Lompat ke konten utama

Kata Papua

PON XX Serap Tenaga Kerja OAP - Kata Papua

PON XX Serap Tenaga Kerja OAP

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp


Oleh : Rebecca Marian

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX membawa banyak sekali hasil positif di Papua, salah satunya adalah penyerapan tenaga kerja Orang Asli Papua (OAP). Dengan adanya penyerapan tersebut, maka kesejahteraan rakyat diharapkan dapat lebih meningkat.
PON akan diselenggarakan di Papua pada tanggal 2 oktober. Jelang pembukaan PON, masyarakat amat antusias karena baru pertama kali diselenggarakan di Bumi Cendrawasih. Mereka bahagia karena merasa dipercaya menjadi tuan rumah sebuah pagelaran akbar dan tingkat nasional. Selain itu, PON juga bisa jadi ajang promosi wisata Papua.
Selain ajang promosi, ada pula keuntungan lain dari PON XX yakni menyerap tenaga kerja. Penyebabnya karena hampir semua orang yang terlibat dalam lomba ini adalah Orang Papua Asli (OAP). Mulai dari panitia inti, panitia penyelenggara (panpel), cleaning service di arena PON, tukang parkir, administrasi, dll. Para relawan juga berasal dari Bumi Cendrawasih dan mereka bangga menjadi orang yang berjasa akan kesuksesan PON XX.
Ada 27.000 orang yang jadi panitia dan 25.000 yang mendaftar jadi relawan. Mengapa hampir semua pekerja adalah orang Papua? Pertama, Pemda memang memilih mereka agar bisa berkarya sekaligus mendapatkan uang. Sehingga memperoleh pendapatan yang cukup untuk biaya sehari-hari, sekaligus mengurangi tingkat pengangguran di Bumi Cendrawasih.
Lantas mengapa rata-rata panitia adalah warga Papua? Penyebabnya karena pemda Papua dan Papua Barat memang sengaja memilih para putra asli Papua, agar mereka memiliki pengalaman dalam meng-handle acara sebesar PON. Sehingga nantinya jika ada acara berlevel nasional lagi, pengalaman itu akan sangat berharga.
Para putra Papua tentu lebih menguasai medan dan akan lancar jika dimintai tolong oleh para atlet, jika mereka butuh sesuatu yang tidak ada di arena pertandingan. Selain itu, putra Papua juga lebih berani dan sigap, dan merasa bangga karena dipilih menjadi bagian dari perhelatan besar. Belum tentu 12 atau 24 tahun lagi PON akan diselenggarakan lagi di Papua, sehingga menjadi panitia di acara ini adalah kesempatan emas.
Lagipula, kecerdasan dan kualitas mereka juga cukup bersaing. Para putra Papua merasa dipercaya karena menjadi panitia dan relawan PON, dan mereka senang karena berarti diakui kapabilitasnya. Orang asli Papua juga pintar dan stereotype negatif sudah terhapuskan.
Jika hampir semua pekerja PON adalah orang Papua maka mereka akan mendapat bayaran yang cukup tinggi. Untuk relawan saja akan diberi uang saku setidaknya 3 juta rupiah, dan masa kerjanya juga ada kontrak. Walau hanya karyawan kontrak, tetapi mereka senang karena bisa menjadi bagian dari PON, karena tidak semua orang memiliki kesempatan emas ini.
Jika banyak warga Papua yang menjadi panitia dan relawan PON XX, maka akan berpengaruh kepada perekonomian di Bumi Cendrawasih. Daya beli masyarakat akan naik dan roda perekonomian juga naik. Sehingga walau di masa pandemi, pemilik bisnis, terutama UMKM bisa survive, karena ada saja yang membeli dagangannya.
Hal ini akan memberi efek domino positif, di mana perekonomian Papua akan membaik. Sehingga APBD juga akan naik. Pandemi tak terlalu berpengaruh terhadap finansial warga, karena mereka masih memegang uang dan sanggup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Pemilihan para putra Papua menjadi panitia dan relawan PON XX adalah sebuah keputusan bagus, karena memang orang asli Papua (OAP) wajib diutamakan. Mereka bisa mendapatkan penghasilan besar sekaligus pengalaman yang berharga. Jika ada serapan tenaga kerja maka juga mengurangi tingkat pengangguran di Bumi Cendrawasih.

)* Penulis adalah mahasiswi Papua tinggal di Jakarta

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Most Popular

Categories

Related Post

Uncategorized
Mengecam Kelicikan KST Papua Jadikan Masyarakat Papua Tameng Hidup Oleh : Clara Anastasya Wompere Kelompok separatis dan teroris (KST) di Papua merupakan gerombolan kriminal dan pengacau yang sangat licik. Bagaimana tidak, pasalnya mereka dengan sangat tegas menggunakan warga yang merupakan masyarakat orang asli Papua (OAP) untuk menjadi tameng hidup pada saat terjadinya baku tembak dengan pihak aparat keamanan dari personel gabungan ketika mereka sedang terpojok. Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Batalyon Infanteri 133 Yudha Sakti terlibat baku tembak dengan gerombolan separatis tersebut, yang mana juga termasuk ke dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Ayata, Kabupaten Maybrat. Dalam baku tembak itu, sebanyak ratusan warga setempat berhasil dievakuasi oleh aparat keamanan untuk bisa menghindarkan mereka dari adanya upaya ataupun potensi akan intimidasi dari kelompok separatis. Seluruh warga telah dievakuasi ke tempat yang aman agar bisa menghindarkan mereka dari KST Papua. Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Letnan Kolonel (Letkol) Infanteri Andika Ganesha Sakti yang memimpin langsung Satgas tersebut berhasil menggagalkan upaya pengibaran bendera Bintang Kejora yang hendak dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris dari Organisasi Papua Merdeka itu di Dusun Aimasa Lama, Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah. Diketahui bahwa aksi pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut dilakukan dalam rangka untuk memperingati Hari Manifesto Politik Papua Merdeka pada tanggal 1 Desember. Sempat terjadi baku tembak antara gerombolan separatis itu dengan pihak aparat keamanan dari Satgas TNI. Baku tembak tersebut terjadi saat aparat keamanan hendak berupaya untuk menggagalkan rencana pengibaran Bendera Bintang Kejora yang dilakukan oleh kelompok penentang ideologi negara itu. Mereka semua bahkan sempat sangat terdesak karena adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan. Akan tetapi, tatkala sedang terdesak, alih-alih menyerahkan diri, justru KST Papua melakukan cara licik lainnya, yakni melakukan intimidasi kepada warga setempat untuk menjadikan mereka sebagai tameng hidup pada saat baku tembak tersebut terjadi. Sontak, mengetahui adanya kelicikan yang dilakukan oleh gerombolan teroris dari Bumi Cenderawasih itu, aparat keamanan pun langsung bergerak dengan cepat dan dengan sangat hati-hati untuk melakukan penyelamatan kepada para penduduk kampung demi bisa menghindari jatuhnya korban jiwa dari masyarakat sipil. Pergerakan tempur yang dilakukan oleh pihak Satgas TNI sendiri kemudian membuahkan hasil yang sangat optimal, yakni aparat keamanan pada akhirnya berhasil memukul mundur KST Papua dan membuat mereka semua langsung melarikan diri masuk ke arah hutan dan perbukitan. Tentu saja upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan tidak hanya berhenti sampai di situ saja, melainkan pihak Satgas TNI langsung mengerahkan sejumlah drone untuk melakukan pemantauan dari udara mengenai pergerakan yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut. Dari hasil pantauan yang dilakukan melalui drone di udara, ternyata diketahui bahwa KST Papua yang melakukan penyerangan dan sempat melakukan kontak tembak dengan aparat keamanan bahkan hingga menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup itu berjumlah sekitar delapan orang yang merupakan pimpinan dari Manfred Fatem. Mereka semua juga terlihat membawa beberapa pucuk senjata api. Terkait hasil pemantauan dan juga penyelidikan yang langsung dilakukan oleh aparat keamanan setelah sempat terjadinya kontak tembak hingga membuat KST Papua terpojok dan melarikan diri itu, Letkol Infanteri Andika Ganesha Sakti kemudian menuturkan bahwa ditemukan rencana dari pihak gerombolan teroris tersebut selain melakukan pengibaran akan bendera Bintang Kejora, namun mereka juga hendak menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kepada aparat keamanan serta melakukan aksi teror yang dapat mengganggu kenyamanan serta kedamaian dari masyarakat setempat. Meski begitu, namun untuk saat ini, situasi akan keamanan dan kondusifitas di Kampung Ayata sendiri sudah secara sepenuhnya dikuasai oleh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan juga Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), yang mana seluruh aparat keamanan itu jelas akan tetap terus hadir bagi masyarakat untuk bisa memberikan rasa aman kepada warga setempat di Bumi Cenderawasih. Guna bisa memastikan upaya memberikan kenyamanan dan mendatangkan keamanan bagi masyarakat setempat di Papua hingga mereka semua bisa merasa aman, aparat TNI dari Satgas Yonif 133 Yudha Sakti juga memberikan bantuan logistik berupa makanan dan juga dukungan pelayanan kesehatan yang ditujukan bagi sebanyak ratusan penduduk. Lebih lanjut, pihak pasukan aparat keamanan juga sampai saat ini masih terus berupaya untuk melakukan pemburuan kepada para pelaku dari kelompok separatis dan teroris Papua itu serta membuat parameter akan pengamanan di sekitar wilayah perkampungan agar tidak sampai disusupi lagi oleh KST pimpinan Manfred Fatem. Sebenarnya gerombolan teroris dari KST Papua tersebut sama sekali tidak berdaya, pasalnya mereka hanya bisa melancarkan aksi yang sangat licik ketika sedang terpojok dalam baku tembak melawan aparat keamanan Republik Indonesia. Mereka dengan sangat tega bahkan menggunakan warga sipil yang tidak berdosa sebagai tameng hidup. )* Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Yogyakart
On Key

Related Posts