tersebut kini menyasar kepada generasi muda yang sangat akrab dengan internet.

Terhadap kalangan Generasi Z saat ini, kelompok radikal terus menggunakan internet dan media sosial untuk melancarkan berbagai macam ide radikal mereka supaya dapat semakin mudah terjangkau dengan sangat luas.

Biasanya para anak muda yang sangat mudah untuk terpapar oleh ajaran radikalisme adalah mereka yang baru saja mendalami agamam kemudian terdapat faktor lain seperti mereka memang ingin menunjukkan eksistensi dirinya.

Dengan terus menyebarkan berbagai gerakan jihad melalui media sosial, terlebih dengan penggunaan etos untuk melawan penindasan kepada Kaum Muslin, maka hal tersebut biasnaya yang membuat para generasi muda akan jauh lebih mudah terpikat.

Adanya media sosial jelas membuat proses radikalisme kini semakin bergeser, di mana mereka kerap membuat orang bisa dengan sangat mudah bergabung lewat jaringan sosial. Karena dengan demikian memungkinkan kelompok radikal untuk terus bergerak melawan kelompok multikulturalisme.

Harus ada sebuah edukasi dan peningkatan akan wawasan bagi para pemuda agar mereka bisa lebih memahami mengenai bahayanya paham radikalisme, mengingat penyebaran ideologi bertentangan dengan nilai luhur bangsa itu sangat masif terjadi kepada anak muda di media sosial.

Apabila para anak muda penerus generasi bangsa tersebut mendapatkan didikan yang benar, maka bukan tidak mungkin para pemuda tersebut juga bisa menjadi garda terdepan untuk memberikan edukasi pada teman sebaya mereka dan juga membuat banyak konten di media sosial atau dunia digital untuk melawan balik dan menangkal radikalisme.

*) Pengamat Sosial Budaya

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata