Kata Papua

TNI-Polri Bersinergi Redam Demo, Ajak Masyarakat Waspada Provokasi - Kata Papua

TNI-Polri Bersinergi Redam Demo, Ajak Masyarakat Waspada Provokasi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

TNI-Polri Bersinergi Redam Demo, Ajak Masyarakat Waspada Provokasi

TNI dan Polri menunjukkan sinergi kuat dalam menjaga stabilitas nasional pasca rangkaian demonstrasi yang sempat memicu kerusuhan. Sejumlah kalangan menilai langkah cepat yang ditempuh aparat telah berhasil meredam eskalasi situasi sekaligus menjadi bukti soliditas kedua institusi pertahanan dan keamanan negara.

 

 

 

 

 

 

Organisasi kemasyarakatan Rampai Nusantara menyampaikan apresiasi atas kinerja Polri dalam mengelola situasi krisis.

 

 

 

 

 

 

Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah Semar, menilai keberhasilan Polri dalam mengatasi kerusuhan menunjukkan profesionalisme dan loyalitas institusi terhadap negara.

 

 

 

 

 

 

“Kami mengapresiasi langkah cepat dan terukur Polri dalam menjaga stabilitas nasional karena mengelola situasi krisis bukanlah hal mudah dengan begitu banyak tekanan menerpa dan Kapolri berhasil mengatasinya,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

Semar menambahkan, Polri terbukti terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan internal setelah peristiwa demonstrasi dan kerusuhan. Ia juga menegaskan loyalitas Polri kepada bangsa tidak perlu diragukan.

 

 

 

 

 

 

“Dalam sejarah republik ini, Polri selalu setia kepada bangsa dan negara,” katanya.

 

 

 

 

 

 

Semar juga menyoroti adanya pihak tertentu yang berusaha mendiskreditkan Polri dengan memanfaatkan momentum politik.

 

 

 

 

 

 

“Kami melihat upaya-upaya tersebut berasal dari kelompok berkepentingan secara politik kekuasaan yang tidak merepresentasikan murni aspirasi rakyat. Masyarakat perlu waspada terhadap narasi yang bertujuan memecah belah,” tegasnya.

 

 

 

 

 

 

Hal senada datang dari Koordinator Aliansi Rakyat Peduli Negara (ARPN), Mario, yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan menegaskan bahwa sinergi TNI-Polri adalah benteng kokoh bangsa.

 

 

 

 

 

 

“Harapan kami, TNI dan Polri solid, komitmen kuat melindungi rakyat, dan jangan memberi ruang bagi provokator yang ingin melemahkan persatuan bangsa,” tambahnya.

 

 

 

 

 

 

Konteks internasional juga menjadi perhatian. Demonstrasi besar di Nepal akibat pemblokiran media sosial menjadi contoh bagaimana isu sederhana bisa berkembang menjadi kerusuhan besar hingga mengguncang pemerintahan.

 

 

 

 

 

 

Krisis di Nepal menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa provokasi dapat memperburuk ketegangan sosial. Oleh karena itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen Polri untuk mengawal masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat di muka umum.

 

 

 

 

 

 

“Polri siap mengawal masyarakat yang hendak menyampaikan pendapatnya di muka umum,” katanya.

 

Ia menambahkan, demonstrasi tidak boleh diprovokasi hingga menimbulkan kerugian bagi masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.