Lompat ke konten utama

Kata Papua

AMANAH Aceh Kembali Diluncurkan, Kolaborasi Strategis Kian Terbangun - Kata Papua

AMANAH Aceh Kembali Diluncurkan, Kolaborasi Strategis Kian Terbangun

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Rika Prasatya

Program Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) kembali diluncurkan sebagai upaya memperkuat peran generasi muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Aceh. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi program pembinaan, tetapi berkembang sebagai gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga sektor swasta.

Peluncuran kembali AMANAH menjadi momentum penting untuk mempertegas komitmen bersama dalam membangun ekosistem kewirausahaan muda yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini dirancang untuk memberikan ruang bagi anak muda Aceh dalam mengembangkan potensi di berbagai sektor, seperti UMKM, industri kreatif, hingga inovasi berbasis digital.

Peran lembaga keuangan, khususnya Bank Indonesia, menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan program ini. Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng. telah mengadakan pertemuan dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini yang membahas peluang sinergi dalam mengoptimalkan berbagai fasilitas dan program pemberdayaan ekonomi yang dimiliki AMANAH di Kawasan Industri Ladong.

Perwakilan Bank Indonesia menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan generasi muda melalui berbagai program pembinaan dan fasilitasi. Mereka menilai AMANAH sebagai wadah strategis untuk mencetak wirausaha muda yang tangguh dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dalam pernyataannya, pihak Bank Indonesia menegaskan bahwa dukungan terhadap AMANAH merupakan bagian dari upaya memperluas basis ekonomi daerah melalui pemberdayaan generasi muda. Mereka juga secara aktif mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha muda agar mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar dan teknologi.

Selain dukungan dari Bank Indonesia, kolaborasi dengan sektor perbankan syariah juga semakin diperkuat. AMANAH menggandeng Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM dan wirausaha muda. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada aspek permodalan, tetapi juga mencakup pendampingan usaha, literasi keuangan, serta penguatan manajemen bisnis.

Pihak AMANAH secara aktif menyatakan bahwa kolaborasi dengan BSI menjadi langkah strategis dalam membangun fondasi ekonomi yang kuat bagi generasi muda Aceh. Mereka menilai dukungan perbankan syariah sangat relevan dengan karakteristik masyarakat Aceh, sehingga dapat mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan sesuai dengan prinsip syariah.

Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, menyatakan pihaknya menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut dan terbuka bekerja sama sepanjang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, BSI menjalankan tiga semangat utama dalam program pemberdayaan, yakni Sahabat Finansial, Sahabat Spiritual, dan Sahabat Sosial, sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis nilai syariah.

Direktur AMANAH, Safwan Nurdin, menegaskan bahwa pihaknya terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak program. Ia menyampaikan bahwa AMANAH tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor agar mampu menciptakan perubahan yang signifikan.

Dukungan pemerintah daerah juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program ini. Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menyatakan bahwa pemerintah siap menyinergikan program AMANAH dengan kebijakan pembangunan daerah. Ia menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pembangunan ekonomi, khususnya di sektor kreatif.

Pihaknya ingin generasi Aceh Besar menjadi generasi unggul dan hebat. Mereka harus kreatif, inovatif, dan tetap memiliki nilai-nilai budaya serta keislaman yang kuat. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mendorong pemanfaatan fasilitas dan program yang ada agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, AMANAH memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan sektor lain, seperti pertanian modern dan industri berbasis lokal.

Lebih jauh, Muharram menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan wirausaha muda. Ia menyebut bahwa keberhasilan program seperti AMANAH sangat bergantung pada kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dengan semakin luasnya jaringan kerja sama yang terbangun, AMANAH kini berkembang menjadi lebih dari sekadar program pembinaan. Ia telah menjadi simbol gerakan kolektif untuk membangun kemandirian ekonomi generasi muda Aceh. Pendekatan kolaboratif yang diusung memungkinkan terciptanya inovasi yang lebih relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Ke depan, AMANAH diharapkan mampu terus memperluas jangkauan program, baik dari sisi peserta maupun sektor yang digarap. Dengan dukungan berbagai pihak, program ini diyakini dapat melahirkan lebih banyak wirausaha muda yang tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah.

Peluncuran kembali AMANAH menandai babak baru dalam perjalanan pengembangan ekonomi kreatif di Aceh. Dengan semangat kolaborasi yang semakin kuat, program ini diharapkan menjadi katalisator bagi lahirnya generasi muda yang unggul, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

)* Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka 

Oleh: Rania Zafirah Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat. Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program. Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait. Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan. Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas. LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan. Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program. Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama. Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi. Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR. Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar. Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya. Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik. Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan. Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata