Lompat ke konten utama

Kata Papua

Survei Terbaru Charta Politika Tunjukkan Pasangan Ganjar-Mahfud Menang Pilpres 2024 - Kata Papua

Survei Terbaru Charta Politika Tunjukkan Pasangan Ganjar-Mahfud Menang Pilpres 2024

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

JAKARTA – Survei terbaru yang dirilis oleh Charta Politika menunjukkan bahwa pasangan Ganjar-Mahfud unggul pada gelaran Pilpres 2024 mendatang.

Charta Politika merilis hasil jajak pendapat terbaru mereka mengenai bagaimana elektabilitas dari ketiga pasangan Capres dan Cawapres yang hendak bertarung pada kontestasi politik mendatang.

Berdasarkan dari hasil survei tersebut itu, diperoleh hasil bahwa duet Ganjar Pranowo dan Mahfud MD berada pada posisi angka elektoral paling tinggi dibandingkan dengan kandidat lainnya.

Charta Politika Indonesia melakukan survei pada 26-31 Oktober 2023 dengan jumlah 2.400 responden di 38 provinsi, menggunakan multistage random sampling dengan margin of error 2 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pasangan yang diusung oleh koalisi PDI Perjuangan tersebut meraih elektabilitas hingga sebesar 36,8 persen.

“Tidak terlalu jauh berbeda, Ganjar-Mahfud ada di 36,8 persen. Prabowo Subianto-Gibran di angka 34,7 persen dan Anies Baswedan-Muhaimin di angka 24,3 persen,” kata Direktur Eksekusi Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Sementara undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan), kata Yunarto, sebesar 3,5%. Yunarto menegaskan, hasil ini masih bisa berubah pada hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Ia menegaskan, potret itu mencerminkan persepsi publik terhadap elektoral kandidat bacapres dan bacawapres yang ada.

“Tetapi ini saat ini apabila pemilu diadakan bagaimana publik merespons dengan sikapnya secara elektoral?” ucap Yunarto.

Bila menilik lebih detail, tren elektabilitas Ganjar mengalami kenaikan pada awal Oktober 2023. Pada 13-17 Oktober 2023 elektabilitas Ganjar sebesar 36,3%.

Sementara elektabilitas Prabowo, juga mengalami kenaikan meskipun tak signifikan. Dari data survei itu, elektabilitas Prabowo 13-17 Oktober 2023 sebesar 35,2% menjadi 35,3% pada 26-31 Oktober 2023.

Sementara itu, dalam rangka mendongkrak angka elektoral pasangan Ganjar-Mahfud di wilayah Jawa Barat, Relawan Kawan Juang GP telah menyiapkan beberapa langkah dan program.

Koordinator kelompok Relawan Kawan Juang GP, Benny Kurniadi mengatakan pihaknya memiliki program penguatan di masyarakat dengan cara melakukan kegiatan Indonesia Sehat yang dihelat secara berkala tanpa terputus.

Menurutnya, apa yang telah digencarkan oleh pihak relawan pendukung Ganjar-Mahfud itu sudah sangat sesuai dengan bagaimana harapan masyarakat.

“Setidaknya apa yang kami lakukan ini merupakan harapan banyak masyarakat di Jabar,” ucap Benny

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda

Oleh: Yusuf Rinaldi Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu peserta pada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun jejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat. Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaran uang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebut dilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiap angkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch kedua menetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketiga dengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November. Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benar memberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkan seluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah. Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikan dukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkan tunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember 2026. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telah bekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebut meningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan. Kemnaker melakukan tracer study setiap tiga bulan untuk memperbarui data tersebut. Penelusuran dilakukan melalui kuesioner kepada alumni dan pencocokan data dengan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, khususnya status sebagai penerima upah. Pemerintah juga masih menelusuri alumni yang sebelumnya ditempatkan di kementerian dan lembaga karena proses rekrutmen pada instansi tersebut memiliki mekanisme tersendiri. Namun, perluasan jumlah peserta juga membuat aspek perlindungan dan kualitas pemagangan menjadi penting. Yassierli menyatakan pemerintah tidak ingin peserta digunakan untuk menggantikan pekerja tetap. Pemagangan harus tetap berada dalam kerangka peningkatan kompetensi, sementara evaluasi dilakukan terhadap peserta, mentor, dan perusahaan. Pemerintah juga melakukan monitoring terhadap beban serta jam kerja peserta untuk memastikan mereka tidak diperlakukan seperti pekerja reguler. Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan bahwa peserta perlu memanfaatkan masa pemagangan untuk membangun kompetensi sekaligus sikap kerja. Menurut dia, kedisiplinan, integritas, profesionalisme, dan kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari bekal yang harus dibangun selama berada di lingkungan kerja. Dengan demikian, pengalaman pemagangan tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesiapan menghadapi tuntutan profesional. Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi W. Sutjipto menilai program Magang Nasional perlu memiliki kesinambungan setelah peserta menyelesaikan enam bulan pemagangan. Menurut Budi, pengalaman magang perlu diikuti mekanisme yang mempertemukan kompetensi peserta dengan kebutuhan lowongan perusahaan. Tanpa pencocokan tersebut, terdapat risiko peserta telah memperoleh pengalaman kerja tetapi masih menghadapi kesulitan ketika harus masuk ke pekerjaan formal setelah program berakhir. Pandangan tersebut menempatkan penyerapan kerja sebagai bagian penting dari evaluasi kebijakan. Jumlah peserta yang besar memang memperluas akses terhadap pengalaman kerja, tetapi dampak ekonominya akan lebih terlihat apabila kompetensi yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan industri dan berlanjut menjadi peluang karier. Karena itu, Magang Nasional dapat dipandang sebagai investasi tenaga kerja muda dengan catatan bahwa keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah peserta. Kualitas pelatihan, relevansi bidang magang, fungsi mentor, perlindungan peserta, pencocokan dengan kebutuhan perusahaan, serta penyerapan setelah program menjadi rangkaian yang menentukan dampak kebijakan. Dengan target 150 ribu peserta pada 2026, pemerintah memiliki ruang