Lompat ke konten utama

Kata Papua

Program Vokasi Nasional Disiapkan untuk Perkuat Ketahanan Pekerja Terdampak PHK - Kata Papua

Program Vokasi Nasional Disiapkan untuk Perkuat Ketahanan Pekerja Terdampak PHK

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat langkah perlindungan tenaga kerja melalui peluncuran Program Vokasi Nasional yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan lulusan sekolah vokasi dan pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi dan memperluas peluang kerja di tengah dinamika global dan transformasi industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan program vokasi nasional menjadi salah satu agenda utama pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga stabilitas pasar tenaga kerja nasional.

“Program Vokasi Nasional ditargetkan untuk 220.000 lulusan SMK dan 50.000 pekerja yang ter-PHK dengan anggaran Rp2,12 triliun,” ujar Airlangga.

Menurutnya, program tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi tenaga kerja agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia industri yang terus berkembang. Pemerintah menilai peningkatan keterampilan menjadi langkah penting agar tenaga kerja Indonesia memiliki daya saing yang lebih tinggi di tengah perubahan ekonomi dan teknologi.

Selain membantu lulusan baru memasuki dunia kerja, program ini juga difokuskan untuk memberikan kesempatan baru bagi pekerja terdampak PHK agar dapat memperoleh keterampilan tambahan dan peluang kerja yang lebih luas.

Airlangga menegaskan bahwa Program Vokasi Nasional merupakan bagian dari stimulus ekonomi pemerintah pada semester II tahun 2026. Melalui penguatan kompetensi tenaga kerja, pemerintah berharap produktivitas nasional tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus bergerak positif.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menjelaskan bahwa program pelatihan vokasi disusun dengan pendekatan _link and match_ agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan pasar kerja.

“Program ini dilaksanakan secara nasional dan diikuti oleh 10.405 peserta yang tersebar di 21 Balai Latihan Kerja (BLK), 13 satuan pelatihan di bawah Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, serta 46 BLK UPTD,” kata Yassierli.

Ia menambahkan bahwa pelatihan yang diberikan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja. Pemerintah ingin memastikan peserta memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri sehingga peluang penyerapan tenaga kerja semakin besar.

Pemerintah optimistis Program Vokasi Nasional akan menjadi solusi konkret dalam memperkuat ketahanan pekerja sekaligus menekan dampak sosial akibat PHK. Selain membuka peluang kerja baru, program ini juga diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang lebih kompeten, inovatif, dan siap menghadapi kebutuhan industri masa depan.

Melalui kolaborasi lintas kementerian dan dukungan berbagai lembaga pelatihan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi dan ketenagakerjaan secara berkelanjutan.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri. Rosan memaparkan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi terus memacu masuknya investasi di sektor hilirisasi pertambangan, perkebunan, dan energi terbarukan yang memiliki nilai tambah tinggi serta mampu menghasilkan devisa ekspor baru bagi negara. Peningkatan fasilitas perizinan berusaha yang terintegrasi secara digital (Online Single Submission) dan jaminan kepastian hukum memberikan kenyamanan bagi para investor untuk merealisasikan komitmen investasinya, sehingga arus modal masuk tidak hanya bertumpu pada pasar keuangan yang sensitif, melainkan pada sektor riil yang menciptakan lapangan kerja. Selain itu, percepatan fasilitasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa terus diperluas guna mendorong pemerataan struktur pertumbuhan ekonomi antardaerah. Penguatan rantai pasok lokal yang menghubungkan industri skala besar dengan usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah menjamin bahwa dampak ekonomi dari masuknya modal asing dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan daerah. Langkah pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan Rupiah merupakan manifestasi nyata dari