Lompat ke konten utama

Kata Papua

Rempang Eco City Mampu Optimalkan Penyerapan Tenaga Kerja - Kata Papua

Rempang Eco City Mampu Optimalkan Penyerapan Tenaga Kerja

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Gita Oktaviani

Pengembangan Rempang Eco City merupakan salah satu upaya tepat pemerintah RI untuk mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja dan daya saing di Batam. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan ekonomi di Batam dan Kepulauan Riau perlahan-lahan mulai naik dan meningkat, sebab hal tersebut maka upaya pengembangan Rembang Eco City menjadi pilihan yang tepat.

Tahun 2022 lalu, pertumbuhan perekonomian di Batam mencapai angka 6,84 persen lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,31 persen saja. Berdasarkan data tersebut, artinya bahwa memang perekonomian di Batam dan Kepulauan Riau terus mengalami peningkatan yang bagus. Peningkatan tersebut apabila diimbangi dengan perkembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam dan Kepulauan Riau menjadi semakin baik.

perekonomian wilayah semenjak pandemi memang harus lebih difokuskan lagi, terutama bagi wilayah yang terdampak. Batam dan Kepulauan Riau berhasil meningkatkan perekonomiannya perlahan-lahan. Akan lebih bijak apabila mempertahankan atau meningkatkannya lebih lagi. Pasalnya memang ada peluang besar di beberapa kawasan Batam dan Kepulauan Riau yang sudah siap untuk menjadi daya saing bagi wilayah asing.

Maka dari itu, pemerintah RI berupaya untuk melakukan pengembangan di beberapa kawasan, salah satunya yakni Kawasan Rempang yang digadang-gadang akan membuka lapangan kerja yang luas. Kawasan Rempang yang disebut dengan Rempang Eco City ini mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat untuk memulihkan perekonomiannya. Pun proyek tersebut juga sudah memiliki gambaran yang jelas dan arahnya mau dibawa kemana. Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu khawatir karena memang kawasan tersebut sangat potensial.
Menyoal perkembangan tersebut mengarah pada kesejahteraan masyarakat Batam dan Kepulauan Riau itu sendiri. Sebab, dengan adanya optimalisasi tersebut, kepastian dan kemudahan berusaha semakin terbuka lebar. Di samping itu, penyediaan tenaga kerja yang terampil (skilled labour) dan beberapa kawasan seperti Rempang, Galang, dan Galang Baru yang akan berjalan ini semakin mempermudah peluang untuk meningkatkan perekonomian wilayah tersebut meningkat.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dalam upaya mendukung pengembangan kawasan tersebut menyelenggarakan acara bertajuk Launching Program Pengembangan Kawasan Rempang KPBPB Batam Provinsi Kepulauan Riau. Dengan adanya pembukaan tersebut diharapkan menjadi langkah awal yang baik untuk mengembangkan Kawasan Rempang sebagai kawasan yang memiliki daya saing yang tinggi.
Kawasan Rempang berpotensi memiliki daya saing tinggi dalam pengembangan tersebut dari sektor industri, pariwisata, hingga jasa. Kendati demikian, Kawasan Rempang dapat menjadi sasaran utama tujuan investasi, khususnya bagi investor-investor asing. Pasalnya, dengan pengembangan dan adanya investasi tersebut, maka peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat juga semakin besar, sehingga pertumbuhan ekonomi wilayah dan regional juga turut terdorong.
Menurut Menko Airlangga Hartarto menyebut bahwa Kawasan Rempang yang diharapkan menjadi poros utama untuk mengembangkan industri, jasa, dan pariwisata itu berada di daerah Batam, Bintan, dan Karimun. Sebab, wilayah tersebut berdekatan langsung dengan Singapura dan Malaysia yang dapat mendorong daya saing tinggi di Kawasan tersebut. Bukan hanya itu saja, Menko juga berharap agar nantinya pengembangan Kawasan Rempang ini dapat memberikan spillover effect di kawasan sekitarnya.
Di sisi lain, Kawasan Rempang menjadikan Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di kawasan Asia Tenggara. Bagaimana tidak, Indonesia sendiri berperan penting di ASEAN Chairmainship tahun 2023 yang menunjukkan bahwa daya saing bangsa kita dapat mendukung produktivitas ekonomi di negara ASEAN yang lain. Oleh sebab itu, proyek strategis nasional ini memang harus segera dirampungkan. Menteri Investasi atau Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa saat ini Indonesia sedang berkompetisi pada dunia global atau Foreign Direct Investment (FDI) terbesar yang ada di negara tetangga. Untuk itu, kita semua berlomba-lomba agar dapat memberikan yang terbaik untuk memulihkan dan meningkatkan perekonomian.
Adapun rencana investasi yang akan digelontorkan oleh PT Makmur Elok Graha secara keseluruhan hingga tahun 2080 kurang lebih mencapai Rp 381 triliun. Pastinya, dengan angka sebesar itu juga diprediksi mampu menyerap kurang lebih sekitar 306.000 tenaga kerja langsung. Rencananya, investasi tersebut akan tersebar ke industri menengah, industri manufaktur dan logistik, kawasan pariwisata terintegrasi, hingga kawasan perumahan dan perdagangan jasa terintergrasi.
Pada tahap pertama hingga tahun 2040 mendatang, akan direalisasikan investasi sebesar 29 triliun dengan menyerap kurang lebih 186.000 tenaga kerja melalui pengembangan industri pariwisata MICE, manufaktur dan logistik, dan kegiatan perumahan perdagangan serta jasa. Sudah jelas bahwa, misi kedepan Kawasan Rempang tentu saja membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Menko Airlangga juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak-pihak terkait dalam perencanaan pengembangan Kawasan Rempang ini. Tujuannya kedepan, Batam yang saat ini melihat Singapura menyala, maka nanti akan berganti menjadi Singapura lah yang melihat Batam menyala. Tentu saja untuk mewujudkan ini semua membutuhkan kerja sama antar pihak dan masyarakat. Karena memang, tujuan yang ingin dicapai yakni untuk menyejahterahkan warga, khususnya Batam dan Kepulauan Riau.

)* Penulis adalah Kontributor Jendela Baca Institut

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata