Lompat ke konten utama

Kata Papua

Relawan Saga Bekasi Ajak Pelaku UMKM Dukung Ganjar Pranowo sebagai Presiden 2024 - Kata Papua

Relawan Saga Bekasi Ajak Pelaku UMKM Dukung Ganjar Pranowo sebagai Presiden 2024

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

BEKASI — Relawan Sahabat Ganjar (Saga) di Bekasi mengajak kepada para pelaku UMKM untuk mendukung penuh Capres PDI Perjuangan Ganjar Pranowo sebagai Presiden tahun 2024 mendatang.

Barisan kelompok relawan itu terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, salah satunya melalui acara seminar digital marketing.

Peserta dari sosialisasi tersebut adalah para pelaku UMUM, yang mana mereka juga mengenakan kaus dengan garis hitam dan putih bergambar wajah Ganjar Pranowo.

Ketua DPC Saga Kota Bekasi, Suseno Bimo Kuncoro menjelaskan bahwa tujuan kegiatan itu juga sekaligus mensosialisasikan sosok pemimpin berambut putih itu secara luas.

“Sahabat Ganjar ingin mengajak masyarakat berkolaborasi dan semangat buat mendukung Bapak Ganjar Pranowo menjadi Indonesia tahun 2024,” ujar.

Sosok Ganjar Pranowo sendiri merupakan seorang pemimpin masa depan bangsa yang sangat peduli dengan rakyat kecil dan penuh kesederhanaan.

Bahkan dirinya tidak canggung untuk menginap di salah satu rumah warga penerima bantuan, hanya demi bisa memastikan apakah program bantuan penanggulangan kemiskinan yang dia laksanakan berjalan lancar ke tengah masyarakat atau tidak.

Banyak diantara warga Kabupaten Pati kemudian menyambut dengan sangat antusias kedatangan Gubernur Jateng itu.

Salah satu warga mengungkapkan kepada Noviana (26), selaku warga yang rumahnya dibuat menginap oleh Ganjar Pranowo, bahwa dia sangat beruntung.

“Beruntung kowe nduk, omahe diinepi Pak Ganjar (beruntung sekali kamu nak, rumahnya diinapi Pak Ganjar)” kata beberapa warga padanya.

Noviana sendiri mengaku dirinya sangat tidak menyangka karena ternyata ada pemimpin yang sangat merakyat seperti Ganjar, bahkan dengan rela sampai menginap ke rumahnya dengan penuh kesederhanaan.

“Waktu dapat kabar Pak Ganjar mau menginap, saya ndredek (gemetar) dan nggak percaya. Mimpi apa saya semalam, kok bisa ada pemimpin mau tidur di sini bersama rakyatnya. Wah, pokoknya nggak tahu harus ngomong apa,” ucapnya.

Sementara itu, Capres PDI Perjuangan itu sendiri mengaku bahwa dirinya juga sangat senang karena bisa menjadi semakin dengan dengan rakyatnya sembari mendengarkan seluruh curhatan mereka.

“Sambutan masyarakat luar biasa. Saya sangat senang karena bisa makan malam, ini sarapan pagi sambil mendengar curhatan warga secara langsung,” kata Ganjar.

Baginya, dengan cara demikian justru sangat efektif untuk bisa secara langsung melihat bagaimana persoalan yang dialami masyarakat sekaligus mendengar seluruh aspirasi mereka.

“Tradisinya gampang, kalau kita bisa ngobrol dengan warga, mendengarkan curhat warga, maka keluar semua. Beberapa problem disampaikan dan coba kita selesaikan. Saya senang dan berterima kasih karena sudah diterima di sini dengan senang hati,” pungkasnya.

****

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Mitigasi Erupsi Harus Berbasis Data, Bukan Ketakutan dan Informasi Liar

Oleh : Radjiman Arif Aktivitas vulkanik kembali mengingatkan Indonesia bahwa hidup di kawasan cincin api menuntut kesiapsiagaan yang tinggi. Namun, kesiapsiagaan tidak sama dengan kepanikan. Ketika erupsi terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan agar setiap langkah perlindungan diri dilakukan berdasarkan kondisi nyata, bukan ketakutan yang dipicu oleh kabar yang belum terverifikasi. Situasi terkini terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan pentingnya prinsip tersebut. Erupsi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan dampak berupa sebaran abu vulkanik dan gangguan terhadap sejumlah aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan. Pemerintah bersama lembaga kebencanaan dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan serta langkah mitigasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Dalam kondisi seperti ini, arus informasi di media sosial menjadi tantangan tersendiri. Video lama dapat kembali beredar seolah-olah merupakan kejadian terbaru, sementara spekulasi mengenai potensi bencana lanjutan dapat menyebar lebih cepat dibandingkan informasi resmi. Padahal, informasi yang keliru dapat memicu kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan mendorong munculnya tindakan yang justru membahayakan keselamatan. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan bahwa masyarakat perlu tetap tenang dan mengikuti perkembangan berdasarkan data resmi. Kekhawatiran terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau memang menjadi perhatian pemerintah, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Namun, setiap penilaian risiko harus didasarkan pada hasil pemantauan dan analisis lembaga yang memiliki kewenangan. Berton menjelaskan bahwa pemerintah terus memantau aktivitas gunung api melalui koordinasi BNPB, PVMBG, BPBD, dan unsur terkait. Berdasarkan evaluasi kondisi terkini, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai isu ancaman tsunami. Pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan jalur evakuasi, sarana komunikasi, titik kumpul, serta langkah perlindungan masyarakat dapat digunakan apabila terjadi perubahan kondisi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa mitigasi bencana yang baik harus berjalan dalam dua arah: pemerintah wajib memberikan informasi secara cepat dan terbuka, sementara masyarakat perlu memiliki disiplin untuk mengakses sumber resmi. Kewaspadaan harus tetap tinggi, tetapi tidak boleh berubah menjadi ketakutan tanpa dasar. Data menjadi pembeda antara kesiapsiagaan yang rasional dan kepanikan yang tidak produktif. Pelajaran serupa terlihat dalam penanganan informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, sebelumnya mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video erupsi yang beredar di media sosial. Setelah dilakukan penelusuran, video tersebut dipastikan tidak sesuai dengan kondisi terkini berdasarkan data pemantauan resmi aktivitas Gunung Semeru. Menurut Isnugroho, penyebaran informasi kebencanaan yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Karena itu, publik perlu membiasakan diri melakukan pengecekan sebelum membagikan konten. Dalam situasi bencana, satu video yang salah konteks dapat menciptakan persepsi bahwa ancaman sedang berlangsung, padahal kondisi sebenarnya mungkin telah berubah atau tidak sesuai dengan narasi yang beredar. Kasus tersebut menjadi bukti bahwa mitigasi modern tidak hanya berkaitan dengan pemantauan gunung api dan kesiapan evakuasi. Mitigasi juga menyangkut pengelolaan informasi. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam melakukan klarifikasi secara cepat agar informasi keliru tidak berkembang menjadi kepanikan yang lebih luas. Tantangan komunikasi kebencanaan juga terlihat di Jakarta setelah adanya informasi mengenai kemungkinan paparan abu vulkanik. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya mengikuti informasi dari lembaga resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum melalui proses verifikasi. Menurut Chico, masyarakat perlu menjadikan informasi dari BMKG, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah sebagai rujukan utama. Sikap tersebut penting agar warga dapat mengambil langkah yang sesuai dengan kondisi sebenarnya, termasuk menggunakan perlindungan diri apabila diperlukan, tanpa terpengaruh oleh narasi berlebihan yang beredar di media sosial. Kehadiran pemerintah dalam menghadapi erupsi tidak hanya terlihat melalui penanganan dampak fisik, tetapi juga melalui penguatan komunikasi publik. Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, BMKG, dan PVMBG menjadi fondasi penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang sama dan tidak tersesat oleh kabar liar. Indonesia membutuhkan budaya mitigasi yang berbasis data. Masyarakat harus memahami bahwa informasi resmi dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas gunung api. Karena itu, mengikuti pembaruan secara berkala jauh lebih penting daripada mempercayai satu unggahan viral yang belum jelas sumbernya. Pada akhirnya, bencana alam memang tidak selalu dapat