Lompat ke konten utama

Kata Papua

Penyaluran BLT BBM Wujudkan Kemandirian Masyarakat - Kata Papua

Penyaluran BLT BBM Wujudkan Kemandirian Masyarakat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Kebijakan penyaluran Bantuan Langsung Tunai Bahan Bakar Minyak atau BLT BBM menjadi sebuah kebijakan yang tepat. Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Dr Ali Munhanif menilai bahwa pemberian bantalan sosial kepada masyarakat memang ditujukan untuk menjaga daya beli di tengah situasi sulit seperti sekarang ini.

“Pemerintah mencoba segala cara untuk menjaga daya beli dan daya tahan masyarakat dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang menjadi program utama,” katanya.

Hal tersebut disampaikan Prof Ali dalam Focus Grup Discussion (FGD) bertema “Harga BBM Berkeadilan Subsidi Tepat Sasaran”, yang digelar di Ambhara Hotel Jakarta, pada Jumat (21/10).

Lebih lanjut, Prof Ali mengatakan banyak hal yang diperhatikan oleh pemerintah setelah penyesuaian harga BBM dilakukan.

Termasuk juga bagaimana menjaga stabilitas banyak sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan dan sosial, hingga pemulihan ekonomi nasional.

Kemudian, Prof Ali juga menilai bahwa kebijakan untuk menghadapi dampak penyesuaian harga BBM yang dilakukan oleh Presiden Jokowi memang sudah sangat tepat.

Pasalnya, memang sudah terjadi peningkatan infrastruktur dan juga pembangunan sangat merata.

“Secara ekonomi, perbaikan infrastruktur tidak hanya perbaikan jalan dan fasilitas umum, namun penguatan integritas negara untuk menyamakan kebutuhan seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan Presiden Joko Widodo dianggap tepat dalam pengalihan subsidi BBM untuk peningkatan infrastruktur dan pembangunan yang merata,” tambahnya.

Maka dari itu penyaluran BLT BBM harus benar-benar dipastikan agar dapat tepat sasaran. Oleh sebab itu, Prof Ali juga berharap agar masyarakat tidak selamanya bergantung pada subsidi yang diberikan.

“Subsidi BLT BBM saat ini menjadi langkah awal yang harus tepat sasaran dilakukan agar masyarakat nantinya terbiasa dan tidak bergantung pada harga minyak bersubsidi,” tegas Prof Ali.

Narasumber lainnya, Dosen Ekonomi Islam Muhammadiyah, Surya Vandiantara menegaskan bahwa BLT BBM yang disalurkan oleh pemerintah menjadi stimulus bergeraknya kembali perekonomian nasional.

Dalam hal ini, kata Surya, khususnya untuk masyarakat rentan, supaya mereka kembali bisa melakukan peningkatan produktivitasnya.

“BLT BBM merupakan stimulus perangsang stabilitas ekonomi. Peningkatan produktivitas berkelanjutan saat ini diperlukan masyarakat dalam menghadapi krisis yang terjadi sehingga nantinya masyarakat tidak bergantung pada subsidi,” katanya.

Lebih lanjut, Surya menjelaskan bahwa justru penghapusan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah tujuannya agar masyarakat bisa mandiri.

“Perlunya menghapuskan asumsi masyarakat bahwa pencabutan subsidi maka kehidupan bangsa ini akan berantakan. Perbaikan produktivitas masyarakat adalah hal wajib yang harus dikembangkan supaya stigma masyarakat bahwa pencabutan subsidi maka ekonomi melemah harus dihapuskan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketum LPPC19-PEN, Arief Puyuono menjelaskan bahwa sejatinya penyesuaian harga BBM bahkan sudah terjadi beberapa kali di Indonesia.

“Penyesuaian harga BBM yang terjadi di Indonesia bukan merupakan yang pertama kali. Dalam masa pemerintahan sebelumnya, Indonesia juga pernah mengalami penyesuaian harga BBM,” terangnya.

Selain itu, dengan adanya realokasi APBN tersebut, Arief menilai bahwa nantinya dana akan bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat.

“BLT dalam jangka pendek diharapkan dapat menjaga ekonomi masyarakat. Dalam jangka Panjang, Pemerintah dapat mengelola dana subsidi BBM yang dialihkan menjadi kedalam pendidikan gratis, layanan Kesehatan gratis dan pembangunan transportasi yang tepat guna,” pungkasnya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata