Lompat ke konten utama

Kata Papua

Waspadai Provokasi Indonesia Cemas, Pemerintah Pastikan Solusi Berkelanjutan - Kata Papua

Waspadai Provokasi Indonesia Cemas, Pemerintah Pastikan Solusi Berkelanjutan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Syahroni Nasution

Belakangan ini, publik disuguhi narasi “Indonesia Cemas” yang ramai di media sosial maupun aksi demonstrasi jalanan. Narasi ini berkembang dari sekadar kritik sosial menjadi potensi agitasi yang berbahaya bagi stabilitas nasional. Tanpa basis data yang jelas, opini-opini emosional menyebar liar, menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di tengah masyarakat. Dalam situasi semacam ini, pemerintah mengambil langkah taktis dan strategis untuk menjaga ketenangan publik, memperkuat literasi, serta menghindarkan bangsa dari jebakan provokasi yang merugikan.

Kebebasan berpendapat memang dijamin dalam sistem demokrasi. Namun, penyampaian aspirasi semestinya dilakukan secara konstruktif, bukan melalui aksi yang lebih bersifat agitasi daripada edukasi. Narasi “Indonesia Cemas” misalnya, dalam banyak hal terlihat terlalu hiperbolis dan minim landasan ilmiah. Tuntutan-tuntutan yang diajukan pun kerap tidak menyentuh akar permasalahan, melainkan justru menciptakan polarisasi baru di tengah masyarakat.

Pemerintah merespons perkembangan ini bukan dengan pendekatan represif, melainkan melalui penguatan kapasitas literasi publik. Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama berbagai kementerian teknis lainnya aktif menginisiasi program literasi digital dan media, melibatkan tokoh masyarakat, komunitas, kampus, hingga lembaga swadaya masyarakat. Tujuannya tidak lain untuk membangun masyarakat yang cerdas dalam menyaring informasi serta mampu membedakan kritik konstruktif dengan agitasi destruktif.

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi, menilai bahwa gerakan-gerakan emosional yang menjadikan media sosial sebagai alat utama penyebaran gagasan sangat rawan disusupi oleh kelompok anti-konstitusi. Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia tengah berada di fase penting transisi pemerintahan yang memerlukan stabilitas, bukan kegaduhan. Habib Syakur mengajak semua pihak untuk menjaga kewarasan publik dan menjauhkan diri dari retorika yang memecah belah.

Di sisi lain, proses transisi pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan dalam koridor demokratis dan konstitusional. Visi besar Indonesia Emas 2045 tengah dirancang dan disusun melalui pendekatan inklusif, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Proses ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan masyarakat yang tenang, rasional, dan partisipatif.

Peneliti dari Centre for Islamic and Ethnic Studies (CIE), Muhammad Chaerul menegaskan bahwa di tengah situasi seperti sekarang, upaya membangun stabilitas nasional semestinya didukung, bukan dirusak oleh mobilisasi massa yang tidak menawarkan solusi nyata. Menurutnya warga negara justru harus mengawal proses transisi menuju pemerintahan agar berjalan mulus, bukan memperkeruhnya dengan narasi emosional yang membingungkan publik.

Stabilitas merupakan fondasi penting bagi keberhasilan setiap pemerintahan. Tanpa stabilitas, berbagai program kesejahteraan, infrastruktur, pendidikan, hingga transformasi digital akan terhambat. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap rakyat itu sendiri. Oleh sebab itu, pemeliharaan iklim sosial yang kondusif menjadi kebutuhan bersama, bukan semata tanggung jawab pemerintah.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, muncul pertanyaan apakah idealisme masih menjadi fondasi utama, ataukah telah tergantikan oleh kepentingan politik pragmatis. Hasan, seorang aktivis dari Corong Rakyat, menyoroti bahwa sebagian besar gerakan yang mengusung tagar “Indonesia Cemas” tampak lebih dipicu oleh emosi dan opini viral daripada kajian akademik. Ia mengkritik bahwa gerakan mahasiswa masa kini mulai kehilangan arah, berubah menjadi alat politik dan kehilangan identitas sebagai kelompok intelektual kampus.

Pemerintah tidak menutup mata terhadap keresahan masyarakat. Justru, kanal komunikasi publik terus dibuka luas melalui forum-forum diskusi, seminar, dan dialog bersama masyarakat sipil. Forum-forum ini menjadi ruang dialog yang produktif, menggantikan keramaian di jalanan atau narasi sesat di media sosial.

Selain itu, program literasi digital yang digagas oleh pemerintah tidak berhenti pada penyuluhan semata. Kegiatan ini diperkuat dengan pelatihan dan pelibatan aktif generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, untuk menjadi agen literasi di komunitasnya. Hal ini penting agar daya tahan masyarakat terhadap hoaks, disinformasi, dan provokasi semakin kuat.

Kritik yang sehat tetap dibutuhkan dalam dinamika demokrasi. Namun, kritik yang bernilai adalah yang menyuguhkan data, solusi, dan disampaikan melalui cara yang bermartabat. Demokrasi bukanlah panggung kebisingan, melainkan forum rasional untuk mencari solusi. Pemerintah pun tidak menutup telinga terhadap suara publik, selama disampaikan dalam bingkai kepatuhan hukum dan etika publik.

Di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, bangsa Indonesia tengah diarahkan menuju lompatan besar menyongsong 100 tahun kemerdekaan. Tantangan besar akan dihadapi bersama, dari ketahanan ekonomi hingga transformasi sosial. Untuk itu, diperlukan sinergi seluruh elemen bangsa, bukan fragmentasi akibat narasi provokatif.

Sudah saatnya masyarakat mengambil peran aktif dalam pembangunan dengan cara yang sehat. Menjaga ruang publik tetap rasional, memperkuat literasi, dan menyalurkan aspirasi melalui jalur yang sah adalah langkah bijak dalam mengawal bangsa ini menuju masa depan yang gemilang. Pemerintah telah menunjukkan keseriusannya dalam menghadirkan solusi berkelanjutan, tinggal bagaimana publik menanggapi dengan kedewasaan dan tanggung jawab. Jangan biarkan provokasi menguasai narasi kebangsaan. Saatnya bersatu demi Indonesia yang lebih tenang, stabil, dan maju.

)* Penulis adalah seorang Pengamat sosial

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata