Kata Papua

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia - Kata Papua

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat implementasi perdagangan karbon sebagai salah satu pilar utama transformasi ekonomi hijau nasional. Melalui peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK), penguatan perdagangan karbon sektor kehutanan, serta penyempurnaan tata kelola yang berstandar internasional, Indonesia menegaskan komitmennya membangun pasar karbon yang transparan, kredibel, dan berintegritas.

 

 

 

 

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat menegaskan bahwa peluncuran SRUK merupakan tonggak penting dalam membangun tata kelola karbon nasional yang mampu bersaing di tingkat global.

 

 

 

 

“Sistem Registri Unit Karbon yang kita luncurkan menjadi fondasi utama agar perdagangan karbon Indonesia berjalan secara transparan, kredibel, dan memiliki integritas sesuai standar internasional,” ujarnya.

 

 

 

 

Lebih lanjut, Menteri Jumhur menekankan bahwa perdagangan karbon harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Nilai ekonomi karbon tidak boleh berhenti sebagai mekanisme perdagangan semata, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat daerah dan masyarakat adat yang selama ini menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia juga menyampaikan optimisme terhadap prospek pasar karbon nasional. “Indonesia memiliki potensi perdagangan karbon yang sangat besar. Dengan tata kelola yang semakin kuat, pasar karbon akan menjadi salah satu instrumen pembiayaan pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi hijau Indonesia,” tambah Jumhur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa sektor kehutanan memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan perdagangan karbon nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Perdagangan karbon menjadi kesempatan besar untuk mengubah orientasi bisnis kehutanan, dari yang sebelumnya menebang menjadi menanam, dari pendekatan ekstraktif menuju restorasi ekosistem,” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Raja Juli Antoni, peluncuran SRUK dan Indonesia Forestry Carbon Hub menjadi momentum penting dalam meningkatkan kepercayaan investor. “Dengan tata kelola yang transparan dan terintegrasi, Indonesia siap menghadirkan ekosistem perdagangan karbon yang memberikan manfaat ekonomi, menjaga kelestarian hutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melalui sinergi antarkementerian, pelaku usaha, dan mitra internasional, pemerintah optimistis perdagangan karbon akan berkembang sebagai salah satu instrumen strategis untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penguatan tata kelola tersebut sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mampu mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden         Oleh: Fajar Dwi Santoso         Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing.                           Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi.