Kata Papua

Program Sapi Merah Putih Membuka Jalan Swasembada Pangan dan Pekerjaan Produktif - Kata Papua

Program Sapi Merah Putih Membuka Jalan Swasembada Pangan dan Pekerjaan Produktif

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Program Sapi Merah Putih Membuka Jalan Swasembada Pangan dan Pekerjaan Produktif

JAKARTA – Pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor susu yang pada 2023 mencapai 3,7 juta ton dari total kebutuhan 4,53 juta ton. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menggandeng PT Moosa Genetika Farmindo (Moosa Genetics) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam program pengembangan sapi perah unggul yang diberi nama Sapi Merah Putih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas, Teni Widuriyanti, menyatakan bahwa program ini menjadi langkah strategis untuk mendukung swasembada pangan nasional sekaligus memastikan ketersediaan gizi masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kerja sama ini dilakukan dalam konteks pembangunan nasional, khususnya mendukung swasembada pangan dan program makan bergizi gratis,” ujar Teni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo Teguh Sambodo, menegaskan bahwa inovasi ini bukan hanya menjawab persoalan ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan dampak sosial ekonomi yang signifikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Ke depan, diharapkan program ini dapat meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8%,” jelasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain memperkuat ketahanan pangan, program ini juga membawa manfaat ekonomi bagi peternak. CEO Moosa Genetics, Deddy Kurniawan, mengungkapkan bahwa metode gene editing yang diterapkan memungkinkan sapi Merah Putih lebih tahan terhadap penyakit dan adaptif terhadap iklim tropis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Target program sapi Merah Putih adalah meningkatkan populasi sekaligus produktivitas susu,” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Deddy, peternak akan merasakan lonjakan pendapatan signifikan dengan mengadopsi teknologi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Peningkatan genetik dan pola pemeliharaan mampu mendongkrak pendapatan peternak hingga 2,3 kali lipat. Jika beternak biasa hanya menghasilkan sekitar Rp80 juta per sapi dalam lima tahun, maka dengan sapi Merah Putih peternak bisa meraup lebih dari Rp200 juta,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Moosa Genetics mengembangkan riset genetika berbasis sapi lokal melalui teknologi bioteknologi reproduksi molekuler modern. Tujuannya adalah meningkatkan produksi susu dan kualitas sapi perah asli Indonesia. Hingga kini, telah lahir 80 ekor sapi Merah Putih yang diharapkan menjadi tonggak kemandirian produksi susu nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inovasi ini juga disertai standar _Indonesia Genomic Breeding Value (IGBV)_ untuk menilai kualitas genetik sapi perah sejak lahir. Dengan pendekatan ini, pemerintah optimistis program sapi Merah Putih akan menjadi pendorong utama swasembada susu dan membuka peluang kerja produktif di sektor peternakan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.